QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
LAMARAN



Sarapan pagi heboh ulah Raja yang sangat aktif, teguran Rain tidak didengarkan masih saja sibuk sendiri.


"Raja, kamu bisa diam tidak?"


"Raja dari tadi diam yang berisik sendoknya." Raja memukulkan sendok dan piring.


Senyuman Raja terlihat menatap Ratu yang berjalan ke arah mereka, Rain juga melihat Ratu yang baru selesai mandi.


"Minggir," pinta Hera yang menyenggol Ratu hingga langkahnya terhenti.


Lilis dan Michael yang melihatnya langsung berdiri, bukan mencemaskan Ratu namun takut belati menancap di punggung Hera.


"Rain, aku ada kabar baik. Seminar yang kamu lakukan ...." Belum selesai Hera bicara Rain bangkit berdiri dari duduknya.


Langkah Rain mendekati Ratu, berjongkok di depannya memasangkan tali high heels yang terlepas ulah Hera yang menyenggolnya.


Senyuman Ratu terlihat, mengibas rambutnya di depan Hera yang nampak terkejut karena Rain sangat mempedulikan Ratu.


"Sejak kapan Nona Ratu bersaing secara sehat?" Lilis menahan tawa melihat ke arah Michael yang mengusap dada.


Kursi tempat Ratu duduk ditarik, Rain mempersilahkan Ratu tanpa memperdulikan Hera yang masih berdiri.


"Kenapa kamu berdiri, silahkan duduk." Ratu mempersilahkan Hera bergabung karena baru tahu jika Hera perawat yang menjaga Raja.


Tatapan Hera tenang, langsung duduk meskipun tidak mendapatkan perhatian dari Rain.


"Ma, suapi Raja." Tangan Raja masih sibuk dengan game di ponsel.


"Lagi makan jangan main hp, lapar waktunya makan, main bisa kamu gunakan saat beristiahat." Ratu merapikan rambut Raja.


"Oh begitu ya Ma, Om Krisna yang mengajari Raja cara main game."


Kris yang sedang makan dengan tenang langsung menoleh, bukannya kembalikan jika Raja yang mengajarinya.


"Ma, apa kamu Mamanya Raja?" tanya Hera binggung.


"Iya, apa ada masalah?"


Kepala Hera menggeleng, merasa lucu saja dengan Ratu yang meninggalkan anak masih kecil demi kesenangan diri sendiri.


Cerita soal Raja yang tumbuh bersama bersama Papanya sudah tersebar. Rain harus bekerja sambil membawa anak kecil, tanpa baby sitter semuanya dilakukan sendiri.


"Kenapa kamu datang saat Rain sudah mapan?"


"Emh, aku sangat terharu karena Rain berjuang menjaga Raja, tapi lebih kagum demi menjaga perasaan aku tidak menerima satupun wanita meksipun hanya baby sitter." Senyuman Ratu terlihat menyuapi Raja yang menatap Papanya tidak bisa menelan makanan.


Bukan hanya Rain yang lain juga tidak bisa makan karena mendengar perdebatan dua wanita.


"Kamu tidak tahu malu?"


"Kenapa harus malu? kamu tidak tahu perjuangan aku mengandung selama sembilan bulan, lalu menahan rasa sakitnya melahirkan. Kamu tidak tahu rasanya perjuangan seorang ibu?" Kebohongan Ratu membuat Rain batuk hanya bisa menggeleng karena Ratu berubah penuh drama.


Raja yang mendengarnya hanya tertawa, memberikan tepuk tangan terbaik untuk mamanya karena sudah berjuang melahirkannya.


Tangan Hera tergempal, sesakit san sesulit apapun yang dirasakan tidak sepantasnya meninggalkan suami yang harus membesarkan anak seorang diri.


"Maaf, memangnya kamu siapa? apa calon istrinya Rain?"


"Jangan bicara sembarangan Ratu?"


"Dia sepertinya begitu mencintai kamu, dari matanya terlihat sekali membenci aku. Jika hanya perawat tidak mungkin menghakimi?" Ratu tertunduk sedih karena Rain membawa wanita lain.


Tarikan napas Rain tajam, Raja juga mengikuti Papanya yang tarik buang napas meladeni pertengkaran dingin dua wanita.


