
Mendengar tangisan dan amukan Raja membuat Ratu terdiam, Rain menatap Ratu yang membuka baju Rain untuk mengobati luka agar tidak infeksi apalagi Rain sedang sakit.
"Aduh sakitnya leher Raja, mana tidak ada air minum." Raja berguling di atas ranjang memegang lehernya.
"Dia yang mulai duluan menyiram menggunakan air, aku pikir ...." Ratu tertunduk merasa bersalah.
"Kamu pikir dia menyakiti aku?" Rain membuka bajunya yang sudah basah air dan darah.
Senyuman Rain terlebih mengambil obat yang Raja bawa, langsung meminumnya satu kali tegukan.
Beberapa pengawal datang, Rain meminta pergi meninggalkannya karena Rain tidak butuh obat.
Luka di pundak sudah Ratu balut, dirinya sempat panik karena takut Rain mati. Apalagi tubuhnya sangat panas.
"Kenapa Alip bisa bersama kamu?"
"Ceritanya panjang, butuh waktu lama aku menceritakannya. Membesarkan dia juga tidak mudah, aku kehilangan jati diri karena ulahnya." Rain menatap Raja yang masih berguling-guling.
"Seharusnya kamu tidak membesarkannya," ucap Ratu yang memalingkan wajahnya.
"Aku hampir membuangnya, aku juga ingin melupakannya, tapi aku tidak sanggup. Cukup aku yang lahir tanpa tahu kenapa dilahirkan, cukup aku yang tahu sakitnya hidup tanpa cinta dan kasih sayang." Harapan Rain tidak akan pernah ada lagi anak yang bernasib buruk seperti dirinya.
Tangan Ratu menyentuh kening Rain yang dingin karena disiram air dingin oleh Raja, anak kecil yang sok tahu.
"Ratu, lepaskan Hera, dia ...."
"Kenapa aku harus melepaskannya, bagaimana jika dia aku lenyapkan?"
"Kamu kenapa marah lagi, apa kamu cemburu? berikan aku waktu menjelaskan, jangan marah-marah." Rain menggelengkan kepalanya menatap Ratu.
"Apa yang ingin kamu jelaskan? kalian ingin pamer jika begitu bahagia bersamanya."
"Dia perawat Hera, bukan Mama Raja. Kenapa Mama Ratu bicaranya sok tahu? coba tanya Raja dulu." Bibir Raja manyun tidak suka jika Hera menjadi mamanya.
Lirikan mata Ratu tajam, Raja juga menatapnya tajam berkali-kali lebih tajam melawan Ratu.
Krisna melangkah masuk melihat Rain yang terluka, Kris tidak berani marah karena peluru bisa tertanam di kepalanya.
"Bawa Rain ke rumah sakit, lukanya sudah aku atasi," ujar Ratu menjelaskan kepada Kris kondisi Rain yang memburuk karena demam.
"Raja, kamu tetap di sini bersama Mama," pinta Rain menatap Raja.
Kepala Krisna menggeleng, tapi Rain memaksanya keluar meminta Ratu mengawasi Raja.
Pintu tertutup, Ratu melihat ke arah Raja yang duduk sambil tertunduk menahan tangisannya karena Papanya pergi.
"Jangan menangis, Papa kamu akan segera kembali." Ratu berjalan ke arah ranjang melihat air mata jatuh di tangan.
"Papa bilang, jika Mama Ratu datang maka Raja harus ikut Mama. Papa selalu bilang jika wajah Raja selalu membuat Papa terluka." Tangisan Raja terdengar karena dia sudah mengerti jika Rain membenci hidupnya.
Kehadiran Raja hanya luka terdalam yang membuatnya tidak bisa melupakan masa lalu, Raja sedih jika Papanya selalu mengatakan suatu hari Raja harus pergi dari hidupnya.
"Kehadiran kamu memang petaka bagi kami, dibiarkan hidup mengingatkan masa lalu, tapi dimatikan kamu masih harus hidup. Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Ratu kaget melihat leher Raja merah ulah dirinya.
Ratu berjongkok, menyentuh leher Raja. Tangan Ratu menyentuh kalung yang melingkar di leher Raja.
"Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?"
"Om Krisna, dia menitipkannya. Raja tidak mencuri milik Tante Lilis.
"Kamu mengenal Lilis?"
Kepala Raja menggeleng, dia tahu dari ceritanya Michael. Raja belum pernah melihat wajah Lilis, tapi Raja senang karena dia bisa melihat wajah Ratu.
