QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
HIDUP BERSAMA



Pukulan kuat menghantam pemuda tinggi yang membawa Raja berkeliling hutan sampai tubuh Raja kotor dan penuh goresan luka.


Tangan Ratu berdarah setelah membuat hidung dan mulut pemuda di hadapannya mengeluarkan darah.


"Aku hanya menjalankan perintah, kamu menurunkan perintah untuk membunuh keluarga di foto, tidak ada perintah hanya wanitanya saja," ucap pemuda yang masih berdiri tegak.


"Ada perintah pertarungan di gedung hitam, lalu kenapa lamu tidak mengikutinya?" tanya Ratu yang todak menyukai seseorang yang melewati orang lain.


Hanya karena perintah datang dari Lilis yang berada di bawah Ratu sehingga dianggap tidak penting, merasa paling hebat dan kuat seorang diri.


"Terlalu membuang waktu untuk bertarung, aku tidak menyukainya."


"Siapa kamu, aku tidak peduli kamu suka atau tidak. Buktikan jika kamu unggul dalam petarung, atau kamu lari karena tahu tidak mampu mengatasi pembunuh bayaran yang lain?" Tawa Ratu terdengar, petarung sesungguhnya dia yang memberantas siapapun tanpa takut mati.


"Raja sama Papa juga Om Kris takut mati, kita bertiga tidak bisa bertarung jadinya takut mati." Tawa Raja terdengar mengejek dirinya sendiri.


Lirikan mata Rain tajam ke arah Raja yang terlalu jujur, seharusnya dia tidak perlu mengatakannya apalagi dengan begitu percaya dirinya pamer tidak bisa bertengkar.


"Anak ini kembali ke tangan kamu dalam keadaan hidup, aku bisa pergi sekarang," pamit Pemuda masih menghormati Ratu yang lebih tua darinya.


"Kenapa kamu mengikuti sayembara ini?" tanya Lilis yang melangkah mendekat, tahu jika dirinya pernah melukai Ratu sehingga patut diragukan.


Tidak ada alasan yang diberikan, percuma saja bicara karena tidak akan bisa bergabung dengan pasukan Ratu.


"Aku mengatakan siapapun yang menang akan bergabung bersama kami, maka berikan alasan kamu ingin mengetahui soal kami?"


"Aku hanya ingin kembali ke tanah kelahiran. Aku lahir di sana dan ingin melihat tempat itu."


Suara Lilis tertawa terdengar, hanya karena ingin kembali setelah delapan tahun meninggalkan tempat karena pembunuhan keluarga. Alasan yang tidak masuk akal, tapi Lilis suka dengan pemuda yang tidak punya tujuan hidup yang baik.


Langkah Ratu mendekati Raja yang masih duduk. Tangan Ratu terulur memintanya untuk pulang.


"Mau susu lagi." Raja memberikan botol susunya kepada Ratu.


Kepala Krisna tertunduk menahan tawa karena seorang Ratu diminta membuat susu. Raja memang tidak ada tempat takutnya.


"Mama jangan sakiti Paman Lion, Raja menyukainya. Raja tadi tengelam di sungai, Paman yang menolong Raja. Mulai sekarang Raja harus belajar berenang biar tidak tenggelam lagi." Senyuman Raja terlihat memeluk Ratu yang juga memeluknya erat.


Tangan Ratu lembut mengusap punggung Raja, dirinya pernah gagal membawa Raja keluar dan menyelamatkan, tapi kali ini dirinya tidak ingin melakukan hal yang sama.


Rain membukakan tubuhnya mengucapkan terima kasih kepada Lion karena sudah menyelamatkan putranya meskipun Rain tahu jika Lion hampir gila mengatasinya.


"Raja pasti menyusahkan kamu, jangan coba-coba menculiknya karena hidup kali akan menderita," pesan Rain agar Lion memaafkan Raja.


"Anak itu nakal, tidak bisa diam. Dia bisa lompat dan lari seperti monyet, tidak takut bahaya. Menjaganya harus memiliki banyak nyawa." Lion pamit tetap memutuskan pergi kembali ke wilayahnya.


Senyuman Rain sinis, meskipun Raja sangat nakal tidak harus diperjelas. Rain jauh lebih mengenal Raja dibandingkan siapapun.


"Ayo kita pulang, Raja lapar." Langkah Raja lebih dulu seakan dia tahu jalan.


