QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BALAS DENDAM



Tangan Ratu menunjukkan rekaman soal Sinta yang menyelamatkan Rain saat ada di rumah, bukan hanya menyelamatkan namun meminta Rain pergi.


Menghubungi Rain berkali-kali hanya ingin memastikan jika putranya dalam keadaan baik, Sinta tidak ingin Albert mengetahui soal Rain.


"Jelaskan Sinta, kamu tahu akibat jika kau marah," ucap Albert yang memberikan kesempatan kepada Sinta untuk mengungkap kebohonagnya.


Paksaan Albert tidak mengubah apapun, dia tetep tidak mengakui jika pernah memiliki anak. Rain bukan siapa-siapa baginya, jangankan memiliki hubungan melihat wajahnya saja Sinta tidak Sudi.


Tangan Ratu tergempal, Sinta ibu yang begitu kejam. Dia tidak mengakui Rain, tidak pernah menginginkannya.


"Kamu dengar sendiri apa yang Sinta katakan, dia tidak mengenali kamu. Dugaan kamu salah jika dia wanita yang melahirkan, maka tidak akan ada penyesalan lagi sekalipun kamu mati." Ratu bicara dibalik handphone langsung dihancurkan karena pembicaraan mereka sudah usai.


Ratu ingin melangkah pergi, Sinta berteriak kuat menatap Ratu tajam karena apa yang Ratu banggakan soal ibunya tidak benar.


"Kamu anggap aku wanita rendah, lalu apa bedanya dengan ibu kamu?"


"Tentu ada, kamu pelayan yang bertugas melayani Mama. Kamu sengaja membuat Mama hamil dengan laki-laki lain, terlihat sebagai wanita polos hingga ada di posisi sekarang." Ratu berjalan mendekati Sinta karena wanita berhati busuk seperti Sinta tidak layak menjadi seorang ibu.


Dia membuat Nyonya rumah layaknya sampah, melakukan kejahatan dengan bersembunyi tangan hingga berjaya.


Menunggu waktu puluhan tahun jauh lebih baik, daripada gagal di awal. Begitulah yang Sinta lakukan, terlihat cupu padahal suhu.


"Jaga ucapan kamu Ratu, lalu bagaimana dengan kamu?"


"Kenapa aku, hanya Rain yang pernah meniduri aku seharusnya kamu senang." Tawa Ratu terdengar melihat wajah Sinta yang terkejut.


"Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan Rain, jika kamu tidak bicara maka akan ada yang menemukan identitas Rain," ancam Albert yang lebih mempercayai Ratu karena dia tidak pernah berbohong.


Ratu memang kejam namun dia tidak memiliki rahasia apapun, jika ingin menghancurkan langsung bicara di depan tidak ada yang dia tutupi.


"Kamu tidak mempercayai aku, bagaimana jika nyawa Alip taruhannya?" Sinta menggendong Putranya yang masih diinfus.


Tanpa rasa kasihan Sinta melepaskan infus di tangan Alip membuat anak berusia dua tahun menangis histeris karena menahan rasa sakit.


Wajah Ratu dingin kasihan melihat bayi tidak bersalah di jadikan korban, Ratu memang ingin menyakiti Sinta, tapi tidak dengan bayinya yang tidak bersalah.


"Lepaskan Alip, dia tidak ada sangkut pautnya." Albert mengulurkan tangannya karena Sinta ingin menjatuhkan Alip dari balkon hotel.


"Kenapa kamu tidak percaya, lebih mempercayai seorang pejahat?"


Kepala Albert mengangguk, dia akan mempercayai Sinta. Ratu hanya membawa kebohongan, Albert begitu mencintai Sinta namun orang yang paling dirinya percaya hanya Ratu.


Dari luar kamar Lilis mendengar semuanya meminta bantuan Krisna mengungkap siapa Rain sebenarnya.


Suara langkah kaki berlarian terdengar, tubuh Krisna ada darah karena melewati bawahan Ratu juga Albert.


"Apa sekarang aku ada di jurang kematian, ada apa ini?" Kris memberikan apa yang Lilis inginkan.


Sebelum pergi, Ratu meminta Lilis melakukan tes DNA antara Albert, Rain, Putri, Sinta juga Ratu. Lilis melangkah masuk menunjukkan hasil tes DNA jika Rain 99% anak Sinta, sedangkan Ratu anak Albert begitupun dengan Putri.


