QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
GANTI PANGGILAN



Sampai matahari terbit Ratu tidak memejamkan matanya, masih memeluk Adiknya yang tidur sambil menangis, tiba-tiba kaget sambil teriak-teriak.


"Kakak pasti akan menemukan pelakunya, kamu tidak boleh sakit sendirian." Ratu mengusap punggung adiknya yang sudah bangun, tapi masih bergumam pelan.


Ketukan pintu terdengar, Ratu berjalan perlahan membuka pintu mendapatkan laporan jika Papinya meminta dirinya pulang ke rumah karena ada masalah serius.


Mata Ratu berkedip pelan meminta Lilis segera menemuinya, Ratu kembali ke kamar Elisha yang sudah berdiri di depan jendela.


"Pemandangannya bagus tidak Elis, kamu suka tidak? apa ini Elisha ingin makan apa?" Ratu mengusap kepala adiknya yang diam saja.


Makanan yang Ratu minta diletakkan di depan pintu kamar, Ratu memasukkan obat ke dalam makanan Elisha agar dia bisa tidur tenang tanpa mimpi buruk.


"Putri, kamu makan dulu." Ratu menunjukan makanan.


Kepala Elisha menggeleng, langsung teriak-teriak melihat garpu di dalam piring. Ratu langsung menyingkirkan barang yang ditakuti adiknya.


"Makan dulu, Putri tidak harus minum obat. Elisha Putri lihat mata Kakak Ratu. Ini Kakak Ratu, kamu harus percaya sama Kakak." Ratu meminta adiknya duduk yang langsung menurut.


Sendok diarahkan ke mulut Elisha, langsung menyambut makanan. Mengunyah pelan, sampai makanan habis di dalam mulut.


"Putri sabar." Ratu tercengang melihat adiknya merampas piring langsung makan menggunakan tangan sampai berhamburan.


Pintu terbuka, Lilis melangkah masuk merasa kaget melihat makanan Elisha berhamburan, dia makan dengan lahap seperti orang yang tidak pernah makan.


"Pelan-pelan Nona Elisha, kamu bisa makan sepuasnya." Suara Lilis lembut, mengambil piring yang kosong.


"Makan, lapar." Tangisan Elisha terdengar mengejar Lilis yang mengambil piring.


Ratu masih termenung di dalam lamunan, menatap lantai yang penuh makanan berserakan di mana-mana.


Kedua tangan Ratu tergempal kuat, tarikan napasnya panjang mencoba menahan diri agar tidak terpancing emosi karena membutuhkan tenaga untuk bertahan.


Mendengar suara Elisha berteriak, Ratu langsung bergegas keluar melihat adiknya mengamuk meminta makanan lagi.


"Bersihkan kamar Nona Putri." Ratu menatap pelayan yang dia pekerjaan untuk mengawasi Elisha.


Di dapur Elisha sudah membanting kursi, meminta Lilis segera memberinya makan. Jika tidak dia akan menghancurkan segalanya.


"Kamu bisa mendapatkan makanan, tapi duduk manis dan makanan akan datang, jika tidak maka kamu tidak akan mendapatkan apapun." Ratu tersenyum melihat Putri langsung menurut duduk tenang menunggu makanan.


Tangan Ratu mengusap pelan kepala adiknya, menyuntikkan sesuatu di lengan membuat Elisha menangis.


"Jangan menangis, ini makanan baru untuk Elisha Putri si cantik." Makanan Lilis letakkan di depan Elisha memintanya makan pelan agar tidak banyak tumpah.


Kepala Ratu mengangguk, Elisha masih merespon dengan baik sehingga harapan Ratu sangat besar.


Kesembuhan Elisha menjadi misi utamanya, respon baik Elisha menjadi semangat Ratu untuk mengembalikan kondisi adiknya.


"Nona Ratu harus segera pergi karena keluarga Albert sedang menunggu," ujar Lilis yang akan menggantikan Ratu menjaga Putri.


"Kenapa aku harus terburu-buru, siapa mereka yang bisa memerintah aku?" Ratu lebih senang melihat adiknya makan dengan lahap.


Makanan Ratu juga diletakkan di atas meja, Lilis meminta Ratu juga makan karena dia juga membutuhkan tenaga.


"Mulai sekarang panggil dia Putri, hilangkan nama Elisha." Mata Ratu memincing melihat Putri menukar makanannya dengan miliknya yang sudah hampir habis.


