QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
DATANG KEMBALI



Melihat Paman merunduk semua bawahan Ratu juga langsung membungkuk, Ratu melangkah ke arah Paman memintanya berdiri.


"Ratu, kenapa kamu menikahi Rain tanpa mengatakan apapun?"


Kening Ratu berkerut, tidak paham maksud dari orang tertua di wilayah mereka. Bagaimana mungkin Ratu mengenalkan Rain.


Senyuman Rain terlihat, mengenggam tangan Ratu agar segera kembali ke mobil karena mereka baru setengah jalan.


"Silahkan kalian lanjutkan perjalanan, kita bertemu di kastil." Paman tidak berani menatap Rain sama sekali.


"Ayo sayang, jangan sampai Raja ketakutan."


Kepala Ratu mengangguk, kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. Lilis menatap Rain yang terlihat marah karena kedatangan ditolak.


"Kak Lis, siapa Kak Rain sebenarnya?"


"Kakak juga tidak tahu, dia sepertinya mengenali tempat ini." Lilis kembali ke dalam mobil.


Beberapa mobil melaju ke arah Kastil. Rain hanya duduk tenang melihat ke arah luar, tangannya masih menggenggam jari-jemari Ratu.


"Rain, kamu mengenal tempat ini?"


Kepala Rain mengangguk, dirinya pernah datang saat remaja. Tempat yang sangat berkesan sehingga Rain ingin kembali lagi.


Mata Ratu tidak berkedip sama sekali, tidak menyangka jika Rain pernah datang dan mengelilingi hutan selama berbulan-bulan.


"Kenapa tidak pernah mengatakannya?" Ratu menyalahkan dirinya sendiri yang tidak pernah bertanya masa lalu Rain.


Hanya tahu jika Rain putranya Sinta, dibuang di panti dan besarnya bersama keluarga Petro. Ratu tidak pernah bertanya langsung dia hanya memperkirakan.


"Kenapa, kamu tidak percaya?" senyuman Rain terlihat, megusap wajah Ratu yang masih kebingungan.


"Maafkan aku, terlalu tidak peduli dengan kamu," ujar Ratu yang merasa bersalah.


Siapapun yang pernah berada di hutan pasti melewati kehidupan yang sulit, apalagi tidak tinggal menetap.


"Sayang, kamu tidak perlu memahami aku, tidak ada yang spesial." Rain tersenyum menatap kastil yang sangat mewah.


Pertama kali Rain mengetahui wilayah Ratu, saat Ratu menuliskan alamatnya. Rain langsung tahu di mana lokasinya.


Pengetahuan Rain yang luas, juga pengalaman yang dimiliki mengajarinya lebih baik tidak tahu daripada berlagak tahu.


"Kenapa kamu tidak datang menemui aku?"


"Bagaimana jika kamu menolak aku?" Rain tahu dirinya tidak salah, tapi terlahir dari wanita yang melakukan kesalahan.


Meminta maaf atas kesalahan wanita yang tidak mengakui sebagai anak, wanita yang membuangnya hanya demi dendam.


"Aku ingin bertemu, tapi merasa tidak pantas." Ratu mengusap air mata karena merasa sangat merindukan Rain.


"Sekarang aku ada di sini sayang, kita tidak akan terpisahkan."


Mobil memasuki Kastil, Rain langsung keluar melangkah ke mobil belakang mengambil Raja yang masih tidur.


Tanpa instruksi, Rain langsung tahu jalan masuk kastil, Ratu juga masuk mengikuti suaminya.


"Lantai satu atau lantai dua sayang?" Rain menatap Rain yang ingin menuju kamar.


Mata Raja terbuka, senyumannya terlihat langsung meminta diturunkan. Raja menatap sebuah patung emas berukuran besar.


"Raja mau naik."


Michael menaikan Raja yang ingin lanjut tidur di atas patung kuda mas. Rain menuju kamar yang pernah dirinya gunakan.


Tangan Lilis menepuk pundak Ratu, melirik ke arah Rain yang terlihat sangat mengenali isi kastil yang berliku-liku.


"Kamar ini dulunya penjara," ujar Rain melihat kamar yang kosong.


Lilis menatap Paman yang tidak berani menatap Rain, sedangkan kepada Ratu sangat berani.


Sejujurnya Rain sangat kecewa melihat cara kerja Paman yang tidak menghormati Ratu, dia wanita termuda yang menguasai wilayah selain Rain.


"Aku rasa sudah banyak yang berubah," ujar Rain menatap pria tua.


