
Suara teriakan Putri terdengar, berlari kencang di pantai yang sangat indah menyambut matahari terbit.
Ratu hanya duduk diam memantau Putri yang begitu bahagia, dia ingin terbang tinggi melihat langit yang indah.
Ratu melihat ke arah Rain yang berbaring di pasir pantai, matanya tertutup menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.
Wajah Ratu mendekat, menyatukan hidungnya dan Rain. Mata Rain masih tertutup tidak menyadari Ratu memeluknya.
"Ratu!" teriakan Putri menyadarkan Ratu yang langsung berdiri begitupun dengan Rain yang kaget mendengar teriakkan begitu kuatnya.
"Ada apa Putri?"
"Ratu kecup hidung Rain." Tawa Putri terdengar mengejek Ratu yang nampak sangat santai.
Kepala Rain menoleh ke arah Ratu, tatapan Ratu sinis duduk kembali sambil memejamkan matanya.
"Putri tidak mungkin bohong?"
"Kamu percaya sama dia?"
"Kamu berpikir aku tidak merasakannya, sekarang apa lagi yang kamu curigai sehingga mengetes aku?"
Di dalam hatinya Ratu mengumpat karena Rain menyadari perilakunya karena sedang curiga.
"Mencurigai orang wajar Ratu, tapi tolong jangan berpikir aku lelaki bejat yang bisa bercinta dengan sembarangan wanita." Rain berbaring kembali, jangankan berhubungan bahkan Rain tidak pernah merasakan jatuh cinta.
Berhubungan pasti memiliki resiko apalagi sampai hamil, Rain tidak memiliki bayangan soal anaknya.
"Bagaimana jika kamu lelaki yang menodai Elisha?"
Mata Rain terbuka, duduk di samping Ratu dengan ekspresi kaget. Rain menunjuk dirinya yang melakukan hal bejat.
"Aku yang melakukan, di mana akal sehat kamu?"
"Kamu selalu bersama Krisna, maka bisa saja kamu memang pelakunya," tuduh Ratu dengan nada marah.
"Jahat sekali tuduhan kamu, bagaimana jika aku tidak terlibat?"
"Buktikan, sekalipun nyawa kamu taruhannya." Ratu menantang Rain ingin tahu cara Rain menangani masalah.
"Oke, apa untungnya untukku?"
Keuntungan yang Rain inginkan membingungkan Ratu, pria yang tidak membutuhkan harta, bantuan, informasi bahkan apapun. Tidak ada yang bisa Ratu tawarkan karena Rain memang tidak memiliki keinginan.
"Apapun?"
"Aku menginginkan kepercayaan kamu," pinta Rain karena dia tidak menyukai tatapan ragu yang diberikan oleh wanita dihadapannya.
Kepala Ratu mengangguk, dia pastikan akan mempercayai Rain jika bisa membuktikan Rain dan Krisna tidak terlibat dalam jebakan menghacurkan hidup Elisha.
Suara Rain memanggil Putri terdengar, memintanya segera pergi karena matahari terbit sudah usai.
"Kita makan apa Rain?"
"Apapun yang kamu suka," balas Rain yang memasangkan topi.
"Putri ingin tinggal bersama Rain," pinta Putri agar Rain mengizinkan dirinya dan Ratu tinggal bersama.
Senyuman Rain terlihat, meminta maaf karena sementara waktu Putri harus tinggal bersama Ratu, dan tidak bisa bertemu Rain.
Setelah keberadaan Putri aman, barulah Rain akan menjemputnya untuk tinggal bersama dengannya.
"Terima kasih Rain."
"Ayo kita sarapan dulu, nanti Putri istirahat di hotel bersama Ratu." Rain mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang sudah menyiapkan seluruh makanan yang dia siapkan.
Ratu tidak tahu alasan Rain akan menghilang sementara waktu, hanya membiarkan saja sampai Rain membuktikan jika dia tidak terlibat.
"Makan Ratu, jangan menatap aku terlalu lama." Rain memberikan minuman.
"Kamu membutuhkan seseorang untuk membantu?"
"Jangan cari tahu soal aku, tidak ada yang spesial. Kamu hanya akan menangis sakit."
"Aku tidak pernah menangis," balas Ratu.
"Bukan tidak pernah, air mata kamu diganti dengan kemarahan." Rain mengunyah makanan lelah dengan ceramah Ratu.