Tangan Albert gemetaran mustahil jika Putri anaknya karena sebelum Albert sudah melakukan tes DNA jika Putri bukan anaknya, tapi anak pengawal pribadi istrinya.


Wajah Sinta semakin pucat, memeluk putranya karena tidak ada jalan baginya untuk melarikan diri.


Dia tidak memiliki siapapun, tidak pernah mengungkap kehancuran hatinya kepada siapapun, tapi jika Rain tahu Ibunya wanita kejam mungkin akan lebih menghacurkan.


"Aku harap ibu Rain sudah mati, seharusnya kamu tidak melahirkan dia," ujar Krisna yang merasa kasian kepada adiknya.


"Aku juga tidak menginginkannya, Rain terpaksa ada di rahimku. Dia memang hanya beban karena itu aku memintanya untuk menjauh." Sinta akhirnya mengakui jika dia hamil saat masih sangat muda.


Tidak mungkin dirinya menjadi orang tua tanpa suami, apalagi dirinya masih kecil. Rain hanya akan hidup menderita bersamanya, sehingga membuangnya.


Apa yang Sinta lakukan demi kebaikan Rain, dia tidak perlu tahu soal Ibunya apalagi keluarganya. Dia hanya Putra yang terpaksa di lahir.


"Aku membiarkan hidup jauh lebih baik daripada hidup bersamaku." Sinta meminta Albert membawanya keluar jika tidak Alip akan dia suntik mati.


"Kenapa kamu menyakiti anak kecil?" Lilis ingin menyerang, tapi Ratu menahannya.


Albert menatap Ratu, melangkah mengikuti Sinta yang sudah mengarahkan suntikkan kepada Alip.


Tatapan mata Albert gelap, dia sudah menyingkirkan istri yang sangat dicintainya karena termakan hasutan wanita yang dipandang mata baik.


Bukan hanya istri, tapi Putri kecil yang sejak bayi tidak mendapatkan kasih sayang. Di saat kematiannya Albert bahkan tidak melihat tubuh Elisha.


"Sin, kenapa kamu melakukan ini kepadaku?"


"Apa yang aku lakukan Albert?"


"Jangan berlagak bodoh, aku membunuh anak dan istriku. Menghacurkan hidup Ratu hingga buas seperti sekarang. Sinta kamu sungguh kejam sudah mengendalikan pikiranku." Mata Albert berkaca-kaca karena sekarang Akip juga akan menjadi korban.


"Bukan aku yang kejam, tapi kamu yang bodoh. Berapa banyak pejahat mendekati kamu, termasuk Aryani dan Miko? jika tidak ada aku maka kamu gagal." Sinta menatap tajam Albert yang terlihat menyesali semuanya.


Kepala Sinta celingak-celinguk karena tidak melihat keberadaan Ratu yang seharusnya ada di belakang mereka.


Kepanikan terlihat di wajah Sinta, dia yakin sekali Ratu sudah menyiapkan sesuatu untuk menyambutnya di bawah.


"Masuk ke lift Albert," pinta Sinta memaksa.


"Lepaskan Alip, buat aku sebagai gantinya." Albert menatap Alip yang didorong kuat hingga tersungkur jatuh.


Suara tangisan anak kecil terdengar, Albert menatap Krisna untuk menyelamatkan Alip. Dia tidak bersalah, jangan sampai menjadi korban kejahatan kedua orangtuanya.


Albert hanya diam saat jarum suntik ada di lehernya, Sinta tidak pernah mencintai namun memanfaatkan.


"Kamu pasti sangat menyayangi Rain, mencoba melindunginya?"


"Tentu aku menyayangi putraku, dia peninggalan satu-satunya dari lelaki yang kamu lenyapkan. Jika saat itu kamu tidak membunuh kekasihku mungkin hidupku dan Rain tidak akan hancur." Tangisan Sinta terdengar, tujuan Sinta hanya menyingkirkan keluarga Albert karena menjadi penyebab kematian kekasihnya juga putus hubungan dirinya dan Rain.


Kepala Albert mengangguk, sekarang dirinya paham. Sinta duduk tenang dan bermain santai karena ingin membalaskan kematian kekasihnya.


Rain terpaksa diasingkan agar Sinta bisa membunuh keluarga Albert perlahan, dimulai dari Ratu, istri Albert, Elisha, Michael bahkan Alip sekalipun karena dia juga anaknya Albert.


***


follow Ig Vhiaazaira