
Memasuki bulan kelahiran Lilis semakin merasa tegang, takut dan cemas menyelimuti dirinya. Sesekali rasa sakit juga sudah terasa, tapi masih mengikuti saran dokter.
"Aunty kenapa, diam-diam menahan pub?" tanya Alex sambil tertawa.
"Perut Aunty sakit ," jawab Lilis yang menyentuh perutnya.
Raja langsung berlari kencang melewati Paman Lion yang berjalan membawakan susu, berlari memanggil Krisna dan Papanya yang sedang berada di ruangan kerja.
"Tuan muda ada apa?" Lion berlari mengejar Raja yang sudah menerobos masuk ruangan kerja.
Penjaga yang mengawasi ruang kerja berlarian mencoba menghentikan Raja yang lari sekencang angin.
Tatapan mata Rain tajam melihat Raja yang menerobos masuk, Kris hanya tersenyum kecil menatap Raja ngos-ngosan.
"Ada apa King?" tanya Kris yang mengacak rambut Raja.
"Anu ... Aunty perutnya sakit." Tangan Raja menunjuk ke arah luar.
Tanpa bertanya lebih lanjut Krisna langsung berlari mencari keberadaan istrinya yang sedang sakit perut.
"Papa tidak ingin lari menemui Aunty? Sekarang Raja suudah menjadi kakak yang siaga." Senyuman Raja terlihat bangga kepada dirinya sendiri.
Senyuman Rain terlihat berjalan keluar bersama Raja yang berlari lebih dulu menemui Lilis yang berada di taman belakang.
"Paman Lion, mana susu Raja?"
"Raja sudah besar berhenti minum susu," tegur Rain yang berjalan ke arah gerbang meminta mobil disiapkan.
Ratu keluar dari kamar melihat rusuh karena suara Raja yang berteriak dari banyak arah, ribut karean susu, ribut juga karena Lilis yang ingin lahiran.
"Ada apa sayang?"
"Lilis sakit perut, mungkin sudah waktunya lahir." Tangan Rain mengusap perut besar Ratu mengecup lembut karena anaknya juga akan segera lahir, sisa menunggu empat minggu lagi.
Suara Lilis marah kepada suaminya terdengar, dirinya belum ingin lahiran hanya sakit perut kontraksi palsu.
Lirikan mata Kris tajam ke arah Raja yang sudah berguling di sofa menghabiskan susunya.
Peringatan Rain tidak dipedulikan karena masih tetap minum susu sesuai keinginannya, meskipun banyak makan minum tetap susu.
"Ada apa Lis?"
"Perut mulai sakit, tapi rasanya belum pembukaan. Raja membuat heboh seluruh kastil dengan kabar aku ingin lahiran," jelas Lilis yang duduk di samping Raja.
Senyuman Ratu terlihat, mengusap perut Lilis tidak ada salahnya pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri karena memang sudah bulannya.
"Perjalanan ke kota juga cukup jauh, apa kamu yakin bisa bertahan?" Ratu menyarankan menggunakan helikopter untuk pergi ke rumah sakit.
"Rumah medis kita jauh lebih canggih daripada rumah sakit besar di luar sana. Aku lebih percaya mereka yang akan mengeluarkan Langit dengan selamat." Senyuman Lilis terlihat mengusap perutnya lembut.
Ratu hanya bisa mengangguk, berharap bayi laki-laki yang dikandung Lilis menjadi lelaki yang kuat dan memiliki derajat tinggi seperti langit yang dikagumi oleh alam.
"Aku tidak sabar lagi menanti Langit lahir," ujar Ratu yang merasakan gerakan bayi.
Lilis menundukkan kepalanya, Ratu meminta tim medis bersiap karena air ketuban pecah. Kris dan Rain melihat ke arah kaki yang mengalirkan air.
"Mobil sudah siap belum, ayo cepat." Rain meminta Krisna menggendong Istrinya.
"Aku bisa jalan sendiri." Lilis berpegang dengan suaminya yang terlihat pucat.
Kedua tangan Raja bertepuk tangan karena senang melihat adik pertamanya akan lahir, tanpa memperhatikan wajah yang lainnya panik.
Paman Lion menarik tangan Raja agar menghentikan tepuk tangan yang tidak penting.
Dua mobil melaju pergi ke arah rumah medis yang baru selesai pembanguan dan memasukkan banyak dokter dan alat teknologi canggih.