Sarapan pagi penuh canda karena Putri yang menjadi pemecah suasana dingin, meksipun ada wanita es dan pria baru keduanya bisa cair karena kekonyolan Putri.
"Habis, Putri suka makan di sini. Rain, nanti kita pergi ke sini lagi," pinta Putri memohon.
"Boleh, setelah kamu sembuh. Putri harus cepat sehat dan tidak bergantung dengan obat-obatan lagi." Rain meminta Putri TOS tangan.
"Aku dan Putri akan kembali siang ini juga, kamu hati-hati dengan Miko." Ratu memberikan peringatan jika Miko bukan pengawal biasa.
Kemampuan bela diri Miko tinggi, dia juga seorang penjahat yang tidak bisa ditangkap. Belum ada yang berani menahan Miko meskipun tahu kasusnya karena dia memiliki banyak pengaruh juga bawahan.
Rain tidak bisa melawannya dengan tenaga, tidak juga dengan pasukan. Hanya ada satu cara untuk menjatuhkan Miko dengan mengadunya bersama orang yang membayarnya.
"Kamu mengenal baik Miko?"
"Aku tahu dia, tapi dia tidak tahu aku."
"Terimakasih informasinya, aku masih menunggu siapa orang pertama yang mempekerjakan Miko," jelas Rain karena dia tidak bisa mencari identitas Miko.
"Orang yang memperkenalkan Aryani, keduanya ada hubungan. Clen meminta Miko berada di sisinya untuk menjatuhkan Albert, padahal Petro yang akan dihancurkan oleh Miko," jelas Ratu setelah mendapatkan informasi dari Aryani.
Ratu tidak ingin percaya begitu saja, baik pihak Clen, maupun Albert diisi oleh para pengkhiantan. Siapapun yang rela mengeluarkan dana besar maka dia pasti akan unggul.
"Boleh aku minta bantuan?"
"Apa?" tanya Ratu.
"Jangan sampai Krisna tahu soal pekerjaan kita. Jangan tanya alasan," ujar Rain yang tidak ingin banyak orang yang tahu soal kerja samanya bersama Ratu.
"Kamu takut dianggap pengkhianat?" tawa Ratu terdengar karena Rain begitu setia kepada Krisna yang bahkan mengganti posisinya dengan orang baru.
Putri duduk diam, teringat wajah seorang pria yang berdiri di hadapannya. Keributan terdengar hingga perkelahian, banyak yang berjatuhan hingga melarikan diri. Seorang lelaki berbaju hitam menyuntik pemuda di hadapan Elisha, dan meninggalkan keduanya pergi.
"Ratu, siapa pria itu, apa yang dia lakukan kepada Putri?"
Ratu mengenggam tangan adiknya, meminta Putri sadar. Jika terlalu berat saat ingatan muncul maka lupakan lagi.
Sungguh Ratu tidak rela adiknya menderita dengan mengingat pecahan memori menyakitkan.
"Pemuda itu terluka, dia tidur di atas tubuh Putri."
"Siapa dia Putri?" Ratu meminta ciri-ciri, menunjuk wajah Rain yang mungkin ada di sekeliling Putri saat kejadian.
Kepala Putri menggeleng, tidak ada Rain yang Putri lihat. Semua pria seumuran Ratu, tidak ada yang remaja hanya Putri sendiri.
"Put, jangan diingat memori itu. Putri ingat saja persahabatan dengan Ratu pasti lebih menyenangkan." Rain mengusap kepala Putri, memberikannya obat agar mengantuk.
Ucapan Aryani benar, pelaku awalnya memang banyak, tapi orang terakhir bersama Ratu hanya Krisna.
"Aku akan segera menemukannya, jangan terlalu mencemaskan Putri."
"Aku tidak cemas, kondisi Putri jauh lebih baik. Dia tidak mengamuk dan menangis lagi." Ratu bernapas lega karena ada kemajuan.
Senyuman Rain terlihat, melihat senyuman Ratu yang lebih tulus karena tidak menuduhnya lagi jika terlibat dengan kasus Elisha.
"Kamu ternyata bisa tersenyum manis, biasanya menyeringai seperti penjahat."
"Memang aku penjahat!" Ratu menendang Rain kuat sampai kaki membiru.
***
follow Ig Vhiaazaira