QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
PAPA DAN MAMA



Wajah Krisna lemas melihat kondisi rumah Rain, setelah dua minggu Kris sibuk di luar karena kasus kematian Albert juga kehancurannya.


"Aku pikir hanya Albert yang hancur, ternyata rumah kamu juga Rain?" Kris menggeleng tidak sanggup melihat kenakalan Raja.


"Selama dua minggu aku juga sudah gila," balas Rain pusing melihat tingkah laku Raja yang sangat nakal.


Tawa Kris terdengar tidak heran Sinta tidak sanggup, Raja terlalu nakal sehingga membuatnya stres," ujar Kris yang menunjukan kepada Rain soal kematian Albert.


Teriakkan Rain terdengar, Raja langsung tertawa merasa jika Rain mengajaknya bermain bukan memarahinya.


"Jangan Raja," bentak Rain memukul tangan karena memegang berkas penting.


"King, King." Raja mengaburkan kertas.


Tawa Krisna terdengar menggendong Raja untuk berguling bersamanya di atas ranjang, membiarkan Rian bekerja sendiri.


Mata Krisna dan Raja melihat ke arah langit-langit kamar, Kris menceritakan jika dirinya dan Raja memiliki nasib yang sama karena tidak memiliki orang tua. Kris hanya terlahir lebih dulu, sedangkan Raja terlambat.


"Papa lampu," ucap Raja menunjuk ke arah atas.


"Om bukan Papa, lagian aku masih belum menikah." Bibir Kris manyun mengajari Raja cara merapikan mainannya.


"Susu, susu Om," pinta Raja mengikuti Kris yang merapikan barang-barangnya.


"Ini susu kamu, bagaimana rasanya?" Kris mencobai susu Raja membuatnya mual karena tidak enak.


Melihat Kris mual langsung diikuti oleh Raja membuat tatapan mematikan Rain terlihat karena dia yang membuatkan susu.


"Enak," ucap Raja.


Tawa Krisna terdengar karena si kecil ternyata takut dengan Rain tidak berani protes jika soal rasa.


Pria dingin yang hanya fokus mengurus dirinya sendiri, makan tidak pernah di rumah, tidur juga di luar, secara tiba-tiba mengurus bayi dua tahun.


Hanya dua minggu saja perubahan hidup Rain sangat drastis, kehilangan dunianya yang penuh kesunyian menjadi ayah satu anak.


"Kenapa belum juga dihidupkan ponselnya, tidak mungkin Ratu membuangnya?" Rain menarik napas panjang meminta Krisna dan Raja diam.


Berbeda dengan Rain, keberadaan Raja membuat kehidupan Krisna lebih ceria. Dia menyukai anak kecil apalagi aktif dan suka tertawa.


"Kris sudah waktunya aku memulai sendiri," ucap Rain pelan.


"Soal apa?" Kris duduk di samping Rain.


Senyuman Kris terlihat, dia tahu jika Rain memiliki bisnis sendiri. Tanpa keluarga Petro, Rain bisa sukses karena dia bukan hanya cerdas namun pintar melakukan banyak hal.


"Lakukanlah, aku tahu kamu sudah lama ingin meninggalkan dunia bisnis, dan menjalankan bisnis kecil-kecilan." Permintaan Krisna hanya satu dia ingin Rain tetap ada di sisinya sebagai sahabat juga saudara.


Membesarkan Raja seorang diri tidak mudah, tapi melepasnya juga tidak mungkin. Kris tidak mengizinkan jika Raja dititipkan di panti karena dia memiliki seorang kakak.


"Fakta yang tidak bisa kamu pungkiri, bagaimanpun Raja adik kamu dan Ratu."


"Mulai saat ini jangan bahas lagi siapa Raja sebenarnya, dia hanya harus tahu jika aku Papanya." Rain tidak ingin Raja tahu dulunya dia anak dari wanita jahat dan Papa yang bodoh.


Raja berhak hidup bebas tanpa memikirkan masa lalu, Rain akan membuat Raja menjadi orang biasa.


Kepala Kris mengangguk, menyetujui keputusan Rain. Dia cukup tahu jika Rain Papanya.


"Bagaimana jika dia bertanya soal ibunya?"


"Nanti dia akan bertemu dengan wanita yang memiliki darah yang sama," balas Rain mengingat Ratu.


