QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
SALING JAGA



Kehamilan Ratu yang tidak diketahui cukup mengejutkan, tapi memberikan kabar bahagia bagi semua orang.


Terutama Rain dan Ratu yang tidak menyangka jika sudah ada janin berusia empat bulan yang menemani hari-hari mereka.


"Kita akan menjadi orang tua lagi, Ratu tidak sabar menggedong bayi." Senyuman Ratu lebar membayangkan anak keduanya.


Tangan Rain menepuk ranjang meminta Ratu tidur, sejak pulang dari rumah sakit tidak berhenti berputar-putar sambil memegang perutnya.


Tidak menyangka usia kandungannya sama dengan kandungan Lilis, sikap Ratu yang mengikuti kebiasaan Lilis ternyata bawaan ngidam.


"Sayang, berhenti mondar-mandir. Cepat tidur." Rain menepuk ranjang kesekian kalinya.


Kepala Ratu mengangguk langsung lompat ke atas ranjang, Rain mengelus dada karena Ratu tidak berhati-hati.


"Sayang pelan-pelan, kasihan dedek di dalamnya," pinta Rain dengan nada yang sangat lembut.


"Iya maaf, peluk dulu." Ratu masuk ke dalam pelukan suaminya yang mengusap lembut punggung.


Perlahan Ratu mulai terlelap, Ratu meletakan kepala di bantal, menarik selimut menutupi tubuh istrinya. Tangan Rain mengusap pelan, meminta baby-nya tenang tidak membuat keributan terus-menerus.


"Lagi apa di dalam sayang, nanti main sama Papa, tapi jangan main sama Mama di dalam perut." Rain bicara bersama janin yang masih Ratu kandung.


Senyuman kecil Ratu terlihat, membiarkan Rain bicara seperti orang gila bersama perutnya yang buncit.


Suara keributan di luar kamar terdengar karena pintu tidak ditutup rapat, Raja berlari masuk kamar langsung naik ke atas sofa sambil teriak-teriak.


Tatapan Rain tenang melihat satu lagi pengacau yang mirip orang gila, hidupnya yang dulu sepi, sunyi dan tenang sudah berubah kacau.


Napas Raja ngos-ngosan habis bermain, Rain menujuk ke arah air minum barulah Raja minum karena kelelahan bermain lari-larian.


"Bermain dengan siapa?" Rain mengusap keringat Raja yang baru saja sakit, tapi sudah bermain.


"Paman Lion, Raja punya anjing berukuran besar, Paman Lion membawanya dari perbatasan."


Rain menganggukkan kepalanya membiarkan Raja melakukan sesuka hatinya, selama masih dalam pantauan Lion keadaan pasti aman.


"Ayo Papa mandikan, setelahnya istirahat sebentar," perintah Rain yang wajib Raja ikuti.


"Sudah istirahat Raja boleh makan daging?"


Kepala Rain mengangguk di dalam otak Raja hanya ada makanan, dia tidak bisa berhenti makan daging, tapi tubuhnya tetap kurus.


Di dalam kamar mandi, Raja bermain air mengusap wajah Rain menggunakan sabun sambil tertawa.


"Nak, kamu tahu jika sebentar lagi punya adik? Bukan hanya satu, tapi dia sekaligus." Rain bicara dengan sangat tenang mencoba membuat putranya mengerti.


"Dua bagaimana Pa, Mama Ratu hamil dua?" jari tangan Raja menunjukkan angka dua.


Bibir Raja monyong, menunggu Papanya menjelaskan. Raja menganggukkan kepalanya mendengar suara Papanya yang ingin Raja menghormati Lilis dan Krisna layaknya orangtuanya sendiri.


Meksipun keduanya tidak ada hubungan darah, jika Rain dan Ratu tidak ada dunia lagi, Raja harus bersama Lilis dan Krisna, hanya mereka keluarga yang dimiliki.


"Om Kris sangat berarti bagi Papa, dia bukan


hanya sekedar Kakak, tapi sahabat dan teman satu-satunya yang Papa miliki. Begitupun dengan Aunty Lilis, dia bukan hanya bodyguard Mama, tapi sahabat terbaik Mama yang siap pasang badan." Rain meminta Raja bisa menjaga anak Lilis dan Krisna, menjalin hubungan baik sebagai kakak tertua.


Raja tidak harus menjadi Kakak yang hebat di luar sana, cukup dia menjadi Kakak terbaik bagi Adik-adiknya.