Lilis yang melihat kelicikan Putri menahan tawa, seandainya orang lain pasti kepala Putri sudah terpisah dari badannya karena Ratu tidak pernah makan berdua dengan siapapun apalagi makan sisa.


"Apa makanannya enak?" tanya Ratu sambil tersenyum manis.


Tanpa peduli dengan Lilis, mengambil buah yang sudah dikupas langsung dimakan. Tahu rasanya enak senyuman Putri terlihat.


"Enak." Putri memeluk buah yang kunyah karena bisa makan layak tidak seperti biasanya diperlakukan layaknya binatang.


"Bagus jika kamu suka, Kakak senang mendengarnya. Cepat sembuh Putri agar aku bisa menangkap mereka semua." Ratu pamitan pergi meminta Lilis menjaga ketat Putri selama dirinya pergi.


Melihat Ratu beranjak pergi, putri membawa piring mengikuti Ratu, tapi Lilis menahannya karena keberadaan putri tidak boleh di ketahui oleh siapapun.


Mobil mewah Ratu meninggalkan hotel setelah memerintah penjagaan ketat, Ratu mengemudi dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan jalanan yang padat.


Panggilan masuk, Ratu membanting setir mobil saat mengetahui jika Rain mengetuk pintu berkali-kali meminta Ratu sarapan dan minum obat.


"Sialan, aku lupa soal Rain." Ratu bergegas ke apartemen Rain karena jaraknya yang berdekatan dengan lokasinya berada.


Sampai di apartemen, Ratu memanjat menuju balkon kamarnya melihat seorang wanita yang langsung pergi meninggalkan kamar.


"Dua jam lagi, gantikan aku." Ratu mengangguk pelan meminta pengawalnya menunggu di bawah.


Ketiga kalinya Rain mengetuk pintu kamar Ratu karena ada dokter yang ingin mengecek lukanya.


Pintu kamar terbuka, Ratu mengacak rambutnya agar terlihat baru bangun tidur. Bajunya juga sudah diganti baju sebelumnya.


"Kenapa lama sekali membuka pintu?"


"Badan aku sakit semua, mengeluarkan suara juga sulit." Ratu melihat Rain yang nampak curiga.


"Kita periksa dulu lukanya," pinta dokter agar Ratu berbaring kembali.


"Lukanya patah sekali, pantas saja kamu kesulitan bangun. Kenapa tidak dirawat saja?" Dokter menatap Rain yang nampak terkejut melihat luka di pinggang Ratu.


"Kenapa lukanya semakin parah, perasaan kemarin tidak seburuk ini?" Rain melihat jahitan yang sudah tidak sama.


Ratu memilih diam meringis kesakitan karena lukanya dibersihkan baru diobati kembali. Ratu ingin sekali teriak, tapi dia tidak memiliki tenaga.


"Kenapa lukanya semakin buruk? kenapa tubuh kamu banyak lebam?" Rain membuka baju, tapi Ratu menahan tangan Rain.


"Tuan ingin melakukan pelecehan?"


"Jaga ucapan kamu," ujar Rain yang mengutuk dirinya sendiri karena kebablasan.


Dokter selesai mengobati Ratu, memberikan obat. Meminta Ratu tidak banyak bergerak karena lukanya belum kering.


"Terima kasih dokter, besok tolong datang lagi untuk memastikan jika dia baik-baik saja." Rain berjalan keluar bersama dokter.


Dokter mengatakan jika luka Ratu terkena sayatan, jahitan pertama dan kedua berbeda arah karena luka tusukan ke dalam sedangkan sayatan pisau dari samping.


"Bagaimana mungkin, dia hanya berdiam diri di kamar dari mana dapat luka lagi? batin Rain yang merasa heran dan binggung.


Tidak ingin banyak pikiran, Rain mengabaikan apapun yang Dokter katakan, membawakan makanan untuk Ratu agar dia segera minum obat.


"Besok aku akan pergi selama dua hari, kamu libur kerja selama tiga minggu. Setiap pagi akan ada dokter dan pelayan yang datang. Apapun kebutuhan kamu katakan kepada mereka." Rain menatap dada Ratu yang juga ada luka padahal saat bersamanya hanya mendapatkan satu tusukan.


"Kenapa lelaki ini matanya jelalatan?" gumam Ratu sambil menutup dadanya.


***


follow Ig Vhiaazaira