
Suara hempasan ponsel terdengar, Ratu menatap layar yang memperlihatkan seluruh pasukannya yang berjaga mundur.
Lilis tidak bisa dihubungi hanya meninggalkan Ratu dan Putri berdua saja tanpa penjaga.
Perasaan Ratu keadaan akan semakin buruk apalagi tanpa penjagaan. Kondisi Clen semakin tersudut pasti akan mencari bantuan dari luar.
"Ratu, dada Putri sesak, Papa jahat." Putri mengigau saat sedang tidur teriak-teriak meminta tolong.
"Putri, kau bangun dan berjanji kepada Kakak Ratu untuk tidak pernah keluar kamar." Ratu melihat beberapa orang tamu, meninggalkan hotel.
"Miko, dia sepertinya sudah tahu siapa aku." Ratu melangkah keluar kamar mengunci pintu agar Putri tidak keluar kamar.
Ratu duduk santai di ruang tamu, menatap senjata dan belati yang ada di tangannya menunggu kedatangan Miko.
Pintu terbuka tanpa ada penghalang, Miko tertawa terbahak-bahak karena Ratu menyambutnya dengan senyuman manis.
"Hai Ratu, tidak aku sangka kamu ternyata Putri pertama Albert, katakan di mana Aryani dan Elisha?" Miko duduk di hadapan Ratu.
"Apa kamu berpikir aku akan memberitahu?" tanya Ratu.
Tawa Miko kembali terdengar tidak menyangka jika Ratu tidak menggunakan keamanan sama sekali, dia menyambut Miko dengan senang hati.
"Kamu ingin mengatakan keberadaan mereka atau mati, apa kamu pikir Rain akan datang melindungi kamu?" kepala Miko menggeleng, Rain yang sebenarnya sudah membawa Aset perusahaan untuk pergi jauh.
"Ratu mencengkram kuat, Lilis membawa pasukan demi Rain sedangkan mereka pergi secara bersama-sama.
Sudah Ratu peringatan perasaan Cinta bisa membuat sebaik apapun pasti akan berubah tidak ada kata setia jika sudah jatuh cinta.
Ratu saat ini tidak bisa mengandalkan siapapun, dia hanya bisa bertahan sendiri mengusir Miko dan membawa adiknya pergi.
"Katakan di mana Aryani, aku sudah tahu siapa kamu karena Albert yang mengatakannya, jika kamu tetap diam maka terpaksa aku akan membunuh kamu," ujar Miko yang berjalan mengelilingi ruangan.
"Jangan kebanyakan bicara, coba saja jika kamu mampu membunuh aku?" Ratu menantang Miko yang melihat ke arah Ratu dengan tatapan kaget.
Tida ada rasa takut dan cemas di wajah Ratu, masih saja santai dan tenang. Ratu tidak bergerak dari tempat duduknya menunggu serangan Miko.
"Sehebat apa kamu Ratu?"
"Aku lebih kuat dari kamu. Albert saja gagal membunuh aku, bahkan aku menjadi pemimpin lebih dari seribu pasukan. Miko aku tidak bisa mundur hanya dengan ancaman, kita para pemain di kelas kejahatan, apa ada yang bisa menghentikannya?" kepala Ratu menggeleng karena orang seperti mereka tidak pernah takut mati.
"Kamu benar kita pemain, mati dan terluka makanan sehari-hari. Apalagi kamu gadis berpengalaman."
"Jangan menakuti, aku tidak memiliki seseorang yang harus dilindungi, berbeda dengan kamu yang harus melindungi sosok papa, wanita yang dicintai serta putra yang harus sukses dengan jalan yang kamu siapkan." Tawa Ratu terdengar karena jika Miko bermain-main dengannya mka Ratu akan menyingkirkan keluarganya.
"Jangan mengancam Ratu, kamu belum bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup," ucap Miko yang duduk di depan Ratu sambil tersenyum manis.
"Maka kamu harus melakukan semaksimal mungkin agar aku mati hari ini, tapi jika kamu gagal maka sudah tahu akibatnya. Bukan kamu yang pertama mati, tapi orang yang menjadi keluarga kamu." Ratu tersenyum menyeringai melihat ke arah Miko yang nampak marah.
Tidak ingin bicara terlalu panjang, Ratu bukan seseorang yang bisa digertak pertahanannya, dia punya keberanian dan tidak butuh pasukan.