Tangan Raja mengusap wajah Ratu, tersenyum manis karena Ratu sangat cantik. Jauh lebih cantik dari apa yang Papanya ceritakan, tidak bisa dibandingkan dengan lukisan Papanya yang mirip patung kayu.
"Katakan apa yang kamu inginkan, Ratu akan berusaha memberikannya?"
"Raja ingin punya Mama dan Papa, semua teman Raja punya, hanya Raja yang tidak ada. Raja tidak berani mengatakan kepada Papa, takut Papa sedih." Tangisan Raja terdengar, ada banyak kesedihan yang disembunyikan dari papanya karena Raja tidak ingin menambah beban.
Pintu terbuka, Lilis berlari masuk melihat Ratu memeluk Raja. Air mata Ratu menetes tanpa mampu dirinya tahan.
Pertama kalinya Lilis melihat Ratu menangis, saat Putri meninggal dia hanya diam di bawah hujan setelah melupakan begitu saja.
Mendengar tangisan Raja membuat air mata Ratu tumpah, ucapan Raja sama seperti Putri yang menahan sakitnya karena takut membebani Ratu.
"Jangan menangis lagi, siapa yang menyakiti kamu maka akan lenyap ditangan Mama Ratu."
"Benar ya, tidak boleh bohong. Raja takut sama Papa kalau malam suka memegang dadanya karena sakit, tapi Raja tidak bisa berbuat apapun."
"Memangnya Papa sakit apa?"
"Sakit rindu." Tawa Raja terdengar.
Ratu yang awalnya serius langsung menatap tajam, ingin rasanya melenyapkan Raja yang masih sempatnya bercanda.
"Ais, sia-sia air mataku." Ratu mengusap air matanya karena hatinya tenang melihat Alip masih hidup karena Ratu selalu bermimpi melihat Alip berada di dalam kobaran api.
"Nona Ratu, ini obatnya." Lilis mengusap punggung Ratu yang menepis tangan Lilis.
"Lilis, ini Tante Lilis. Cie cie pacarnya Om Krisna datang. Ini kalung Tante, Raja kembalikan." Sekuat tenaga Raja menarik kalung.
Lilis dan Ratu berteriak, melarang Raja memutuskan kalung karena akan ada alarm kematian.
Tangan Raja terangkat memegang kalung putus, Ratu terlambat menangkapnya. Lilis sudah terduduk lemas di lantai.
Wajah Lilis langsung lemas, di markas pasti sedang kacau karena ada alarm dari kalung Lilis yang putus sebagai tanda jika dirinya gugur dari pertempuran.
"Cepat umumkan keadaan di sana!" teriakkan Ratu sebelum bunga duka disebar.
Suara teriakkan Michael kuat karena mengetahui alarm kematian Lilis, melangkah masuk ke dalam sambil menangis menatap kakaknya.
"Kak, kenapa Kak Lilis ...."
"Aku masih hidup!" kesal Lilis menatap Raja yang hanya berdiri diam memeluk kalung.
Lirikan mata Ratu tajam, kenakalan Raja tidak ada lawan. Selain jahil dia juga sangat nakal, barang orang rusak.
"Kenapa kalungnya diputuskan?" tanya Ratu.
"Ini hanya barang, masih bisa diperbaiki. Raja akan perbaiki, jangan marah-marah." Raja duduk menatap kalung yang putus.
Lilis melangkah mendekat, mengambil kalung. Tangan Lilis tergempal, mengusap kepala Raja memakluminya.
"Lain kali jangan diputuskan, ini ada cara melepaskannya." Lilis menujukkan cara melepaskan.
"Jangan salahkan Raja, Om Kris hanya memasangkannya, tidak mengajarkan cara melepaskannya." Senyuman Raja terlihat, berguling di atas ranjang menggunakan paha Ratu sebagai bantal.
Senyuman Lilis terlihat, Raja cukup pintar. Perlahan Ratu mengolesi luka agar cepat pulih.
"Ma, Raja sebenarnya nakal, tapi ada baiknya."
"Baiknya apa?" Senyuman Ratu kembali telihat, mendengar bisikan pelan Raja.
Mata Ratu berkaca-kaca, teringat kepada Putri. Seadanya Putri masih ada, dia pasti bahagia sekali memiliki Raja.
***
follow Ig Vhiaazaira