QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BERPISAH



Setelah satu minggu di rumah sakit, Ratu sudah diperbolehkan pulang. Membawa bayi perempuannya untuk kembali ke Kastil.


Kedatangan Ratu di sambut oleh banyak orang hingga, ucapan selamat memenuhi Kastil.


Raja paling bersemangat menyambut adiknya sampai ditarik dari gendongan Papanya. Rain hanya menegur lewat tatapan.


"Cantiknya adik Raja, wajahnya mirip Raja." Kedua tangan Raja menyentuh wajahnya merasa sangat gemas.


Ratu mengendong Langit yang sangat tenang, berbeda jauh dengan Pelangi yang tidak bisa diam


Berkali-kali tangannya dikeluarkan, menolak mengunakan baju yang membuatnya kesulitan bergerak.


"Nona, bagaimana rasanya menjadi seorang ibu?" Lilis duduk di samping Ratu yang menggendong putranya.


"Emh, sejauh ini lelah. Langit anak yang sangat tenang, tapi Pelangi tidak memberikan aku waktu untuk tidur." Ratu geleng-geleng kepala, setidaknya dirinya merasa lega memiliki suami seperti Rain yang sangat pengertian.


Dia bukan hanya sigap soal kondisi Ratu, tapi anak-anaknya. Rain memperhatikan Pelangi juga Raja secara bersamaan tanpa membedakan.


"Aku juga salut kepada Rain, berharap kehidupan anak-anak akan tenang, tidak seperti kita yang memiliki jalan menyeramkan." Lilis menatap Putranya yang asik tidur setelah kenyang menyusu.


Teriak Pelangi terdengar, Ratu masih duduk santai karena tahu bayinya suka mengamuk tanpa sebab penyebab.


Ratu menggedong bayinya yang diserahkan oleh perawat, mencubit pelan pipinya langsung tidur.


"Kenapa dia teriak?"


"Tuan muda Raja mengecup pipinya berkali-kali membuatnya risih." Perawat diminta menjaga Pelangi, dan satu lagi perawat menjaga langit.


Ratu menerimanya tinggal di kastil karena sudah menyelamatkan Ratu saat lahiran, dan khusus menjaga Pelangi yang terlihat nakal.


"Ratu lihat, dia mengeluarkan tangan lagi." Tawa Lilis terdengar menatap Pelangi yang menggerakkan tangannya.


Senyuman Ratu terlihat mengecup pipi Putri yang sangat dicintainya, sosok gadis kecil yang menjadi buah cintanya.


Selesai acara sambutan Ratu membawa Pelangi ke kamarnya karena Rain dan Raja yang menerima tamu.


Hadiah untuk Pelangi di kuasai oleh Raja, semua barang yang di dapat memiliki nilai tinggi karena Rain kedatangan tamu dari beberapa negara.


"Tuan muda itu bukan punya kamu," tegur Lion.


"Raja hanya cek-cek saja siapapun tahu ada bahaya." Raja mengeluarkan semua kado.


Beberapa baju Pelangi dan Langit dipisahkan, Raja mengambil mainan apapun yang menurutnya bagus.


Tidak ada yang berani menegur Raja, jika menemukan sejumlah uang langsung dibuang, Lion tepaksa memunguti ulah Tuan mudanya.


"Apa yang kamu lakukan Raja, sudah makan belum?" tanya Ratu yang baru keluar.


"Sudah," jawab Raja tanpa menoleh.


Ratu melangkah keluar bersama Lilis, beberapa orang yang sedang menikmati makanan membungkukkan kepalanya melihat Ratu akhirnya keluar.


"Selamat datang semuanya," sapa Ratu.


"Selamat atas kelahiran Putri tercinta Nona Ratu," ujar orang-orang yang berkumpul.


Kepala Ratu mengangguk, melihat banyak pengawal yang berjaga. Rain juga duduk santai bersama Kris menyambut para rekan kerjanya yang akan terlibat dalam pembangunan proyek.


"Nona Ratu selamat ya, Nona Lilis juga. Kalian dua orang yang sangat dihormati, tidak menyangka memiliki anak juga secara bersamaan." Seorang wanita menyapa Ratu, ada banyak pengawal yang mengelilinginya.


Kepala tertunduk meminta beberapa pengawal berjaga di luar. Ratu tersenyum sinis mempersilahkan.


