QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
DIKEMBALIKAN



Senyuman banyak orang terlihat menatap dosen tampan yang mengajarkan soal bisnis, pria populer yang menjadi incaran banyak wanita.


Pukulan di papan tulis terdengar, Rain meminta semuanya fokus. Beberapa mahasiswi wanita yang tidak ada kelasnya diminta keluar.


"Kenapa ruangan ini sesak sekali? kalian ingin belajar atau menatap wajah saya?"


"Menatap wajah bapak," jawab banyak mahasiswi hingga ruangan heboh.


Rain menunggu mahasiswa yang bukan ada di kelasnya keluar secara baik-baik, tidak ingin menganggu mahasiswa yang ingin belajar.


Senyuman Rain terlihat, dirinya berubah total setelah ditinggalkan Ratu selama tiga tahun. Harapan Rain bertemu semakin kecil karena Ratu tidak pernah menyalakan ponselnya.


"Ratu, di mana kamu? aku sudah mencari, tapi negara yang kamu sebutkan terlalu luas sehingga aku tidak memiliki jalan," batin Rain melamun.


"Maaf Pak, bisa kita mulai sekarang?" tanya mahasiswa menyadarkan Rain dari lamunannya.


Senyuman Rain terlihat meminta maaf karena dia yang tidak fokus, langsung memulai pelajaran untuk membagikan ilmunya kepada mahasiswanya yang akan terjun ke dunia pekerjaan.


Mahasiswa Rain bertepuk tangan, mengucapkan terima kasih atas pelajaran berharga yang didapatkan.


"Jika ada pertanyaan silahkan kalian catat, tanyakan saat pertemuan selanjutnya. Jangan ada yang menghubungi aku," ucap Rain tidak menerima pesan pribadi yang beralasan meminta materi.


Suara tawa terdengar karena Rain menutup ruang bagi siapapun yang ingin mendekatinya, hati Rain masih tersimpan wanita yang meninggalkan tanpa ucapan perpisahan.


"Pak Rain, kita di tunggu di kantor untuk makan siang bersama," ucap dosen wanita yang mengagumi Rain.


"Maaf tidak bisa, putraku sudah menunggu untuk makan bersama." Rain melangkah pergi menuju parkiran karena Raja dan Kris sedang menunggunya.


Suara tawa di mobil terdengar, teriakkan Raja terdengar nyaring memanggil Papanya tanpa malu menjadi pusat perhatian.


"Papa kamu semakin ganteng setelah sukses menjadi dosen juga pengusaha." Kris selalu mengangumi Rain yang bisa membagi waktu untuk Raja.


"Halo Papa hujan, kita makan dulu. Perut King sudah lapar."


"Makan terus yang ada di otak kamu," balas Rain mengetuk kepala Raja.


"Jika Raja tidak makan, nanti Raja mati." Tawa Raja terdengar memeluk Papanya.


"Bagaimana kata guru Raja, apa dia menyulitkan?"


Tawa Kris terdengar, Raja manusia ajaib yang selalu membuat rusuh, tapi Kris bahagia bersamanya karena tidak berhenti tertawa.


Raja bukan hanya lucu, tapi sangat jahil dan ceria. Dia selalu bisa menghidupkan suasana sehingga tidak tahu rasanya bersedih.


"Bagaimana soal bisnis kamu? jangan terlalu asik bermain dengan Raja hingga lupa dengan pekerjaan." Peringatan untuk Kris karena dia terlalu sering membawa Raja bermain.


Kris hanya membalas dengan senyuman, dia tidak ingin seperti Rain yang mengisi harinya dengan kesibukan dan marah-marah hanya karena rindu.


Tanpa Rain jelaskan, Kris tahu jika perasaan Rain belum berubah. Dia masih mencintai wanita yang sama.


"Pa, kenapa Mama lama sekali pulangnya? Raja sudah besar sekarang, Raja capek menunggu Mama. Sebenarnya punya Mama atau tidak?" tanya Raja karena semua teman sekolahnya punya Mama.


"Kamu ingin punya Mama? besok Papa jual kamu agar cepat punya Mama?" sikap dingin dan sinis Rain masih belum berubah melihat bocah lima tahu yang memiliki wajah serupa dengan dirinya.


Kedua tangan Raja memukuli Rain, tidak menyukai ucapan Papanya yang ingin menjualnya.