Kepala semua dokter yang bertugas menunduk, Ratu juga keluar membuat semuanya diam.
"Apa yang kalian lakukan, air ketuban sudah pecah!" teriakkan Ratu terdengar berjalan mengikuti Lilis yang masih berusaha kontrol diri.
Rasa sakit yang dirasakan sungguh luar biasa, Lilis belum pernah merasakn sakitnya yang hampir mencabut nyawanya.
"Silahkan berbaring Nona Lilis," pinta dokter yang mlihat pembukaan.
Ratu menunggu ddi luar dengan perasan tegang apalagi kRisna yang haruus masuk dalam keadaan ttangan gemetaran.
"Sayang apa kamu takut?" tanya Rain mengenggam jari jemari istrinya.
Senyuman Ratu terlihat, takut tidak namun Ratu merasakan cemas, apa dirinya bisa membawa anaknya lahir ke dunia.
Suara teriakan Lilis terdengar, Ratu langsung berdiri menatap ke arah pintu karena suara Lilis meringis kesakitan terdengar sampai keluar.
"Ya Tuhan jika boleh manusia berdosa ini meminta, berikan kebahagiaan kepada Lilis, dia tidak memiliki siapapun, izinkan dia memiliki buah hati agar ada tujuan untuk hidup." Air mata Ratu menetes melipat kedua tangannya.
Suara tangisan bayi terdengar, Rain tersenyum kecil ke arah Ratu yang tidak tahan ingin melihat kondisi Lilis.
Usapan lembut dipunggung terasa, Rain meyakini jika Lilis dan Putranya dalam keadaan baik.
Di dalam kamar suara tangisan Lilis terdengar memeluk Kris yang juga menangis sesenggukan karena melihat bayi laki-laki lahir dengan selamat.
"Sudah jangan menangis, Langit sudah lahir dengan selamat." Kedua tangan Krisna menggedong Putranya yang sangat mengemaskan.
"Kalian yang di dalam berapa lama lagi, apa pintu ini harus aku hancurkan!" teriakkan Ratu terdengar membuat Lilis tersenyum.
Dokter langsung membukakan pintu, mempersilahkan Ratu masuk karena Lilis dan bayinya dalam keadaan sehat.
"Nona," panggil Lilis sambil meneteskan air matanya.
"Kenapa menangis, sekarang kamu sudah menjadi ibu harus lebih kuat lagi," ujar Ratu yang menatap Lilis, memeluknya erat memberikan selamat.
"Lilis ingin hidup lebih lama lagi, Lilis ingin melihat Langit tumbuh menjadi pemuda."
Kepala Ratu mengangguk, mengusap air mata Lilis. Tidak ada yang perlu LIlis khawatirkan karena Langit pasti akan tumbuh menjadi pemuda.
"Melihat kamu sekarang saja aku bangga, tidak sia-sia aku menyelamatkan kamu. Sekarang sudah memiliki keluarga, maka jadilah ibu yang baik." Ratu tersenyum sangat manis melihat bayi yang ada dalam gendongan Krisna.
"Ibu yang baik tidak memegang senjata lagi, tidak pukul-pukulan lagi. Seperti itu sayang?" tanya Rain menatap istrinya yang mengerutkan kening.
"Benar," balas Krisna yang menggedong bayinya ke arah Rain.
Tatapan Lilis tajam, menjadi ibu yang baik bukannya harus berhenti bertarung. Lilis dan Ratu tersenyum menatap dua Papa yang nampak bahagia menyambut kehadiran Langit.
Dokter meminta izin untuk membersihkan Lilis terlebih dahulu baru pindah ke kamar rawat. Keluarga bisa menunggu di ruangan perawatan.
"Apa bayinya sudah boleh dibawa? tanya Ratu.
Kepala Lilis mengangguk, membiarkan Ratu membawa putranya terlebih dahulu. Paham jika Ratu tidak sabar lagi menunggu kelahiran bayinya.
Kris mengenggam tangan istrinya mengucapkan terima kasih karena sudah menahan rasa sakit, mempertaruhkan nyawa demi putra mereka.
"Langit mirip siapa?"
"Mirip Ratu," jawab Krisna yang terkejut baru sadar jika Langit lebih mirip Ratu.
***
Follow Ig Vhiaazaira