Rain menggendong Raja yang terlihat kelelahan setelah berlari-larian keliling hutan, Kepala Raja menoleh ke arah Lion yang pergi ke arah lain menolak untuk bergabung dengan Ratu.


"Raja, kamu membuat paman Michael terluka," ujar Rain agar putranya merasa bersalah.


"Kak Kak Michael kuat, dia lebih hebat dari Raja, luka sedikit tidak apa." Raja tersenyum manis melihat tatapan tajam Papanya.


Melihat Raja diculik dia masih tetap memikirkan resiko terkecil, mempercayai hatinya jika Raja dalam keadaan baik.


"Pa, kapan kita pulang?"


"Raja tidak akan pulang bersama Papa, tapi ikut Mama Ratu. Sudah waktunya kamu tinggal bersama Mama," ujar Rain yang mengulangi ucapannya tanpa memikirkan perasaan Raja.


"Jika Raja punya pilihan, apa tidak bisa tinggal bersama Mama dan Papa?" Raja memeluk Rain yang menggendongnya kuat.


Mata Raja fokus kepada Ratu, seakan meminta bantuan untuk hidup bersama. Raja tidak bisa kehilangan papanya.


Kening Ratu berkerut, mantap binggung dengan ekpresi Raja yang memelas. Dia tidak berani membantah ucapan Rain.


"Kenapa kamu ingin meninggalkan Raja kepadaku?"


"Kalian sedarah, sedangkan aku orang asing," jawab Rain yang masih tetap jalan.


"Wajah Raja lebih mirip kamu, bagaimana bisa menjadi orang asing?" Ratu berjalan di samping Rain yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Bagi Rain bukan mirip dirinya, tapi Raja dan Rain mirip Sinta, wanita yang tidak seharusnya melahirkan mereka.


Sinta petakan dalam hidup Rain, dia luka juga kehancuran, Rain tidak yakin bisa hidup jika terus mengingat wajah wanita yang membuangnya.


"Kamu bisa hdup dengan lembaran baru, kenapa kita yang harus menanggung luka masa lalu mereka?" Ratu memegang pergelangan tangan Rain.


Selama tiga tahun Ratu tidak pernah membenci Rain, tapi tidak bisa mengatakan untuk menyemangati agar Rain hidup dengan baik.


Pergi tanpa berpamitan jalan terbaik bagi mereka, Ratu ingin menjadi orang dewasa yang tidak menyalahkan siapapun.


Seandainya Albert tidak menyakiti kekasih Sinta mungin hidup Rain tidak akan menderita, seandainya Sinta bisa berdamai dengan hatinya mungkin Ratu tidak akan menderita.


"Orang yang salah di masa lalu sudah tiada, lalu kenapa kita yang tersisa merasakan sakitnya?" Ratu memalingkan wajahnya tidak sanggup melihat Rain.


Lilis melewati Ratu dan Rain, Krisna mengambil Raja dari gendongan Rain untuk masuk kedalam mobil membiarkan keduanya bicara.


Rain merasa menyakiti Ratu atas kematian Putri, apalagi menyadari wajahnya mirip sinta, pasti akaan lebih menyakitkan.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, terima kasih sudah datang. Tiga tahun terasa sangat lama, aku ingin mengatakan rindu, tapi aku juga benci. Tidak ada yan bisa aku lakukan untuk memperbaiki keadaan." Kepala Rain menggeleng, drinya tidak bisa menghadapi diri sendiri lalu bagaimana menghadapi Ratu.


"Kamu pernah mengatakan untuk hidup bersama, setidaknya tepati janji itu, apa karena aku seorang penjahat sehingga tidak layak?" bibir Ratu manyun merasa menyesal dengan pertanyaannya.


Senyuman Rain terlihat, menyentuh wajah Ratu yang bisa cemberut. Rain selalu mengingat janjinya, tapi takut jika Ratu membencinya.


Suara teriakan memanggil terdengar, Rain melihat Hera muncul bersama kepolisian untuk mencari keberadaan Rain dan Raja.


"Akhirnya aku bisa menemukan kamu." Hera berlari ke arah Rain, memeluknya erat di depan Ratu yang tercengang kaget.


Rain jauh lebih kaget, Hera memeluknya di depan wanita psikopat.


***


follow Ig Vhiaazaira