Sebelum Ratu bicara, Rain sudah memberikan peringatan jika tidak ada yang boleh melihat wajah anaknya.


"Mama, lihat Raja dapat ini," teriakkan Raja terdengar.


Ratu dan Rain menatap tajam, sebelum banyak orang yang melihat ke arah Raja, Lion lebih cepat menutupi tubuhnya.


"Bawa dia masuk Lion!" bentak Rain melirik ke arah Ratu yang langsung berjalan masuk menemui putranya.


Mata Raja ditutup oleh Lilis, pukulan kuat Ratu menghantam wajah Lion karena tidak bisa menahan Raja.


"Sudah aku katakan, tidak ada yang boleh melihat wajah anak-anakku," ujar Ratu dengan nada dingin.


"Mama maafkan Raja, jangan salahkan Paman Lion, ini salah Raja Ma," pinta Raja memohon.


"Ini peringatan untuk kamu Raja, melawan peraturan maka pengawal pribadi kamu yang mendapatkan hukuman, dan satu hal lagi dia hanya pengawal, kamu harus memiliki batasan. Ingat, tuan dan pengawal itu berbeda."


Kedua tangan Raja memeluk Paman Lion, Raja tidak ingin melepaskan sedikitpun karena merasa bersalah.


"Saya baik-baik saja Tuan muda, sebaiknya Tuan muda beristiahat." Lion menggedong Raja kembali ke kamarnya.


Rain mendengar ucapan Ratu yang tidak seharusnya, meksipun status berbeda, tetap saja sama sebagai manusia.


"Ratu, jangan bandingkan kasta di sini. Aku tahu kamu ingin melindungi Raja, tapi jangan pernah menunjukkan kekerasan. Jika Raja yang salah maka pukul dia jangan Lion," jelas Rain karena tidak ingin putranya menjadi seseorang yang ketergantungan.


"Bagaimana mungkin aku bisa memukul Raja?"


"Jika dia salah maka harus, tidak peduli Raja atau Pelangi jika ucapan dan teguran tidak bisa mereka terima maka harus tahu konsekuensinya. Tidak ada orang tua yang tidak sayang anak, tapi kita harus tegas kepada mereka." Rain melangkah ke kamar Raja meminta maaf kepada Lion atas tindakan Ratu, padahal Raja yang sulit diatur.


Tangisan Raja terdengar, dirinya tidak tahu jika kemunculannya berakibat fatal, Raja hanya ungu menujukkan sesuatu kepada Mamanya.


"Mulai besok, Paman Lion tidak akan ada di Kastil lagi, kalian tidak akan bertemu." Rain tidak suka Raja terlalu semena-mena.


"Jangan Papa," pinta Raja memohon.


"Paman memang bukan orang tua kamu, tapi dia lebih tua dan memiliki pengalaman yang besar. Apa yang Paman larang demi kebaikan Raja, apalagi memegang tanggung jawab yang Papa perintah. Apapun yang Paman Lion perintah, sama dengan perintah Papa." Rain meminta Lion pergi mengantar para tamu yang akan keluar dari perbatasan.


Tangisan Raja terdengar mengejar Lion yang melangkah pergi setelah mendapatkan perintah. Kedua tangan Raja menutup mulutnya karena merasa bersalah.


Pelukan Raja erat kepada mamanya, memohon agar Paman tidak diusir dari Kastil. Raja berjanji tidak akan melanggar perintah lagi.


"Mama," panggil Raja.


"Iya sayang. Nanti Mama akan bicara dengan Papa. Berjanjilah kepada Mama jika Raja akan menjadi anak lelaki yang hebat dan tanggung." Jari kelingking keduanya bertemu saling mengucap janji.


Ratu berjanji Raja akan bertemu Paman Lion kembali setelah berusia sepuluh tahun. Rain mengirim Lion untuk menjalankan tugasnya menjaga keamanan.


"Lama sekali, Raja tidak bertemu empat tahun." Tangan Raja terangkat menujukkan jarinya.


"Ya, selama empat tahun itu Raja buktikan kepada Mama dan Papa jika sudah menjadi anak lelaki yang hebat. Saat kamu sudah siap, Papa pasti akan menunjukkan kamu dihadapan banyak orang dengan penuh rasa bangga." Ratu memeluk putranya karena Rain memutuskan untuk memisahkan Raja dan Lion agar tahu rasanya kehilangan.


***


follow Ig Vhiaazaira