"Papa, kenapa Papa bicara begitu? Papa tidak sayang Raja lagi, kenapa semuanya jagain Raja lalu siapa yang jaga Papa?" kedua tangan Raja memeluk erat, Rain mengambil handuk menutupi tubuh putranya yang mulai banyak tahu segala hal.


"Papa tidak perlu dijaga, selama kamu dalam keadaan baik, maka tidak ada yang bisa menyakiti Papa." Rain mengambil baju mengeringkan tubuh Raja.


Selesai mandi Raja naik ke atas ranjang, tidur memeluk mamanya yang sudah tidur lebih dulu. Ratu terbangun merasakan tangan kecil memeluknya.


"Mama, Mama sudah tidur belum? Raja lapar, tapi Papa minta Raja tidur," bisikan Raja terdengar membuat Rain yang mendengarnya langsung tertawa, Ratu yang terbangun juga menahan tawa.


Ada saja tingkah laku Raja yang membuat mereka gemas, dan mengudang tawa. Raja juga tertawa mengeratkan pelukannya.


***


Waktu terus berjalan, kehidupan Ratu dan keluarga kecilnya semakin bahagia layaknya kehidupan rumah tangga orang lain, kehamilan Ratu juga berjalan lancar dan selalu dinikmatinya.


Tidak ada lagi ketakutan seperti yang dulu Ratu rasakan, dia terasa aman hidup bersama suami es nya yang sangat jenius.


"Aku tahu ada banyak masalah di luar sana, tapi entah kenapa aku tidak ingin tahu," ucap Ratu mengusap perutnya yang sudah membuncit.


"Aku juga sudah mendengar kabarnya, kejayaan ini membuat banyak orang serakah mendekat, kita membutuhkan banyak pasukan untuk mengusir mereka.


"Cepatlah lahir Nak, Mama harus membantai mereka semua agar Papa memiliki waktu bersama kita." Ratu mengusap perutnya yang merasakan gerakan.


Suara barang berjatuhan terdengar, Lilis dan Ratu melangkah masuk ke ruang tamu melihat Raja membuang tasnya hingga memecahkan kaca.


"Ada apa Lion, kenapa Raja marah?" tanya Ratu.


"Maaf Nona, Tuan Rain melarangnya keluar karena keadaan di luar kurang aman, tapi Tuan muda memaksa ingin pergi jalan-jalan." Lion tidak bisa menuruti keinginannya karena tugasnya bukan hanya menjaga Raja, tapi mengawasi Ratu juga.


Tangan Ratu terangkat, meminta Lion megeluarkan mobil, dirinya ingin pergi ke perbatasan untuk melihat apa yang sedang diperebutkan.


Lilis dan Lion nampak terkejut, Ratu melangkah pergi mengambil senjatanya memasukkan beberapa peluru.


Lion langsung berlutut memohon agar Ratu tidak pergi, terlalu berbahaya jika terjadi sesuatu kepadanya dan kandungnya.


"Tenang saja, anakku sangat kuat. Jika kamu tidak pergi maka senjata ini akan menembus kepala kamu," ancam Ratu yang bergegas keluar.


"Bagaimana ini, aku takut." Lilis tidak berani ikut.


Ratu tidak memaksa Lilis, memutuskan pergi sendiri. Saat penjaga mengatakan jika Rain kembali, Ratu langsung berlari kencang ke dalam rumah, lupa dengan kondisinya yang sedang hamil.


Tangan Lion menyentuh dadanya karena panik melihat Ratu begegas meyembunyikan senjatanya sebelum Rain melangkah masuk.


"SD Selamat datang Tuan, terima kasih sudah kembali tepat waktu, jika tidak aku juga bisa mati karena Nona Ratu ingin pergi ke perbatasan, bahkan sudah menyiapkan senjata. Begitupun dengan Tuan muda sudah mengamuk karena memaksa ingin bermain keluar." Lion terpaksa mengadukan kepada Rain karena dirinya tidak memiliki kuasa untuk menghentikan.


Kepala Ratu dan Raja menggeleng, tidak membenarkan ucapan Lion. Keduanya hanya bercanda, tidak mungkin berani membantah.


"Ratu hanya ingin melihat ke arah gerbang," ujarnya.


"Raja juga, hanya ingin bermain bola di belakang."


"Bohong Tuan, Lion mengatakan yang sebenarnya." Lion menggeleng karena ibu dan anak sama pembohongannya.


***


Follow Ig Vhiaazaira