QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
PERINGATAN



Sepanjang jalan di dalam mobil wajah Ratu tidak bersahabat, pelukan Hera masih terngiang di kepalanya karena begitu berani menyentuh Rain.


Ratu ingin marah, tapi dirinya tidak punya hak untuk marah, akibat kemarahannya yang tidak jelas hampir saja mencelakai Raja.


Tidak ingin mengambil keputusan sembarangan karena soal hati, Ratu tidak akan menurunkan harga dirinya.


"Kenapa kamu diam saja?" Rain menatap Ratu, tapi diam saja tidak menimpali.


"Mama cemburu gara-gra perawat Hera suka sama Papa, padahal Mama tidak tahu saja di kampus Papa menjadi incaran jutaan wanita." Raja membuat suasana hati Ratu semakin panas.


"Biarkan saja, Papa berhak menemukan kebahagiannya," balas Ratu dengan nada tenang.


Kepala Raja, Kris dan Lilis menoleh secara bersamaan karena Ratu terlihat sangat tenang tidak seperti awal yang sampai menyiapkan banyak pembunuh.


Mata Rain terpejam mengabaikan pembicaraan Raja daan Ratu yang terus menyindir dirinya.


Sikap Ratu yang mengabaikan membuat Rain terluka, tapi tidak bisa marah karna tidak punya hak.


"Meskipun Ratu tidak cemburu lagi, aku yang risih dengan sikap Hera, kenapa lancang sekali," batin Rain kesal saat dipeluk depan Ratu.


Sampai di hotel Rain meminta Kris membawa Raja ke kamar, dia masih punya urusan penting sebelum kembali.


"Rain ingin pergi bersama, Raja bisa bersama Mamanya."


"TIdak, kamu istirahat saja." Rain berjalan ke arah mobil Hera.


"Rain, kamu tidak boleh lelah karena demam kamu ...."


"Bisa kita bicara sebentar." Rain berjalan lebih dulu tidak membutuhkan perhatian Hera sama sekali.


Senyuman Hera terlihat, meskipun Rain bersikap dingin namun dia sangat baik sehingga mencemaskan Hera saat ditahan oleh orang tidak dikenal.


Sikap peduli Rain membuatnya yakin jika hanya wanita beruntung yang bisa memilikinya.


"Ada apa Rain?"


"Siapa kamu, perawat VVIP atau pemilik rumah sakit yang melakukan bisnis dengan banyak pengusaha yang memiliki rumah sakit pribadi?" Rain tidak sengaja menemukan kebenaran soal Hera saat dia menghilang.


"Maaf, aku tidak bermaksud membohongi kamu, tapi memang lebih nyaman tidak tahu siapa aku sebenarnya," ujar Hera yang sangat mengagumi kepintaran Rain.


"Baiklah, tidak penting juga bagiku," balas Rain yang memberikan peringatan terakhir agar Hera berhenti berada di dekatnya.


Kemunculan Hera yang spontan memeluknya membuat Rain risih, dia tidak suka disentuh oleh wanita manapun.


"Rain, aku mencemaskan kamu, lagian sudah waktunya kamu buka hati," pinta Hera yang kasihan kepada Rain belum bisa move on.


"Apa kamu pikir aku bahagia mendapatkan pelukan hangat? aku jijik. Seandainya tidak menghargai kamu sebagai wanita sudah lama aku dorong menjauh." Rain memberikan peringatan terakhir jika sampai Hera masih mendekatinya maka Rian terpaksa akan mengganggap sebagai menganggu.


Rain meninggalkan Hera yang masih berteriak meminta Rain mendengarkan ucapannya karena pembicaraan mereka belum usai.


"Sesulit itu mendekati kamu," gumam Hera yang sakit hati.


Rain tiba di kamarnya langung mandi karena merasa gerah, panggilan Kris tidak dihiraukan sama sekali.


"Rain," panggil Kris.


"Kak Rain kenapa?" Michael merenggangkan ototnya yang sudah mulai bisa digerakkan.


"Biasalah, sekarang mulai main hati." Kris menghantam tertawa bersama Michael.


Selesai Mandi Rian tarik selimut ingin tidur karena tubuhnya lelah, Kris yang menawarkan makan tidak dihiraukan sama sekali.


"Di mana Raja?"


"Oh Raja ikut Mamanya di lantai paling tinggi."


Rain langsung bangkit, melangkah naik ke lantai atas. Membunyikan bel kamar paling mewah di hotel.


