
Selesai makan malam Raja lanjut tidur lagi, meninggalkan Ratu dan Rain yang masih duduk di ruang makan.
"Tumben dia tidak bertanya soal susu?" Ratu baru saja berencana ingin membuatkan susu.
"Sudah makan daging, dia tidak pernah bosan makan daging. Apapun yang ada ditubuh sapi dia suka terutama susu dan daging." Senyuman Rain terlihat karena bahagia melihat Raja kekenyangan.
Hati Ratu bahagia melihat Raja hidup dengan baik, apalagi tubuhnya berisi dan sangat aktif. Rasa bersalah Ratu sedikit berkurang karena bisa melihat si kecil tidur nyaman.
"Kamu kenapa?"
"Malam itu aku ingin membawa Raja, tapi Sinta memegangnya ingin menjatuhkan dari balkon." Ratu teringat wajah si kecil yang sedang demam.
Ratu berpikir Alip menjadi kelemahan Sinta, tapi ternyata salah. Jika hari itu Ratu menyelamatkannya mungkin Alip akan menjadi kelemahan Ratu.
"Aku begitu kejam membiarkannya berada di dalam kobaran api, orang seperti aku tidak boleh ada kelemahan, jika ada banyak orang yang akan menghancurkan aku." Ratu bukan memikirkan dirinya sendiri, tapi orang-orang yang ada dibawahnya.
"Aku juga hampir membuangnya, tapi balik lagi. Raja alasan aku bertahan, dia juga alasan aku harus menjadi orang sukses." Rain tertawa karena jika dirinya tidak memiliki uang maka tidak bisa menjamin Raja minum susu dan daging kualitas terbaik.
"Kenapa kamu memberinya nama Raja?"
"Agar dia sekuat, sehebat kamu dan bisa melindungi kamu." Rain menatap wajah Ratu yang tersenyum manis.
Tiga tahun tidak bertemu membuat Rain rasa wajah Ratu asing, dia terlihat lebih cantik dengan wajah culunnya.
"Aku rindu Ratu karyawan tidak tahu diri, bukan Ratu yang sempurna. Kamu jauh lebih cantik saat itu," ucap Rain yang merindukan moment keduanya bekerja bersama.
"Kamu salah orang Rain, dia bukan aku. Ratu yang sesungguhnya wanita yang ada di hadapan kamu saat ini, bukan tiga tahun yang lalu." Ratu tidak ingin kembali ke masa tiga tahun yang lalu karena hari itu dirinya kehilangan seluruh keluarganya.
Tidak ada yang Ratu sesali dengan dunianya yang penuh pertumpahan darah, Ratu tahu akan ada waktunya dirinya angkat kaki dari posisinya, tapi saat hari itu datang Ratu berharap ada pengganti yang lebih kuat, adil juga bijaksana.
Seorang penjahat juga memiliki aturan, tidak membunuh orang baik dan tidak bekerja demi uang.
"Rain, orang seperti kami tidak seutuhnya ahli bela diri, tapi kita hanya sekumpulan orang yang diasingkan." Senyuman Ratu terlihat, sadar diri jika dirinya dan Rain beda cara pikir.
"Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Rain.
"Katakan, aku ingin mendengarnya?"
"Ceritakan masa kecil kamu hingga menjadi yang sekarang, aku ingin mengenal Ratu yang saat ini ada di hadapanku," pinta Rain yang akan melupakan Ratu lama dan menemukan keistimewaan dari Ratu yang sekarang.
Tawa Ratu terdengar, merasa lucu cara dirinya menceritakan masa kecilnya yang penuh luka. Rain tidak pernah bertanya, tapi pertanyaan pertamanya membuat Ratu tidak memiliki jawaban.
"Sakit Rain," ucap Ratu yang langsung tertunduk.
"Kenapa, apa kamu tidak mempercayai aku?"
"Bukan tidak percaya, aku hanya takut rasa semakin sakit," balas Ratu pelan.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya." Rain menatap ponselnya yang ada panggilan dari Hera.
Ratu langsung merampas ponsel Rain, panggilan mati karena Ratu tidak mengizinkan ada komunikasi.
"Saat aku kecil Mami meninggal ...."
"Cerita saat bahagia bersama Mami," ucap Rain yang memotong ucapan Ratu.
