QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
MENCARI RATU



Ratusan orang mengelilingi Lilis yang masih duduk santai di depan pengawal dan juga Aryani yang sudah tidak bernapas.


"berhati-hatilah wanita ini pasti memiliki pasukan." Pemimpin yang ditugaskan menatap Lilis yang tersenyum kecil.


Di tangan Lilis hanya ada satu senjata, dirinya paham jika senjatanya tidak bermanfaat. Dirinya akan tetap mati jika bertarung dengan tangan kosong.


"Bunuh dia!" perintah seorang pria untuk segera melenyapkan Lilis.


"Jangan coba mendekat, jika tidak ingin mati." Senyuman lebar juga licik terlihat.


Lilis membiarkan seluruh orang masuk, dia berlari kencang ke arah pintu keluar meksipun ada sekitar sepuluh orang menghadang.


Tembakan Lilis terarah kepada benda yang sengaja Ratu tinggalkan sehingga menyebabkan ledakkan besar.


Semua orang panik ingin keluar, Lilis yang keluar lebih dulu menahan pintu keluar dan menguncinya.


"Mati kalian semua." Lilis berlari kencang dan menghentikan langkahnya melihat pengawal Ratu menunggunya dengan mobil.


"Tidak heran Nona Ratu sangat menyayangi kamu karena begitu cepat tahu apa yang Ratu tinggalkan, Albert menangis darah melihat pasukannya mati kebakaran." Pengawal membukakan pintu untuk Lilis agar segera menyusul Ratu.


Tangan Lilis juga terbakar karena sempat menahan gerbang, Ratu sungguh luar biasa. Demi agar seluruh bawahan tetap mempercayai Lilis dengan cara membuktikan kemampuan Lilis agar tidak terjadi keributan dan rasa iri.


Tangisan Lilis pecah, Ratu tidak pernah berubah. Dia masih sehebat dahulu, dan Lilis begitu beruntung memilikinya.


"Kamu kecewa dengan keputusan Nona Ratu?"


"Tidak, aku tahu dia tidak ingin aku mati, tapi jika mati bukan salahnya, tetapi aku yang ceroboh. Nona Ratu menyelamatkan kehormatan aku di mata banyak orang, dia ingin aku tetap dihormati sebagai tangan kanan." Lilis mengusap air matanya karena tidak menyangka di detik terakhir ingat ucapan Ratu jika di setiap tempat menyekap selalu ada bom tersembunyi.


Pengawal mengangguk, Lilis benar jika Ratu tidak pernah membedakan siapapun yang ada di bawahnya. Dia belaku adil, tidak banyak bicara langsung membuktikan siapa yang pantas dan yang pasti kualitas terbaik.


"Di mana Nona Ratu?"


"Tidak tahu, dia pergi bersama Putri tanpa penjagaan. Semua pasukan diminta menyamar untuk menemukan celah." Ratu tidak main-main dengan ucapannya selama Ratu pemulihan dia tetap meminta tim khusus untuk mengawasi Madam, Albert, Clen, dan Miko yang sedang sekarat.


Lilis meminta mengantarnya ke rumah sakit tempat Rain dirawat, dia sudah dipindahkan ke kota besar karena luka di kepalanya.


"Lis, kamu tidak berniat mencari Ratu?"


"Lakukan apa yang Ratu perintah untuk menyamar." Senyuman Lilis terlihat mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarnya.


Dari jauh Lilis sudah bisa melihat Krisna yang duduk di ruang tunggu, Lilis ikutan duduk mengambil minuman di tangan Krisna meneguknya sampai habis.


"Dari mana saja kamu, satu hari dua malam menghilang? datang dalam keadaan lelah seperti membunuh ratusan orang."


"Benar, aku membunuh ratusan orang. Bagaimana kondisi Rain?"


Tubuh Krisna mengeras, candaannya ditanggapi serius oleh Lilis. Ternyata Lilis memang pembunuh bayaran.


Makanan yang Krisna beli dimakan habis karena Lilis kelaparan, dirinya bahagia karena bisa keluar dalam keadaan hidup..


"Apa kamu juga yang menusuk aku di apartemen?"


"Ya betul," jawab Lilis santai.


Keringat dingin mengalir, Krisna duduk menjauh dari wanita menakutkan karena hampir membunuhnya.


Dokter keluar setelah memeriksa detail kondisi Rain, Lilis langsung maju mendekat dalam keadaan mulutnya penuh makanan. Dokter yang mendengar pertanyaan Lilis sampai binggung.