"Aduh Papa ini. Sudah kaya, punya mobil, punya rumah, punya apartemen, punya bisnis masih saja kurang uang. Raja juga mau dijual padahal Raja ini beban, tidak akan laku," ocehan terdengar memarahi Papanya.


Tawa Krisna pecah, Raja ternyata sadar jika dirinya hanya beban yang menghabiskan yang Papanya.


"Kamu beban Papa dan Om, setiap hari menghabiskan uang."


Perut Krisna sakit karena ulah Raja yang mengoceh mengudang tawa, ada saja tingkah lakunya yang membuat heboh.


Sampai di restoran milik Rain, Raja langsung berlari kencang menyapa semua orang yang sedang makan siang.


"Halo Tuan muda," sapa pelayan.


"King, ini King bukan tuan muda." Raja langsung duduk di kursi meminta daging kesukaannya.


Dari jauh Rain menghentikan langkahnya melihat anak kecil sudah pintar memesan makanannya sendiri, terlihat mandiri langsung cuci tangan.


"Tidak terasa sudah tiga tahun dia bersama kita, semoga Raja akan selalu bahagia seperti saat ini." Kris menepuk pundak Rain yang sudah sangat hebat menjadi ayah juga ibu bagi Raja.


Tiga tahun sudah berlalu sejak Sinta pergi, dia meninggalkan satu anak kecil yang seharusnya dilihat tumbuh kembangnya.


"Jika di tanya apa aku mampu, jawabannya tidak. Bagaimana bisa aku membesarkan dia, tapi Raja yang memilih aku sampai saat ini aku yang tidak bisa tanpanya." Rasa sayang Rain sangat besar karena dirinya setiap hari bertemu Raja.


Banyak hal yang dilakukan bersama, mandi, makan, tidur bahkan bermain. Rain bisa komunikasi dengan banyak orang demi mendapatkan saran cara membesarkan anak.


"Hari ini makan apa King, kemarin kamu berjanji sama papa untuk makan sayur?"


"Sayur itu makanan kambing, sapi, jadi Raja makan daging sapi saja, di dalam tubuhnya juga ada sayur." Alasan Raja spontan membuat Rain terdiam, ada saja alasan Raja mengelak.


Suara ponsel Rain berbunyi, dia tidak mendengar dengan baik karena menegur Raja yang harus makan sayur agar bisa tumbuh sehat.


Jika sapi saja bisa memiliki tubuh besar dan memiliki harga mahal, maka Raja juga harus makan sayur agar gendut tidak kurus.


"Raja tidak suka gendut Pa, nanti Alex tidak bisa lari."


"Terserah saja, pokoknya makan sayur." Rain menegaskan kepada Raja jika dia wajib makan sayur.


"Papa tahu tidak mengapa buaya dan harimau gendut?"


"Kenapa Raja?" tanya Krisna penasaran.


"Karena makan daging, berarti daging juga bikin gemuk dan sehat," jawab Raja sambil tertawa karena terpaksa makan sayur.


Rain mengambil ponselnya, langsung terkejut saat melihat ponsel yang Ratu ambil terdeteksi keberadaannya.


"Ratu, akhirnya kamu menghidupkan ponsel itu." Rain tersenyum bahagia berteriak kuat karena butuh tiga tahun menunggu.


"Ada apa Pa?"


"Kamu akan Papa antarkan kepada Mama Ratu," ucap Rain mengejutkan Raja.


"Tidak mau, Raja mau sama Papa saja. Raja sayang Papa, tidak mau ikut Mama nanti Raja makan sayur terus jadi sapi, Raja ingin tinggal sama Papa biar jadi Buaya." Tangisan Raja terdengar memeluk lengan papanya.


Krisna menatap Rain penuh tanda tanya, apa yang Ratu pikirkan sehingga menghidupkan ponsel Rain kembali padahal dia tahu jika ponsel itu bisa terdeteksi oleh pemiliknya.


"Kapan kamu akan menemui Ratu?" Kris juga ingin ikut.


"Pa, Raja tidak mau ikut. Raja di rumah saja, Raja tidak mau tinggal sama Mama."


"Dia orang yang seharusnya membesarkan kamu, aku hanya kakak tiri, lebih tepatnya anak yang tidak dianggap." Rain mengusap wajah Raja yang harus dirinya kembalikan.


***


follow Ig Vhiaazaira