QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BERBURU



Di tengah hutan, Lilis dan Ratu duduk santai di tempat perkemahan, sedangkan Raja pergi bersama Papanya diikuti oleh penjaga lainnya.


Hutan seluas ini akan Rain ubah jadi apa?" Ratu tidak pernah memikirkan jika akan ada perubahan.


"Kamu tidak tahu?" Lilis baru saja tahu saat kembali.


Kepala Ratu menggeleng, sejak menikah hidupnya berubah. Tidak ada pertarungan apalagi tumpahan darah.


Ratu hanya fokus menjaga Raja, menanti suaminya pulang. Ratu menemukan kehidupan yang menyenangkan.


"Aku bahagia dengan keluarga kecil kami, aku tidak ingin kembali seperti dulu," ujar Ratu yang merasa hatinya begitu tenang, tidak ada kegelisahan sama sekali.


"Baguslah jika kamu tenang, aku juga nyaman melihat kamu yang sekarang. Senyum tidak pernah lepas dari bibir kamu, bahkan kita tidak mendengar suara tembakan." Lilis melihat sekitar yang hanya ada suara burung.


"Rain benar-benar mengubah tempat ini, dulu dia pernah berkata aku akan datang ke tempat kamu, tapi jangan salahkan jika semuanya kembali berubah." Ratu melihat langsung perubahan sangat drastis.


Bisnis gelap tetap jalan karena Rain tahu jika tidak akan pernah bisa dihilangkan, satu tertangkap akan muncul seratus, begitu terus hingga berulang-ulang.


"Rain yang dulu menciptakan tempat ini, maka wajar saja dia bisa mengubahnya kembali."


Suara tembakan terdengar membuat burung berterbangan, Ratu tersenyum kecil memikirkan nasib suaminya yang mengikuti keinginan Raja.


Di tengah hutan, Raja berlari kencang ke arah target. Penjaga mengarahkan senjata, tapi tidak ada yang berani melepaskan karena Raja yang ingin memanah.


"Pasti lepas lagi," sindir Rain yang menatap santai.


Target Raja lepas, sebelum panahnya dilepaskan. Teriakan Raja terdengar memarahi Papanya yang menyebabkan konsentrasinya hilang.


"Papa bisa mengkritik Raja, memangnya Papa bisa?"


"Tentu, mana panahnya. Kita sudah dua jam mengikuti kamu, tidak ada satupun tangkapan, dasar lelet." Rain mengambil panah mencari target yang baru.


Panah Rain diarahkan, semua penjaga melangkah mundur. Lion menggedong Raja agar tidak terluka.


"Ya tuhan, selamatkan Papa." Raja memeluk leher Lion karena was-was.


"Tuan, panahnya kebalik, bisa tembus jantung." Seorang pengawal memberanikan diri menegur Rain.


Mata Rain berkedip, memperbaiki arah panahnya ke depan. Panah dilepaskan membuat semua orang kaget.


Tawa Alex terdengar terbahak-bahak, melihat panah menatap di tanah tidak jauh dari tempat Rain berdiri.


Para penjaga menundukkan kepala merasa lucu melihat Rain yang tidak bisa melepaskan panah, masih bagus gerakan Raja.


"Papa bikin malu."


"Kalian semua cepat tangkap buruan itu!" Rain menghilangkan rasa malu.


Lion menurunkan Raja, mengambil panah langsung diarahkan ke mangsa. Hanya satu kali gerakan langsung tumbang.


Senyuman Rain terlihat, bertepuk tangan. Semua orang terlihat senang, setelah dua jam berkeliling akhirnya ada yang didapatkan untuk mengisi perut yang sudah berbunyi.


Semua penjaga berpencar, membawa satu-persatu tangkapan, Raja dan Rain hanya bisa tepuk tangan.


Kepala Raja menoleh ke arah atas, mengarahkan panahnya melihat burung yang sedang terbang.


"Kamu tidak boleh mengambil milik orang lain!" Raja melepaskan panas, satu burung berukuran sedang jatuh.


Suara tepuk tangan terdengar, Raja lompat-lompat kesenangan karena berhasil mendapatkan tangkapan.


"Papa senang melihat kamu bahagia Nak."


"Ayo kita pulang, Raja ingin memberikan kepada Mama."


Beberapa mobil meninggalkan hutan yang masih memiliki banyak hewan, kembali ke tempat perkemahan.


