
Persiapan pernikahan tidak membutuhkan banyak waktu karena Rain dan Ratu memutuskan mengikat janji pernikahan secara tertutup.
Mereka berdua juga tidak memiliki keluarga, sehingga tidak tahu siapa yang akan merestui.
"Ratu, kamu yakin akan menikahi Rain?" Lilis berdiri di samping Ratu yang menatap gaun putih di hadapannya.
"Ya, aku ingin tahu siapa suamiku. Kris yang sedari kecil bersamanya saja tidak tahu siapa dia, apalagi aku yang baru." Ratu yakin Rain pria baik, hanya saja kepintarannya membuat Ratu penasaran.
Tangan Ratu menyentuh gaun pengantin, tersenyum manis ingin segera mengenakannya.
"Aku ingin hari esok segera tiba," ucap Ratu yang langsung memeluk Lilis.
Senyuman Lilis terlihat, merasakan pelukan hangat Ratu pertama kalinya membuat Lilis sangat bahagia. Membalas dengan pelukan erat penuh kasih sayang.
"Jika aku bahagia, kamu juga harus menyusul. Jangan berlama-lama di sisiku, kamu juga berhak bahagia." Ratu mengusap kepala Lilis yang tersenyum manis merasa bahagia karena Ratu juga bahagia.
"Mama." Raja mengeluarkan kepalanya dari dalam gaun yang berdiri tegak.
Teriakkan Ratu dan Lilis terdengar secara bersamaan, gaun mewah ditendang sampai terjungkal.
Raja langsung berdiri, menundukkan kepalanya karena terkejut melihat gaun terpental.
"Raja sayang, maafkan Mama." Ratu memeluk Raja yang menangis kencang.
Dia berpikir Ratu marah padanya sampai membuang gaun mewah hingga roboh. Raja hanya bermain di dalamnya, tidak merusak apapun.
"Raja jangan menangis, Mama tidak sengaja." Ratu sampai panik mengecek tubuh Raja jangan sampai ada luka.
Senyuman Lilis terlihat, menarik patung gaun agar berdiri kembali. Jika sampai desainnya rusak sebelum dipakai bisa gawat.
"Sayang, maafkan Mama. Kamu kenapa di dalam gaun?"
"Maafkan Raja, Ma. Kenapa patungnya ditendang?"
Kedua tangan Ratu terlipat memohon maaf karena terkejut pada akhirnya melayangkan tendangan. Tidak ada maksudnya Ratu ingin menyakiti.
Tangisan Raja akhirnya berhenti, duduk manis di depan mamanya menunggu nasihat dari Ratu. Jika Raja melakukan salah, papanya pasti memintanya duduk mendengarkan.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Ratu, saat dirinya kecil juga nakal seperti Raja.
"Mama dulu juga nakal?" senyuman Raja terlihat.
Jari telunjuk Ratu berada di bibirnya, meminta Raja bicara pelan jangan sampai di dengar oleh Papa Rain.
"Dulu, Mama selalu memanjat tangga, pohon, kondisi rumah setiap hari berantakan."
"Papa marah tidak?"
"Papi dan Mami tidak pernah marah, selalu bicara lembut juga penuh kasih sayang." Ratu mengusap kepala Raja lembut.
"Papa selalu marah kalau rumah berantakan, apartemen kita besar, tapi lebih besar rumah. Papa punya ruangan rahasia, saat Raja tidur Papa pasti pergi ke sana." Raja menceritakan ada ruangan yang luas, dan layar yang besar.
Rasa penasaran Ratu dan Lilis semakin besar, duduk tenang di depan Raja sampai ceritanya di selesai.
Ruangan kerja Papanya terlihat aneh karena ada banyak layar, Papanya bisa berada di dalam sampai pagi tanpa tidur.
"Apa yang Papa lakukan di ruangannya?"
"Papa punya ribuan bawahan, tapi Raja tidak mengerti."
Lilis menatap Ratu yang meminta Raja tidak pernah mengatakan kepada Papanya jika Mama bertanya soal ruangan rahasia Papa.
Kepala Raja mengangguk, Raja tidak mungkin berani mengatakan karena dirinya pasti dimarah jika pernah masuk ke dalam ruangan pribadi Papanya.
"Halo Papa," sapa Raja saat tahu Papanya sudah ada di belakang Mamanya.