"Rain dalam keadaan baik, dia hanya butuh pemulihan sementara waktu." Dokter langsung pamit tidak mengerti ucapan Lilis.


Kening Krisna berkerut, menatap Lilis yang bicara sambil mengunyah. Dia lebih mirip pengemis kelaparan.


"Habiskan dulu makanan di mulut kamu baru bicara," ujar Krisna yang memberanikan diri untuk menyindir.


Senyuman Krisna terlihat, merasa lega karena Rain akhirnya sadar. Rasa bersalah sangat terlihat di wajah Krisna karena meragukan Rain.


"Bagaimana kondisi Ratu?" Rain yakin pasti bukan hanya dirinya yang menjadi incaran Clen, tapi Ratu juga.


"Siapa Ratu, apa Ratu si cupu? kamu pacaran dengannya?" Krisna menutup mulutnya yang sangat kaget.


"Pacaran, siapa yang pacaran?" Lilis menatap Rain yang berusaha untuk duduk sambil memegang kepalanya.


Melihat sekitar ruangan, Rain tidak melihat keberadaan Ratu. Memutuskan untuk keluar dari rumah sakit karena keadaannya belum aman.


Clen sedang berusaha mencarinya karena Rain kunci utama segala rahasianya, sedangkan Ratu orang yang mencuri data penting.


"Kondisi kamu belum pulih Rain," ujar Krisna yang tidak mengizinkan pergi.


"Di mana Madam sekarang?"


Krisna mendengar kabar jika mamanya ada di luar negeri karena menghindari penyelidikan soal perusahaan yang dikacaukan oleh Clen.


Bukan hanya mamanya yang menghilang, tapi Clen dan beberapa petinggi juga memiliki bersembunyi menghindari penyelidikan.


Tangan Rain mengusap punggung Krisna, sementara waktu perusahaan tidak bisa beroperasi harus menyelesaikan penyelidikan.


"Apa yang pernah aku minta sudah kamu lakukan?"


"Ya, bagaimana dengan perusahaan?"


"Kita akan bangkit kembali setelah mengusir Clen dan semua petinggi yang berlaku curang. Setidaknya saat ini kamu aman." Rain menatap Lilis menayangkan kondisi Ratu dan Putri.


Kepala Lilis menggeleng, dia tidak tahu keberadaan Ratu setelah dirinya diserang apalagi Ratu terluka parah.


Perasaan Lilis juga tidak enak karena sudah membawa pasukan demi Rain, dan Ratu yang celaka.


"Aku tahu di mana Ratu sekarang, kita pergi ke sana demi keamanan." Rain meminta bantuan Krisna untuk berjalan.


Tidak ingin membantah, Krisna megeluarkan Rain secara diam-diam. Di parkiran Lilis menghentikan langkah mereka saat beberapa orang berbadan besar lari-larian masuk ke dalam.


"Ucapan kamu benar Rain, mereka mencari keberadaan kamu." Lilis memukul Krisna agar segera menujukkan mobilnya.


"Mereka juga mencari kamu Krisna agar Clen tidak dijadikan tersangka penggelapan dana dan bisnis ilegal." Rain meringis kesakitan karena tubuhnya terasa remuk setelah terguling di atas bukit.


Mata Rain terpejam, kepalanya terasa ingin pecah. Lilis memberikan obat karena Rain lukanya belum sembuh.


"Kita pergi ke mana Rain?"


Rain memberikan alamat tempat terakhir yang dikunjunginya bersama Ratu dan Putri. Rain membeli satu villa untuk menjadi tempat beristirahat saat lelah.


Pesan terakhir Rain jika mereka terpisah, Ratu harus mencarinya di villa pinggir pantai karena Rain akan beristirahat di sana. Begitupun sebaliknya Rain akan datang jika tidak bisa menghubungi Ratu.


"Aku harap kamu ada di sana, separah apa luka kamu sehingga butuh tempat istirahat?" Rain sangat mencemaskan Ratu karena tahu betapa kuatnya wanita yang selalu memukulnya.


Jika terluka, maka Ratu sedang menahan sakit yang sangat parah. Dia bahkan tidak pingsan setelah ditusuk, tapi kelaparan.


"Lis, apa luka Ratu?"


"Dia mengalami tiga tusukan, tembakan di lengannya, dan atas pundak."


Teriakkan Krisna terdengar hampir pingsan mendengar ucapan Lilis sampai mobil terhenti secara mendadak.


***


follow Ig Vhiaazaira