QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BELAJAR MENEMBAK



Suara tembakan terdengar, Michael mengajari Pelangi memegang senjata yang benar, mengarahkan kepada target yang tepat.


"Ingat baik-baik agar tidak meleset karena jika mengenai orang bisa mati." Michael melihat Pelangi yang melepaskan tembakan.


Kedua tangannya bertepuk sangat bahagia karena berhasil melepaskan tembakan, meksipun tidak tepat sasaran.


Raja dan Langit lebih pilih bersantai di tempat peristirahatan, tidak menyukai tembak-tembakan.


"Adik kalian berjemur, kalian berdua tidur," tegur Ratu yang memperhatikan Pelangi belajar sangat giat tanpa rasa takut.


Panas matahari bukan penghalang baginya, Pelangi tetap bersemangat untuk belajar menembak.


"Sudahlah Pelangi, nanti kulit menghitam bisa membuat Papa marah." Ratu membawa senjata diarahkan ke papan target.


Tembakan lepas, tepat sasaran membuat Pelangi lompat-lompat kesenangan karena ingin seperti Mamanya.


"Mama hebat," puji Pelangi.


"Bisa sehebat Mama membutuhkan puluhan tahun Pelangi, nikmatin masa muda kamu, jalani hobi, dan jangan menjadi Mama." Lilis melepaskan tembakan tepat di lubang bekas tembakan Ratu.


Kedua tangan Pelangi menutup mulutnya karena terkejut melihat tembakan yang begitu kerennya.


Kepala Michael geleng-geleng karena dua wanita petarung yang sudah pensiun masih tetap hebat dan kuat.


Dengan lembut Ratu mengajari Pelangi cara yang baik untuk mengenai target, tugas utama sudah pasti konsetrasi.


"Tidak ingin tambah momongan lagi, atau aku yang harus punya momongan?" tanya Michael kepada Ratu yang langsung mengarahkan senjata tepat di kepalanya.


"Ratu," bentak Rain karena mengarahkan senjata dihadapan Pelangi.


Hal yang dianggap candaan, bisa berakibat fatal jika dimainkan oleh anak-anak. Apalagi Pelangi yang sedang aktif melakukan banyak hal.


Ratu langsung terdiam, mengeluarkan peluru dari senjatanya. Tidak berani membantah lagi jika sudah ditegur suaminya.


"Makanya Mama tidak boleh mengarahkan seperti itu, nanti tertembak Uncle bisa mati." Pelangi memarahi mamanya yang bermain-main dengan senjata.


Lidah Pelangi terjulur, mengandeng tangan Papanya untuk pergi ke ruangan makan yang sudah disiapkan.


Keluarga sengaja berkumpul untuk makan bersama, perawat yang menjaga Pelangi sejak bayi menyerahkan handuk basah kepada Rain yang memintanya.


"Pa, itu tempat apa?"


"Tempat berbahaya, berapa jam berjemur sampai merah semau?" Rain mengecek tubuh Pelangi tidak ingin Putrinya tergores sedikitpun.


Kedua tangan Pelangi memeluk erat papanya, menagih janji soal ke pantai. Pelangi ingin sekali bersantai di pinggir pantai dengan tiupan angin sepoi-sepoi.


"Kapan Pa?"


"Nanti, Papa meminta pengawal mengamankan terlebih dahulu. Berapa kali Papa katakan jika Pelangi tidak boleh dilihat banyak orang," tegas Rain meminta putrinya mengerti.


Helaan napas Ratu terdengar, memeluk lengan suaminya lelah melihat Rain lebih sayang putrinya dibadingkan dirinya.


Kepala Rain pusing melihat dua wanita yang dorong-dorongan, tendangan Ratu mendarat mengenai body Pelangi terguling dari duduknya.


"Mama, sakit." Pelangi langsung berdiri, mengepalkan tangannya meninju mamanya kuat.


Rain memeluk Ratu yang dipukuli oleh Pelangi, suara Rain meminta berhenti tidak digubris sama sekali.


"Pelangi cukup, sudah berhenti." Suara Rain meninggi barulah Pelangi berhenti meninju Mamanya.


Tangisan Pelangi terdengar, mengusap kepalanya yang sakit karena dipukuli, mengadu kepada suaminya yang hanya bisa tarik napas panjang.


"Kenapa Ma?" Raja baru saja masuk ke ruangan makan melihat Mamanya menangis.


"Tidak ada, panggil yang lainnya kita makan dulu." Rain mengusap kepala Ratu lembut.


