
Obrolan Ratu dan Rain berlangsung lama, sampai Alex bangun dan menatap keduanya sinis.
"Kenapa kamu berdiri di situ?" Rain meminta Raja mendekat.
"Susu mana?" Alex mengusap perutnya yang sudah lapar lagi.
"Susu, berarti kita harus mencari sapi terlebih dahulu." Ratu meminta Rain menemaninya mencari sapi.
"Kamu ingin mencari sapi, lakukan bersama Raja. Aku mengantuk." Tawa Rain terdengar merasa lucu dengan Ratu yang salah paham soal sapi.
Rain naik ke atas tempat tidur, memejamkan matanya tidak menghiraukan dua orang yang membahas susu.
Raja sudah mengomel karena susunya kemasan bukan dapat dari sapi, terlalu lama jika masih ingin mengelola susu sapi.
"Cepat Ma, Raja lapar sekali."
"Sabar sayang, di mana susunya?" Ratu melihat ada beberapa kotak susu.
Tatapan Raja kembali sinis melihat mamanya membolak-balik kotak susu, tidak mengerti cara membuatnya.
helaan napas terdengar, Raja mengajari Mamanya cara membuatkan susu. Ratu cepat belajar sambil tersenyum manis.
"Susu sudah siap." Ratu menyerahkan kepada Raja.
"Terima kasih Ma," ucap Raja yang menyambut susunya, tapi langsung terjatuh di lantai.
Teriakkan Raja sangat besar karena tangannya panas, Ratu langsung panik membangunkan Rain yang menahan tawa.
"Rain, tangannya merah." Ratu panik melihatnya.
"Aduh Mama ini bagaimana? tidak jadi terima kasihnya." Raja meniup tangannya yang panas.
"Sudah jangan lebay." Rain mengajari Ratu cara membuatkan susu.
Setelah susu siap, Raja tidur kembali karena habis satu botol, Ratu merasa bersalah karena membuat tangan Raja merah.
"Bagaimana ini?"
"Sudah jangan dipikirkan, dia sudah biasa diajarkan kuat." Rain memeluk Ratu dari belakang membutuhkan pelukan hangat sebelum tidur.
Tangan Ratu mengusap kepala Raja yang lanjut tidur lagi, Ratu merasa bersalah karena membuat susu saja tidak bisa.
"Kenapa Raja tidur terus?"
"Dia sedang mengumpulkan tenaga untuk besok pagi, satu hotel ini akan dia buat rusuh." Rain meminta Ratu tidur karena seharian mereka mencari Raja.
Suara Rain tidur terdengar, Ratu melepaskan pelukan di pinggangnya perlahan. Ratu turun dari ranjang karena tidak bisa tidur.
Pikiran Ratu masih soal pertanyaan Rain siapa yang akan masuk, dan siapa yang akan meninggalkan.
Pintu tertutup rapat, Ratu menemui Lilis yang sedang duduk sendirian di taman menatap kalungnya yang putus.
"Aku melihat tatapan mata kamu tidak ingin menggunakan kalung itu lagi?" Ratu berdiri di belakang Lilis yang kaget melihat keberadaan Ratu.
"Nona Ratu, maaf aku tidak tahu kapan kamu muncul," ucap Lilis yang meremas kalungnya.
"Jika tidak ingin menggunakannya buang saja, aku sudah pernah mengatakan pergilah jika sudah menemukan tempat yang nyaman." Ratu duduk di samping Lilis yang nampak binggung dengan ucapan Ratu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
Tatapan Ratu dingin, dirinya tidak bisa terrsenyum jika ada yang pergi darinya, tapi Ratu juga tidak akan menghentikan.
Kepala Lilis menggeleng, bagaimana mungkin dirinya meninggalkan Ratu seorang diri. Sudah menjadi sumpah dan janjinya untuk setia.
"Aku tidak bisa pergi," ucap Lilis yang menatap langit malam.
"Sama, aku juga. Ada dua lagi pilihan, dia yang masuk atau berpisah." Ratu memejamkan matanya karena berat sekali hatinya memilih.
"Nona siap kehilangan?"
Mata Ratu terbuka, melihat ke arah Lilis yang nampak serius. Kehilangan pertama ada kesempatan, tapi kehilangan selajutnya tidak akan ada peluang.