Kepala Ratu menoleh ke arah Raja yang sudah menunggu satu burung, senyuman Ratu terlihat memberikan tepuk tangan.


Kepala Ratu melihat ke arah suaminya yang tidak membawa apapun, membuktikan jika Rain tidak berbakat untuk ada di lapangan.


"Ayo kita masak." Raja mengambil botol susunya, duduk di samping Mamanya untuk tidur sebentar sambil menunggu makanan.


Pelayan memberikan kain basah kepada Ratu, mengelap wajah putranya yang penuh keringat, meminta baju baru karena basah kuyup.


Rain juga duduk di samping Raja yang sudah diam menghabiskan susunya, matanya juga sayu karena kelelahan.


"Anak nakal, kamu menbuat repot banyak orang." Rain mengusap kepala Raja yang sudah tertidur.


Kepala Rain menoleh ke arah banyak orang yang sibuk membersihkan buruan untuk dimasak, semuanya bekerja, diiringi candaan.


"Di sana ada air terjun, apa yang akan kamu lakukan?" Ratu yakin pasti Rain punya rencana baru.


"Air terjun itu berbahaya, dulu aku melihat ular besar di sana, mungkin sekarang sudah beranak pinak. Biarkan itu menjadi kawasan mereka."


Ratu menoleh ke arah Lilis, dulu mereka pernah pergi ke sana untuk berlatih, tapi saat kembali kehilangan lima orang anggota.


Awalnya Ratu berpikir ada buaya, ternyata sarang ular. Meskipun hutan tempat yang nyaman, tapi ada banyak kehidupan di dalamnya.


"Pembangunan hanya sampai di depan, tidak boleh lebih karena para hewan punya hak untuk memiliki tempat tinggal dan kehidupan." Rain menunjukkan struktur bangunan yang akan dibangun hingga sepuluh tahun ke depan.


Selama ini Rain mengatur cara untuk membangun kota yang terpisah dari kota lain karena tidak menyukai aturan, apalagi diatur.


"Rain, gawat." Krisna langsung duduk mengambil minuman.


"Dari mana, ikut berburu tidak, tapi menghilang?" Lilis menoleh ke arah suaminya yang ngos-ngosan.


Kris masih mengatur napas, memberitahu jika burung yang sudah lama menjadi incaran Raja berhasil dibeli, masalahnya saat tiba di kastil burungnya terbang.


"Seluruh penjaga mengejarnya menggunakan drone, tapi saat tiba ditengah hutan burung hilang karena jatuh." Kris menatap satu burung yang tergeletak.


Semua orang yang mendengar cerita Krisna sampai menghentikan aktivitas, merasa cemas jika Raja mencari burung barunya.


"Kenapa burungnya ada di sini?" Kris mengangkat burung mengecek leher yang ada kalung bernama Raja.


Rain hanya bisa tertawa kecil, burung impian Raja mati di tangan tuannya sendiri. Kris memukul Rain agar berhenti tertawa.


"Raja yang memanah burung ini."


"Matilah kita, kenapa bisa kebetulan." Kris menatap Raja yang terbangun.


"Uncle, kenapa Uncle terlihat lelah?"


"Kenapa kamu menangkap burung ini?" Kris menunjukkan burung yang sudah mati.


Kepala Raja mengangguk, matanya terpejam kembali. Tangan menepuk dada memuji dirinya sendiri karena sangat hebat bisa berburu.


Kepala Kris geleng-geleng, terserah Raja saja. Jika dia tahu pasti menangis histeria meratapi burungnya.


Rain tidak berhenti tertawa, pasti lucu sekali jika Raja tahu jika mangsanya miliknya sendiri yang mati di tangan tuannya.


"Raja bangun, burung baru kamu mati." Rain menepuk wajah Raja.


Mata Raja terbuka, melihat Kris menujukkan leher burung yang menggunakan kalung pemberian Raja.


"Kenapa dia menggunakan kalung Raja? Burung Raja belum sampai." Lama Raja melamun menatap burung yang ditangkapnya.


Suara tangisan terdengar, langsung memeluk Ratu erat saat sadar jika burung yang didapatnya mirip dengan burung yang diinginkan.


"Sudah sudah, nanti kita cari yang baru." Ratu menatap Rain yang tidak berhenti tertawa.


***


Follow Ig Vhiaazaira