QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
SAUDARA



Suara Ratu meringis kesakitan terdengar, hatinya terasa disayat mengingat ucapan Rain, Ratu hanya bisa menatap Rain yang tidur di sisinya. Hal yang sangat mengejutkan saat Rain mengatakan jika Putri Adiknya.


Wanita yang membuang Rain saat bayi ternyata ibu tiri Ratu, wanita yang terlihat tenang namun menjadi pemilik hati Albert.


"Tidak ada alasan lagi aku ada di sini, bahkan kemunculan kamu juga sangat menyakitkan Rain." Ratu mengusap air matanya yang secara tiba-tiba menetes.


Ratu mengusap wajah Rain, mengecup keningnya pelan. Pria hebat yang terlihat tenang namun tahu segala. Rain mengikuti jejak Ibunya, terlihat tidak jahat namun sangat licik juga mematikan.


Perlahan Ratu turun dari ranjang, meninggalkan Rain untuk selamanya karena keberadaannya terlalu menyakitkan.


Di depan kaca tatapan mata Ratu merah, tangannya tergempal kuat karena dia akan melenyapkan Albert tanpa sepengetahuan Rain.


"Kamu ingin menyelematkan Sinta, sayangnya aku akan melenyapkannya." Ratu menutup pintu perlahan meninggalkan kediaman Rian yang berada di tengah hutan.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Ratu berlari melawan malam. Suara binatang apapun tidak membuatnya takut.


"Di mana kamu Lis?"


"Ada di hotel," balas Lilis melalui panggilan.


"Tinggalkan hotel sekarang, kumpulkan semua pasukan kita karena malam ini kita akan menyingkirkan seluruh orang yang bersangkutan dengan Albert." Ratu melihat satu mobil berhenti di hadapannya.


Seorang pria keluar, tubuhnya besar kekar, lebih terlihat seperti monster. Ratu melangkah masuk mobil untuk menyerang pasukan Albert yang Ratu ketahui sedang ada di hotel.


"Aku hanya meminjam ponsel kamu untuk berkomunikasi dengan Sinta," ucap Ratu menatap ponsel Rain.


Pesan dari Sinta masuk menanyakan keadaan Rain, dari pesan Ratu melihat detail penjelasan Sinta jika Ratu sebenarnya Felisha Putri utama Albert.


Rain harus menjauhi Ratu karena dia seorang psikopat, dari kecil dia sudah membantai banyak orang.


"Aku akan membunuhmu." Ratu mengirimkan pesan suara meminta Sinta menyambut kedatangannya karena kali ini orang yang akan Ratu singkirkan bukan hanya Albert namun istri dan anaknya.


Hotel sudah dikepung oleh bawahan Ratu, bodyguard Albert yang berjaga hanya bisa diam karena Ratu mendatangkan pasukannya, Tidak mungkin ada yang mampu melawan karena orang yang bekerja di bawah perintah Ratu penjahat kelas atas.


"Albert, aku datang. Kamu ingin bicara secara kekeluargaan atau kita saling bantai?" Ratu melangkah masuk bersama Lilis yang mendampingi.


"Lebih baik kamu masuk dan kita bicara." Albert melangkah ke dalam hotel diikuti oleh Ratu dan Lilis yang memiliki tatapan tajam.


Di ruangan kosong, Lilis mengecek sekitar ruangan karena tidak ada yang tahu jika Albert menyiapkan serangan.


"Kamu sudah menghacurkan mansion, bom kupu-kupu buatan kamu meledak di segala tempat, sekarang apa lagi?" Albert tidak ada urusan apapun dengan Ratu.


"Kamu sudah menerima pesanku?" tanya Ratu sambil tersenyum manis.


Kepala Albert menggeleng, dia tidak melakukan komunikasi dengan siapapun karena putranya terluka dan melakukan perawatan khusus.


"Elisha sudah tidak ada Pi, dia sudah meninggal sesuai keinginan Papi. Sia-sia Ratu datang ke sini karena pada akhirnya tidak bisa menyelematkan Putri." Ratu duduk didepan Albert, menatap wajah pria yang tidak berekspresi.


Wajah Albert tidak menunjukkan ekspresi apapun, dia hanya duduk diam menatap Ratu. Kabar meninggalnya Putri tidak mengubah apapun.


"Maaf Papi Ratu, kamu harus mengerti tujuan Papi ingin kamu menghancurkan keluarga Petro, dan kamu sudah melakukannya."