"Kenapa aku tidak bisa masuk ke sini setelah keluar?" lirikan mata Rain tajam karena banyak orang yang senang saat Rain pergi.


"Kematian Tuan ...."


Tangan Rain terangkat meminta diam, selama tiga tahun Rain sudah mengamati banyaknya keanehan.


Kepergian Ratu menemui Albert menjadi kejayaan, tapi kembalinya Ratu membuat beberapa kelompok terganggu.


"Tangan aku masih bersih Paman, tapi di dalam otakku sudah melenyapkan banyak orang. Meksipun kita jauh, aku bisa memantau kalian." Tatapan mata Rain tajam dan sinis.


Tawa Rain terdengar meminta semua orang tenang, tidak perlu memikirkan dirinya karena Rain hanya bertamu.


"Tuan muda jangan salah paham, kami semua di sini sangat menghormati Ratu."


Paman melangkah pergi bersama Lilis, penuh rasa hormat Lilis ingin tahu keterikatan Rain dengan wilayah mereka yang sudah damai selama puluhan tahun.


"Siapa Rain sebenarnya?"


"Dia pemilik tempat ini," balas Paman.


"Bagaimana bisa, bukannya tempat ini milik Kakek?" Ratu melangkah mendekat.


Kepala Paman menggeleng, belasan tahun yang lalu Rain datang sebagai korban yang akan di jual organ tubuhnya.


Anak kecil yang umurnya sangat muda, duduk tenang dihadapan dokter beda, tapi saat waktunya pembedahan dokter melarikan diri tanpa kejelasan.


"Dia anak yang sangat jenius, sikapnya yang dingin dan tenang menjadikan remaja yang paling ditakuti." Paman ingat jelas saat Rain mengetahui semua rahasia.


Terjadi peperangan di antara dua kelompok, Rain menyelamatkan Kakek Ratu memberikannya sertifikat.


"Kekayaan Kakek kamu berkat Rain yang memberikan hak milik, dia juga yang pernah menyelamatkan kamu Ratu." Paman melihat Rain datang ke kastil sambil menggendong Ratu yang terluka.


"Mengapa dia bisa terusir dari tempat ini?"


"Rain terlalu pintar, dia bisa mengetahui banyak hal. Semua orang takut padanya, Kakek berusaha mengusirnya karena Rain yang memimpin segalanya." Paman hanya bisa menyaksikan Rain pergi, bahkan saat pergi Rain masih tersenyum manis berjalan santai tanpa rasa takut.


"Apa dia psikopat?"


"Bukan, dia tidak membunuh. Orang pintar dan mengetahui banyak hal tidak diharapkan ada, Rain bisa dimanfaatkan sehingga Kakek kamu memintanya kembali."


Kepala Ratu mengangguk, selama ini Rain menutupi banyak rahasia bukan karena dirinya tidak bisa menolong dan berbuat banyak, tapi dia tidak ingin dimanfaatkan..


Tidak semua orang mampu menerima kelebihan yang Rain miliki. Agar bisa hidup normal, dia harus hidup seakan tidak tahu apapun.


"Kenapa Rain menuduh Paman, dia tidak mungkin melakukan fitnah?" Lilis menatap Paman yang hanya bisa geleng-geleng.


"Rain kecewa karena diminta pergi, tidak ada tempat yang menerima keberadaannya. Rain mencurigai semua orang karena selalu mengecewakannya." Dihentikan di jalan secara paksa pasti membuat Rain kecewa.


Tidak bisa membiarkannya masuk, tapi menolak kehadirannya padahal Rain tidak menyakiti siapapun.


"Ratu, dia pasangan terbaik untuk kamu. Meksipun Rain dingin, dia sangat istimewa. Jangan pernah bertengkar dengannya." Paman melangkah pergi akan mengumumkan penyambutan resmi kedatangan Rain.


Senyuman Ratu terlihat mengucapkan terima kasih, dirinya merasa sangat terhormat jika kehadiran Rain diterima dengan baik.


"Papa, tolong ada Monster." Raja berlari kencang mencari Papanya.


Ratu langsung bergegas ke arah suara, Raja terkejut melihat seorang wanita memiliki tubuh yang besar..


Wanita yang melayani Ratu langsung membungkuk memberikan salam kepada Rain yang juga membungkukkan badannya.


"Selamat datang Tuan, dan Tuan muda."


***


HAPPY NEW YEAR


Sampai bertemu tahun depan


***