Wajah Krisna kaget karena wanita yang Rain bicarakan pasti Ratu, dia wanita satu-satunya yang memiliki hubungan darah dengan Raja.


"Di mataku dia wanita baik, tidak ada kata penjahat. Aku ingin bertemu dengannya kembali." Rain terseyum kecil karena hari itu pasti datang meksipun Rain tidak tahu harus menunggu berapa lama.


Suara barang berjatuhan terdengar, tatapan Rain tajam ke arah Raja yang terdiam. Kepalanya tertunduk langsung naik ke atas tempat tidur.


"Apa lagi yang kamu hancurkan, sudah berapa banyak Papa membelikan mainan, masih saja memanjat." Tepaksa Rain harus membersihkan barang yang pecah.


"Maaf Papa," jawab Raja yang bersembunyi di bawah selimut.


"Jika kamu masih nakal, Papa buang semua mainan kamu!"


Raja hanya diam menjadikan amukan Rain sebagai lagu penghantar tidur, tidak menjawab apalagi lanjut main.


Pelukan Krisna erat, mengusap kepala Raja yang sudah lelap tidur didalam selimutnya. Wajahnya lebih mirip Rain yang mengikuti kecantikan Sinta.


"Jangan terlalu keras, semua orang pasti percaya jika kalian anak dan Ayah. Wajah Raja mirip sekali kamu." Senyuman Krisna terlihat kagum dengan karya Sinta.


Kemarahan Rain juga disebabkan oleh wajah mereka yang sama, darah Raja sama dengan Ratu dan wajahnya sama dengan Rain.


"Kamu membutuhkan perawat bayi?"


"Tidak, aku akan membawanya bekerja. Sekalian mengajarkan dia cara mencari uang," balas Rain menatap wajah Raja yang tidur pulas.


"Jika kamu memiliki pekerjaan penting, bawa Raja ke kantor saja. Aku akan menjaganya." Senyuman Kris terlihat menyemangati Rain karena mereka berdua akan membesarkan Raja bersama.


"Terima kasih Kak Kris, sekarang aku percaya kamu sudah dewasa." Dua jempol Rain terangkat bangga kepada Kris.


"Aku doakan semoga kita segera bertemu Mama Ratu," pinta Kris agar bisa kumpul kembali.


"Kamu merindukan Lilis, dia tidak kalah kejam dari Ratu jadi jangan main-main," sindir Rain yang bisa menebak pikiran Kris soal Lilis.


Ekpresi Kris langsung berubah, memalingkan wajahnya karena tidak ingin dibaca lebih jauh. Sejujurnya Kris juga takut kepada Lilis, apalagi pernah hampir mati di tangannya.


"Raja, kamu jangan mengikuti jejak Mama, soalnya dia serem, sama Aunty Lilis juga jangan." Kris memutuskan tidur sambil memeluk si kecil.


"Papa tembak, D'or." Tangan Raja terangkat membuat Kris kaget.


"Di dalam mimpi saja masih sempat perang, memang darahnya Albert tidak normal." Kris menurunkan tangan Raja agar berhenti mengigau.


Teriakan Rain kembali terdengar, Kris berpura-pura tidak mendengar karena Rain tidak sepolos dahulu, sekarang lebih mirip ibu komplek.


Tendangan Rain kuat menghantam bola karena televisi di ruang tamu sudah retak, kaca apartemen juga hampir bolong.


"Satu minggu saja sudah gila, tidak bisa aku bayangkan jika sepuluh tahun. Mungkin Apartemen ini kehilangan atap, dinding, atau mungkin runtuh." Tatapan Rain sayu, merapikan kembali mainan Raja.


Nama yang Rain berikan berbanding terbalik dengan tingkah Raja, dia tidak mirip king yang penuh wibawa, tapi mirip preman pasar yang tidak bisa tenang.


"Seharusnya aku tidak memberikan nama Raja, kenapa dia nakal sekali?"


"Papa, Raja lapar." Suara Raja memelas terdengar, mengusap perutnya yang kempes.


"Tidur lima menit, main 23jam, sisanya makan."


"Papa, perut Raja kempes."


"Aku juga belum makan Raja, kamu sudah lima kali makan." Rain menggedong si kecil membantingnya di sofa membuat tawa Raja sangat kencang masih tetap minta makan.


***


follow Ig Vhiaazaira