"Apa yang kalian bicarakan sampai bisik-bisik tetangga?" Rain memincingan matanya merasa penasaran.
"Ini rahasia perempuan tahu," balas Raja sambil tersenyum.
"Memangnya kamu perempuan?" Rain melipat tangannya di dada.
"Ini rahasia ibu dan anak, bapak-bapak tidak boleh tahu." Ratu membela Raja membuat Rain tidak bisa membantah lagi.
Senyuman Rain terlihat, sekarang dirinya diduakan. Asik berdua saja tanpa dirinya membuat hati Rain sakit.
Lilis yang ada di antara keluarga bahagia merasa tidak nyaman karena tidak dianggap, dirinya seperti patung yang sedang duduk.
"Kenapa gaunnya kotor?" Rain menujuk ke arah gaun.
"Kotor," teriak Ratu panik langsung mengecek baju yang memang ada nodanya.
Tatapan Rain tajam melihat Raja yang sudah melarikan diri, sedangkan Ratu panik melihat gaun pengantin kotor.
"Coba kita minta bantuan yang desain, jangan menangis." Rain mengecek kondisi baju.
Lilis bergegas keluar ruangan, memanggil bagian yang menjahit baju Ratu. Apalagi Ratu hampir menangis.
"Bagaimana ini, padahal ini gaun pertama Ratu yang dibelikan."
"Kenapa bicara begitu, aku akan selalu membelikan gaun keinginan kamu." Rain membantu Ratu berdiri.
Keduanya berdiri menatap gaun cantik yang akan dikenakan keesokan harinya untuk mengucapkan janji pernikahan.
Tangan Rain memeluk pinggang Ratu, mengukur tubuh calon istrinya yang pasti terlihat sangat cantik.
"Besok hari pernikahan kita, apa ada yang kamu inginkan?"
"Tidak ada, aku hanya menginginkan kamu." Ratu tersenyum malu-malu.
"Ratu, aku bukan seorang penjahat. Aku hanya pria biasa yang diam saja melihat kejahatan," ujar Rain pelan sambil menarik napas panjang.
Kepala Ratu mengangguk, dia tahu jika Rain tidak pernah ikut campur dengan urusan orang lain, dia lebih bahagia berada dalam kesunyian.
"Kak Rain, apa kita pernah bertemu sebelumnya saat masih muda?"
"Apa sekarang aku terlihat tua?"
Tawa Ratu terdengar, menggelengkan kepalanya. Bukan maksudnya mengatakan jika Rain tua, tapi Ratu merasa keduanya pernah bertemu.
Melihat calon pengantin tertawa bahagia, Lilis tidak berani masuk bersama pelayan yang akan mengecek baju.
Kebahagiaan terlihat sekali di wajah keduanya seakan dunia milik mereka berdua. Tidak ingin tahu apa yang akan terjadi di hari esok.
"Rain, keluar sebentar." Kris membuka pintu langsung berlari keluar.
Hotel yang sudah Krisna booking didatangi oleh sekumpulan orang berbadan besar, meminta hotel dikosongkan.
Tidak mengerti alasan pastinya, jika tidak segera angkat kaki maka akan ada pertumpahan darah.
"Kamu cari Raja, jangan turun ke bawah." Rain mengecup kening Ratu langsung bergegas turun.
Ratu meminta bajunya segera dibersihkan, Ratu berlari mencari Raja yang ternyata sudah bersama Michael.
"Ada apa di luar?" tanya Ratu yang ikut melihat dari jendela.
"Ramai sekali, apa itu mobil kodok?" Raja menunjuk ke arah mobil yang paling unik.
Mata Michael dan Ratu terarah ke mobil, Ratu mengambil kacamata pembesar melihat seorang wanita dan pria yang berjalan pelan.
"Masih tidak jera," ujar Ratu melihat Hera datang menggunakan gaun mewah bersama orangtuanya.
"Apa Hera meminta pertanggung jawaban kak Rain atau Kak Krisna?" Michael menebak jika ada yang tidur bersama Hera sehingga dipaksa untuk menikah.
"Sialan," ucap Lilis yang langsung keluar.
"Kali ini bukan hanya wajah yang aku hancur, tapi nyawa kamu akan putus." Ratu melangkah keluar kamar untuk menemui segerombolan cacing.
***
follow Ig Vhiaazaira