Ratu saat kecil sangat bahagia, setiap pagi ada matahari paling terang membangunkan, Ratu selalu bermain bersama Papinya yang berjuang menyuapi Ratu makan.
"Kebahagian itu hanya bertahan sampai aku berusia tujuh tahun, Mami hamil Putri namun hubungan dengan papi tidak baik." Ratu ingat jelas saat bangun tidur tidak ada lagi mataharinya hingga Ratu selalu murung.
"Saat Putri lahir Mami kamu meninggal, keadaan mulai kacau. Lalu apa yang terjadi kepada kamu?"
"Papi mulai melakukan penyiksaan, aku memberikan karena menyaksikan kepergian Mami. Kehidupan aku gelap sampai pernah membunuh seseorang saat masih kecil." Tidak ingin membuat malu, Albert mengasingkan Ratu ke dalam hutan belantara.
Albert berharap dirinya mati, tapi salah besar. Ratu hidup bersama para manusia jahat yang menjadi pembunuh bayaran Sampai usia tujuh belas tahun Ratu berpindah-pindah tempat.
"Terbiasa dengan pertarungan hingga sudah mendarah daging aku menjadi semakin kuat hingga memiliki pasukan sendiri." Ratu mencari Albert untuk menanyakan kabar adiknya.
Meksipun tidak bertemu, Putri dan Ratu tidak pernah jauh, komunikasinya semakin dekat hingga dewasa.
"Putri tidak pernah mengatakan jika dirinya disiksa tidak pernah mengeluh apapun luka yang dia rasakan. Dia selalu terdengar happy." Air mata Ratu menetes di hadapan Rain.
"Pernah tidak kamu memiiki impian? Atau mengulang hari bahagia bersama kedua orang tua kamu?"
Kepala Ratu menggeleng, dia tidak ingin kembali ke hari bahagia sesaat karena tahu di balik bahagianya ada rasa sakit yang teramat dalam.
Kedua tangan Rain mengusap air mata Ratu yang sudah bisa menangis setelah kepergian Albert dan Sinta.
"Rain, peluk aku, rasanya sakit jika diingat." Ratu memeluk erat Rain yang mengusap kepalanya.
Hati Rain juga sakit karena gadis cantik juga ceria dirusak mentalnya, Rain tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Ratu yang berpindah dari hutan satu hingga hutan lainnya saat melarikan diri dari kejaran juga pertumpahan darah.
"Ratu, kamu mau tidak membuka lembaran baru bersamaku, kita besarkan Raja bersama-sama. Jujur aku mengatakan ini dengan pemikiran yang panjang karena apa aku bisa masuk ke dunia kamu, atau apa kamu bia keluar dari dunia kamu?" Rain mengeratkan pelukannya meminta Ratu menahan dirinya untuk menjawab.
Rain paham ada banyak pertimbangan tidak bisa diputuskan sesuka hati, Ratu tidak akan mudah melepaskan begitupun Rain yang tidak bisa masuk.
Lama keduanya diam, hubungan keduanya berada di benteng tinggi, harus ada yang runtuh untuk bisa bertemu.
"Rain," panggil Ratu.
"Nanti saja dijawab, kamu pikirkan matang-matang. Terserah ingin bertanya dengan siapa?"
"Rain, kenapa kamu memasang benteng setinggi itu?"
Kepala Rain menggeleng, bukan dirinya yang mendirikan, tapi kenyataan benteng perbedaan memeng sangat tinggi.
Meskipun Rain tahu ada solusi, tapi perbedaan akan menjadi masalah dikemudian hari.
"Jangan terluka lagi Ratu, saat ini kamu berada di tempat ternyaman." Rain tahu Ratu tidak akan jatuh seperti saat dirinya kecil, dia sudah berpengalaman juga memakai penawar sakitnya.
"Apa kamu mencintai aku?" tanya Ratu.
"Ya, aku sangat mencintai kamu, malam aku mabuk sempat terpikirkan untuk bercinta, tapi aku takut jika akan ada anak yang lahir seperti aku." Rain ingin hubungan nyata bukan sesaat lalu berpisah.
"Saat itu kamu sadar?"
Senyuman Rain terlihat dirinya ingat semuanya apa yang pernah Rain janjikan kepada Ratu.
***
follow Ig Vhiaazaira