"Hera, lebih baik kamu pulang. Apa tidak malu mengejar seseorang yang tidak mencintai kamu?"


"Kamu juga kenapa tidak pulang, bukannya hari ini jadwal kembali?" Hera tahu jika Rain terpaksa menerima Ratu demi menjaga perasaan Raja agar tidak kehilangan sosok ibu.


"Kenapa kamu menyimpulkan sesuatu dengan bodoh? punya wajah cantik, juga memiliki segalanya, tapi otaknya lemot. Kamu hanya bayangan yang tidak terlihat, jika kamu tidak tahu maka jangan sok tahu, bikin malu." Kris yang merasa risih dengan keberadaan Hera yang memaksakan kehendaknya.


"Dia memang meninggalkan Rain dan Raja!"


"Bukan dia yang meninggalkan Rain, aku jijik melihat wanita model begini." Kris yang tersulut emosi.


"Kenapa Om yang ngamuk, cinta Om ditolak Tante Lilis." Tawa Raja terdengar memeluk Krisna yang masih kesal.


Senyuman Ratu telihat karena tidak ada yang perlu dirinya takutkan, sejuta wanita yang mencintai Rain, tidak akan mengubah perasaan yang mencintai Ratu.


"Rain, ayo kita kembali," pinta Hera.


Semua orang kaget melihat ke arah Hera yang masih saja ingin memaksa Rain meninggalkan Ratu.


"Aku tidak akan kembali sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan," ucap Rain yang masih lanjut makan.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Hera.


"Aku ingin kita menikah, tidak tahu kembali ke mana setidaknya sisa hidup aku ingin bersama kamu." Rain menggenggam tangan Ratu yang masih nampak kaget dengan apa yang dirinya dengar.


Suara rusuh Michael dan Krisna terdengar, heboh karena Rain memutuskan menikah di negara tempat mereka bertemu kembali.


Keputusan Rain untuk berpikir soal masa depan menjadi urusan belakang, paling penting mereka menjadi satu.


"Menikah itu apa Om?"


"Mama dan Papa jadi satu," jawab Krisna nampak bahagia.


Suara tangisan Raja terdengar, tidak ingin Mama dan Papanya jadi satu. Raja takut melihat tubuh keduanya menjadi setengah-setengah.


"Raja, kenapa kamu bodoh?"


"Tidak mau jadi satu, dua saja." Jari Raja menujukkan angka dua kepada Kris.


"Menjadi satu bukan tubuhnya, tapi Mama Papa akan hidup bersama. Raja tidak perlu memilih tinggal bersama siapa karena bisa bersama kedua-duanya." Krisna bertepuk tangan diikuti oleh Raja yang langsung senang.


Hera melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, tidak ingin melihat kebahagiaan Rain sama sekali.


Wajah Ratu berubah merah, masih tidak menyangka jika Rain akan mengatakannya di depan banyak orang.


Restoran hotel heboh, Rain tidak habis pikir jika akan mendapatkan ucapan selamat datang dari tamu hotel.


"Ratu, bisa kita pergi dari sini. Aku malu menjadi pusat perhatian," pinta Rain yang tidak melepaskan genggamannya sedikitpun.


"Kenapa, kamu menyesal?" bisik Ratu menyesal.


"Kenapa harus menyesal, aku tidak pernah menarik ucapan. Ayo kita hidup bersama, meksipun ada benteng tinggi."


Kepala Ratu mengangguk, tidak kuasa menahan air matanya. Ratu sadar jika dirinya manusia biasa yang sangat menginginkan cinta.


Sekejam apapun dirinya, hatinya masih tetap seorang wanita yang membutuhkan pelindung.


"Rain, aku memiliki banyak kekurangan."


"Aku juga, tidak ada manusia yang tidak ada kekurangan. Kita jauh dari kata sempurna, maka tidak ada yang salah dari hubungan kita yang ingin saling menyempurnakan." Rain mengusap kepala Ratu mengecup keningnya lembut.


Senyuman Lilis terlihat, air matanya menetes karena bahagia melihat Ratu bisa menangis juga tertawa.


Ratu yang mengerikan sudah tiada, dia mati tiga tahun yang lalu. Lilis berharap hanya bahagia yang mendekat.


***


follow Ig Vhiaazaira