Pelangi sudah duduk di tempat meja makan, menatap sinis mamanya karena tidak ingin lepas dari Papanya.


"Kenapa tatapan jahat sekali?" Raja mengusap kepala adiknya lembut.


"Mama membuat Pelangi marah." Tangan Pelangi terlipat di dada.


Kecupan Krisna mendarat di kepala Pelangi, senyumannya langsung terlihat meminta Paman Kris menyuapinya.


Helaan napas Pelangi terdengar, terpaksa makan tanpa ada yang memperhatikannya. Tidak ada Papa atau Paman Kris.


"Apa saya dewasa tidak diperhatikan lagi? Jika begitu Pelangi ingin kecil saja," gumaman Pelangi terdengar diiringi napasnya yang menghela di hadapan Langit.


Tangan Langit menekan hidungnya tidak suka dengan hawa mulut Pelangi yang bau makanan.


"Kapan ingin pergi ke pantai?" tanya Kris memberikan potongan undang yang sudah dikupas di piring Langit dan Pelangi.


"Besok, Pelangi ingin pergi besok." Bibir Pelangi sudah maju ke depan bersamaan dengan udang yang menyangkut di bibirnya.


"Makam dengan benar, tidak sopan," tegur Rain meminta Pelangi duduk diam.


Rencana ke pantai sudah siap, hanya Rain saja yang masih malas karena pasti banyak drama di sana.


Apalagi Raja yang tidak menyukai angin laut, Ratu yang tidak sanggup panasnya pantai, belum lagi Pelangi yang tidak bisa dihentikan.


"Papa tidak tepat janji sama Pelangi, waktu itu katanya boleh, sekarang ditunda terus."


"Ya sudah besok," jawab Rain sambil geleng-geleng.


Tangan Ratu mengusap punggung suaminya agar lebih banyak sabar menghadapi putrinya yang terlalu banyak mau.


"Cuaca kurang baik, lautan sering ada badai." Michael mendapatkan kabar dari rekannya yang baru saja kembali dari berlayar.


Kepala Pelangi menoleh, binggung dengan penjelasan Uncle Michael soal lautan yang sedang tidak bersahabat.


Gelombang selalu tinggi, dan angin kencang, Michael memperkirakan akan memasuki musim hujan dan angin barat.


"Apa itu, Pelangi tidak mengerti?"


"Kemungkinan besar besok hujan," jelas Michael ke arah si kecil yang mengemaskan.


"Apa hubungannya ke pantai dan hujan, tidak peduli hujan badai Pelangi akan tetap pergi ke pantai." Sikap keras kepala Pelangi terlihat.


Rain mengambil tablet, menujukkan rekaman kepada Pelangi jika ada badai di lautan. Wajah Pelangi langsung cemberut melihat angin kencang, gelombang tinggi sampai kapal juga terombang-ambing.


"Kenapa harus begini?"


"Berdoa saja besok tidak hujan dan badai," ujar Langit yang langsung disetujui oleh Pelangi.


Harapan Pelangi badai bisa menunda kedatangannya karena Pelangi ingin main pasir pantai, melihat gelombang dan banyak hewan laut.


"Semoga saja besok hujan, Raja ada latihan besok." Raja berdoa pelan.


Pukulan Pelangi mendarat dipunggung Langit, lirikan matanya tajam karena mendengar doa, Raja yang duduk di samping Pelangi kaget.


Tangisan Langit terdengar, makanannya tumpah gara-gara terkejut merasakan punggungnya dipukul.


"Kenapa Langit dipukul?"


"Sudah-sudah, Pelangi tidak sengaja." Kris memeluk putranya yang kaget, meminta Pelayan mengganti piring baru.


Tatapan mata Rain sudah tajam, tidak suka dengan sikap Pelangi yang ringan tangan tidak sopan memukul Kakaknya.


"Aduh ini tangan kenapa nakal sekali." Pelangi memukul tangannya sendiri karena spontan memukul.


Cepat Pelangi duduk dipangkuan Kakaknya karena takut dengan mata tajam Papanya yang siap menerkamnya.


Rain kehabisan cara menghentikan Pelangi, sekeras apapun ajarannya tidak membuatnya jera. Ada saja tindakannya yang membuat masalah baru.


"Jika kali lagi tangan memukul Kakak Langit, tangan kamu Papa gantung," ancam Rain.


"Kenapa tangan yang digantung Pa, biasanya kepala?"


Tawa semua orang terdengar kecuali Rain yang menghela napas dengan jawaban Pelangi.


***


Follow Ig Vhiaazaira