"Bunuh wanita ini, bawa seseorang yang ada di kamar itu." Miko menunjuk ke arah kamar Putri.
Puluhan orang berbadan besar bergerak mendekat, Miko menunggu di luar kamar menghisap benda pipih di tangannya.
Suara pertarungan terdengar, satu dua hingga tiga orang terlempar keluar kamar membuat Miko bertepuk tangan karena mengakui kehebatan beladiri Ratu.
Dia memang petarung yang sangat hebat, puluhan orang tidak akan mampu membuatnya tumbang apalagi hanya petarung jalanan.
Langkah Miko berhenti saat belati menancap di dadanya, Ratu berdiri tenang, tapi bisa menggerakkan belati hingga tepat sasaran.
"Tuan Miko," panggil bawahannya yang melihat dada Miko tertusuk.
"Aku hanya memberikan satu gambaran, itu yang pernah terjadi kepda Aryani, Clen akan mati tepat di kepalanya sedang putramu akam mati setelah pendarahan di perutnya." Ratu tertawa puas karena Miko tidak sekuat yang dibayangkan.
Suara tembakan terdengar, Miko menembak pintu kamar Putri, dia juga tahu jika Putri ada di dalam dan dia satu-satunya kelemahan Ratu.
"Rain sudah mengatakan semuanya jika kamu dan Elisha bersembunyi di sini, sudah waktunya aku merenggut nyawa kalian berdua.
"Lakukan jika kamu mampu." Kedua tangan Ratu terangkat menyapa Miko sambil tertawa.
"Perempuan sialan, mati kamu hari ini!" Miko melangkah maju menyerang Ratu.
Pertarungan sengit terjadi hingga menghancurkan seluruh isi kamar hotel, Ratu dann Miko sama kuatnya.
Pukulan kuat menghantam wajah Ratu, tubuhnya terpental sampai keluar balkon menembus kaca.
Miko juga tersungkur sampai kepalanya berdarah. Langsung cepat berdiri mengejar Ratu mencekik lehernya ingin dijatuhkan dari lantai tertinggi.
Tendagan Ratu menendang kaki, Ratu membalik posisi sampai Miko yang hampir dijatuhkan ke bawah.
Keduanya masih sama-sama bertahan, Miko tidak ingin bermain-main lagi, mengeluarkan belati menusuk perut ratu berkali-kali sambil tersenyum menyeringai.
Suara tembakan terdengar, Miko melihat ke arah belakang menatap Putri yang melepaskan tembakan menolong kakaknya.
"Lepaskan Ratu, aku akan menembak kepala kamu jika sampai dia terluka." Putri tidak main-main dengan ucapannya.
Seorang penjaga mencoba mendekat, Putri melepaskan tembakan tepat di dada hingga tersungkur mati.
Mata Ratu menatap tajam, melarang Putri untuk melepaskan tembakan satu kali lagi, jika sampai peluru habis maka mereka akan terdesak.
"Serahkan Ratu padaku!" Putri mengulurkan tangannya.
Miko mengusap darah yang mengalir dari pundaknya karena tembakan putri, mengetahui jika Putri gila maka Miko mendorong Ratu ke arah putri.
Tangan Ratu menutup perutnya melangkah ke arah adiknya menunjukkan senyuman lebar karena Elisha Putri membuktikan ucapannya jika suatu hari akan melindungi kakaknya.
Keduanya melangkah mundur, perlahan keluar dari kamar untuk menyelamatkan diri. Putri berjalan mundur mengarahkan senjata sedang Ratu berjalan memeluk pinggang Putri berjalan lurus ke depan.
"Kalian berdua tidak mungkin bisa keluar dari tempat ini, di lantai bawah juga penuh dengan pasukan bersenjata." Miko tersenyum ke arah putri yang terlihat sangat berani.
"Jangan takut Putri, selama Ratu bernapas maka semuanya belum berakhir." Ratu menghentikan langkahnya.
"Aku ingin dia mati, dia jahat karena sudah membuat Putri mengalami gangguan jiwa." Putri ingin melepaskan tembakan, tapi Ratu langsung mengambil alih menembak tepat di dada Miko.
Meskipun ada ratusan penjaga yang mencoba melindunginya tidak mungkin mampu menghindari tembakan Ratu.
Tubuh Miko tersungkur, Ratu dan Putri masuk lift yang langsung tertutup tersenyum puas melihat Miko tumbang.
***
follow Ig Vhiaazaira