"Tidak, aku juga tidak bisa kehilangan." Ratu mengacak-acak rambutnya, meremas kuat karena hampir gila jika terus memikirkan soal apa yang harus dilakukan.
"Lalu apa yang akan Nona lakukan?"
"Kamu sendiri apa yang akan dilakukan?" Ratu bertanya balik.
Tawa Lilis terdengar, hanya ada satu solusi. Jika Ratu ingin membawa Rain tanpa adanya perdebatan, Ratu harus mengandung anak Rain, maka dia tidak akan melepaskan anaknya.
Adik dari ibu yang dibenci saja dicintai, apalagi darah dagingnya sendiri. Rain pasti akan menyayanginya berkali-kali lipat.
"Mengandung anaknya, apa kamu gila? saat mabuk berat saja, otaknya masih jalan apalagi dalam keadaan sadar." Ratu ingin memukul Lilis yang memberikan solusi yang membunuhnya.
"Nona sudah pernah mencobanya?" Lilis nampak kaget karena Ratu ternyata nakal juga.
"Jaga ucapan kamu! aku tidak segila itu." Ratu memalingkan wajahnya karena dirinya memang pernah memikirkannya, tapi Rain tidak bisa dijebak dengan minuman.
Dua wanita duduk diam, memikirkan pilihan terbaik yang harus mereka lakukan. Ratu merasa jatuh cinta lebih menakutkan daripada hantu.
"Nona, bagaimana jika menggunakan obat, mungkin bisa?"
"Boleh dicoba dulu, kamu bersama Krisna. Jika berhasil hamil baru aku mencobanya."
"Jangan gila, bagaimana nasibku dan anakku? Kris tidak mencintai aku," ujar Lilis keceplosan.
Lirikan mata Ratu sinis, wanita terkejam seperti mereka masih punya waktu memikirkan soal cinta.
"Kalian berdua ingin menikah?" Michael mengejutkan Ratu dan Lilis.
Dua pukulan menghantam wajahnya, Michael terjatuh di tanah karena kepalanya hampir pecah.
"Kenapa kamu bisa kalah dari pembunuhan bayaran itu? membuat malu saja," sindir Ratu kepada Adiknya yang masih tergeletak.
"Emh, Lilis mengakui pemuda itu cukup kuat." Lilis membantu Michael berdiri.
Kedua tangan Michael memegang pipinya yang sakit karena pukulan maut, sekuat apapun tenaganya tidak akan mampu menangkis.
"Kenapa Kak Ratu masih berpikir dua kali? wanita biasa saja terus maju pantang menyerah, tapi Kak Ratu yang dicintai memilih berpikir." Michael mengenggam tangan Kakaknya yang harus membuka lembaran baru.
"Kamu tahu apa soal hidup, selama ini kamu hidup enak."
"Bukan mencari enak tidaknya, tapi masa depan. Kak Ratu tidak ingin menjadi ibu, melihat anak kecil berlarian tersenyum ke arah Kak Ratu. Michael mau keluarga, suatu hari aku akan memilikinya." Senyuman Michael telihat, penjahat juga membutuhkan cinta.
Cinta yang tulus dia yang menerima segala kekurangan, jaga saling memperbaiki diri. Cinta bisa mengubah segalanya yang tidak mungkin.
"Dengarkan Michael, cinta itu rasa makanya tidak butuh pengertian, tapi perasaan. Kita bisa merasakannya, tanpa mampu mengerti dan memahaminya." Tangan Michael menepuk dadanya karena dirinya ingin jatuh cinta.
Kepala Ratu dan Lilis geeng-geleng, bicara dengan Michael banyak drama. Dia sendiri tidak tahu rasanya cinta, tapi sibuk meminta orang merasakannya.
"Wanita biasa saja berjuang, siapa dia, memperjuangkan apa?"
"Kak Ratu tidak tahu jika perawat Hera masih berjuang mendapatkan Kak Rain. Dia cantik juga kaya, hidup Kak Rain terjamin."
"Kamu cari mati!"
Kepala Michael menggeleng, bergegas pergi sebelum Ratu tumbuh taring juga tanduk. Ratu jika marah tidak main-main bisa retak tulang.
"Kenapa dengan wanita itu, cari tahu siapa dia," perintah Ratu kepada Lilis yang langsung mengangguk pelan.
***
follow Ig Vhiaazaira