"Kenapa Papi membunuh Putri dengan racun?"


Tangan Ratu memukul dadanya, Albert harus menjelaskan alasan dirinya juga diasingkan. Ratu berhak tahu mengapa Felisha Ratu Albert dianggap mati.


Senyuman kecil Albert terlihat, dia tidak bermaksud membuat Ratu dianggap mati, tapi apa yang pernah Ratu lakukan merusak nama baik Albert sehingga Ratu harus dirinya buang.


"Ratu, Papi sangat menyayangi kamu, tapi terima keadaan ini jika kita harus berada di tempat yang berbeda. Papi punya alasan membenci Putri, dia bukan darah daging Papi." Albert memiliki bukti jika hasil tes DNA Albert dan Putri berbeda.


Dia memang tidak salah, tapi dua orang yang membawanya ke dunia yang bersalah sehingga harus menanggung dosa kedua orangtuanya.


Ratu tidak akan paham jalan hidup yang Albert ambil, dia hanya ingin menjaga keutuhan dan kejayaan bisnis. Tidak ada tujuannya membuang anak, tapi hanya menyingkirkan luka.


"Papi memiliki Alip untuk meneruskan keluarga kita, saudara kandung kamu hanya Alip. Dia adik satu-satunya kamu," ucap Albert ingin Ratu mengenal dekat Adiknya.


"Tidak, adikku hanya Elisha Putri, dia satu-satunya saudaraku." Kepala Ratu menggeleng tidak perduli dengan masa lalu Albert paling penting kematian Albert.


Ratu mendekatkan wajahnya menyatakan jika dirinya ingin menghabisi Albert juga keluarga bahagianya.


Hubungan darah antara Ratu dan Albert akan segera putus, Ratu tidak terima dengan kematian ibunya juga adiknya.


"Oh iya satu lagi, kamu tahu jika Sinta memiliki seorang putra, dari lelaki lain atau memang anak kalian?" Ratu menatap wajah Albert yang terlihat kaget.


Ternyata Albert tidak tahu jika Sinta memiliki Putra yang seumuran dengan Ratu, anak terdahulu Sinta sebelum menjadi istri Albert.


"Kamu mencoba memprovokasi? tidak mungkin Sinta memiliki anak lain apalagi seumuran kamu?" senyuman sinis Albert terlihat karena tidak akan percaya dengan apapun yang diucapkan.


"Bagaimana jika benar? ternyata Sinta sudah membohongi kamu." Tawa Ratu terbahak-bahak merasa lucu dengan Albert yang begitu percaya kepada istrinya.


Albert berdiri dari duduknya, berjalan ke arah kamar tempat Sinta berada. Ratu melangkah pelan mengikuti Albert yang nampak marah.


"Nona, memangnya siapa putra Sinta?"


"Rain, dia putranya Sinta yang dibuang saat bayi, tapi aku sangat yakin jika Sinta begitu menyayangi Rain." Ratu menatap Lilis yang sangat terkejut hingga tidak bisa berkata lagi.


Teriakkan Albert terdengar, meminta dokter yang menjaga Putranya keluar. Meminta Sinta mendekatinya.


Wajah Sinta memang tidak bersemangat karena memikirkan Rain yang bisa berurusan dengan Ratu. Putranya berada dalam bahaya karena mengikuti gadis psikopat.


"Sinta! apa benar kamu memiliki seorang Putra?!" Albert menarik lengan Sinta agar mengatakan tidak.


Kepala Sinta menggeleng, dia tidak mengerti maksud ucapan Albert karena selama ini dirinya selalu berada di rumah, menuruti apa yang Albert inginkan.


"Ayolah Mami tiri, katakan jika aku memiliki saudara lelaki. Kira-kira kita kandung atau tiri? dia anaknya Albert atau ada pria lain?" tanya Ratu memancing keadaan sehingga semakin panas.


Tatapan Albert begitu tajam dan menakutkan, Sinta hanya bisa menggeleng tidak membenarkan ucapan Ratu tidak mengakui jika memiliki putra.


"Kamu mempercayai Ratu, dia seorang penjahat. Apa ada pejahat yang bicara jujur, dia bukan lagi putrimu, tapi pengkhianatan yang akan menghacurkan kita." Tatapan mata Sinta tajam ke arah Ratu yang tersenyum manis.


***


follow Ig Vhiaazaira