Pintu terbuka lebar, Ratu menatap sinis ke arah Rain yang tersenyum manis ke arahnya. Meskipun Rain tersenyum, tida mengubah ekspresi Ratu.


"Di mana Raja?"


"Kenapa tiba-tiba pindah kamar, bukannya kamar ini ada pemiliknya?"


Kepala Ratu mengangguk tanpa megeluarkan suara apapun, tidak ingin banyak bicara karena hatinya masih kesal.


"Aku ingin masuk melihat Raja," pinta Rain dengan nada yang sangat lembut.


"Tidak boleh, bukannya kamu sendiri yang mengatakan jika Raja akan ikut aku. Kami tidak membutuhkan kamu lagi, secepat mungkin aku akan membawa Raja kembali. Kamu bisa pergi sekarang." Ratu tersenyum sinis langsung menutup pintu kuat.


Bel berbunyi kembali Rain tidak menyerah agar Ratu membuka pintu, ada banyak hal yang harus dibicarakan jika ingin membawa Raja.


"Apa lagi?" Ratu membuka pintu dengan ekpresi kesal.


"Kenapa harus marah? masih ada waktu untuk tetap di sini." Rain mendorong pintu, memeluk pinggang Ratu agar tidak jatuh.


Pukulan Ratu mendarat tidak suka disentuh, dirinya tidak akan jatuh hanya melawan tenaga Rain yang tidak seberapa.


Pintu ditutup perlahan oleh Rain, tangan Rain menyentuh pundak Ratu yang terasa sangat kuat.


"Benarkan aku selemah itu jika dibandingkan dengan kamu?" Rain mendorong pelan tubuh Ratu ke arah dinding.


"Apa kepala kamu ingin pecah?" Ratu menatap wajah Rain terdengar.


"Pecahkan saja, aku ingin melihat kamu menangis aku," balas Rain tenang karena tidak takut lagi kepada Ratu.


Kedua tangan Ratu mendorong dada Rain, tapi tubuhnya semakin tertekan ke arah dinding. Bibir Ratu terasa hangat merasakan Rain menghisap pelan.


Tidak ada perlawanan, tangan Ratu meremas baju menahan tubuhnya yang mengikuti naluri otak kotornya.


"Apa Raja tidur nyenyak?" bisik Rain pelan di arah telinga.


Tubuh Ratu merinding seketika, tidak bisa gerak kanan dan kiri lagi karena tubuhnya terkunci.


Mata keduanya terpejam, rasa perih terasa di leher dan dada atas Ratu karena sentuhan lembut dan hangat.


"Mama sama Papa lagi apa?" Raja terbangun mengucek matanya.


Rain langsung melepaskan Ratu, memalingkan wajahnya karena tidak ingin Raja melihat ekspresinya.


"Pa, temenin Raja tidur." Raja menarik tangan Rain naik ke atas ranjang.


"Kamu sudah besar, seharusnya tidur sendiri." Rain naik ke atas ranjang karena Raja meminta dielus punggungnya.


Senyuman Ratu terlihat menatap Rain yang menidurkan Raja kembali, satu tangan Rain meminta Ratu juga naik.


Keduanya tidak bisa mengeluarkan suara karena Raja pasti akan bangun, Ratu juga mengantuk memutuskan untuk tidur.


"Ratu, kamu cemburu?" tanya Rain sangat pelan.


"Kenapa aku harus cemburu, jika aku ingin melenyapkannya terlalu mudah." Ratu menatap wajah Rain yang sangat dekat dengannya.


"Kamu mengerikan jika marah, tapi melihat seperti ini terlalu menggemaskan." Rain mengecup bibir Ratu lembut.


"Papa, menghadap ke arah Raja." Tubuh Rain ditarik oleh Raja agar menatapnya.


Rain menarik napas panjang karena Raja memeluknya erat, matanya terpejam kembali setelah memeluk Papanya.


Tangan Ratu memeluk Rain dari belakang, meminta Rain tetap diam karena Ratu sudah lama tidak tidur nyenyak.


"Ratu, kamu lapar tidak? kita keluar makan."


"Tidak mau, nanti aku bertemu wanita itu bisa aku cabut nyawanya." Ratu menenggelamkan wajahnya di leher Rain.


"Katakan jika aku tidak boleh menatap wanita itu?"


"Iya tidak boleh, Ratu tidak suka."


***


follow Ig Vhiaazaira