QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
IZIN MEMILIKI ADIK



Kepala Rain celingak-celinguk melihat Raja yang bolak-balik seperti orang bingung. Ditegur juga tidak merespon.


"Siapa yang kamu tunggu?" Rain langsung berdiri melihat Raja berlari ke arah gerbang melihat seorang pengawal membawa putrinya.


"Ayo masuk, tenang saja kamu tidak terlambat. Ibu guru masih menunggu kita." Tangan Raja mengandeng gadis kecil, keduanya berlari ke arah bangunan khusus untuk Raja belajar.


Rain yang melihatnya tidak bisa berkata-kata lagi, anaknya sudah tahu cara memilih teman, bahkan menunggu dengan gelisah.


"Anak siapa itu?"


"Anak saya Tuan, beberapa waktu lalu tidak sengaja menyusul ke sini. Tuan muda menawarkan untuk sekolah bersama, sehingga keduanya berteman." Penjaga akan memanggil putrinya untuk pulang agar tidak menganggu Raja.


Tangan Rain terangkat membiarkan putranya memiliki teman karena pasti sepi sekali melakukan banyak hal sendirian.


Pintu ruangan belajar terbuka, senyuman Rain terlihat menatap Raja yang sekolah penuh semangat. Hal yang tidak pernah Rain rasakan, dia harus duduk di pojokan melihat Kris sekolah, malamnya meminjam buku untuk belajar sendirian.


"Papa akan melindungi kamu, cukup aku yang menderita. Tidak tahu rasanya belajar, memaksa diri sendiri untuk mendapatkan apa yang diinginkan." Mata Rain berkaca-kaca, memikirkan nasibnya yang penuh kegelapan.


"Papa, kenapa Papa sedih?" Raja berlari memeluk erat Papanya.


"Siapa yang sedih, Raja belajar yang rajin. Raja harus berkibar seperti nama kamu yang begitu besar." Rain mengusap kepala putranya agar lanjut belajar.


Pintu ditutup perlahan, Raja duduk kembali melanjutkan belajarnya. Rain melangkah ke kamar, melihat Ratu yang bangun dari subuh, mengurus Raja lalu tidur lagi.


Pelukan Rain erat kepada istrinya, Ratu terbangun merasakan pelukan erat. Suara Rain menangis terdengar, Ratu hanya diam saja tidak berani bicara.


Selama bersama, Ratu hampir tidak pernah melihat Rain meneteskan air matanya. Hanya tatapan dingin yang terlihat.


Setelah tenang barulah tangan Ratu menepuk pelan, menenangkan suaminya yang baru saja meneteskan air mata.


"Ada apa?" Ratu membalik badannya memeluk erat.


"Tidak tahu, aku hanya bahagia melihat Raja." Wajah Rain disembunyikan di dalam pelukan Ratu.


Tangan Ratu mengusap punggung, bisa mengerti beratnya bagi Rain yang mengambil Raja dari wanita yang sudah mencampakkannya, mengantikan posisi orang tua bagi Raja.


"Nanti Raja akan tumbuh sekuat kamu, jangan mengkhawatirkan masa depannya karena Raja tidak sendiri."


Kepala Rain mengangguk, memejamkan matanya merasakan kantuk. Tidak mendengar apa lagi yang Ratu katakan.


"Sayang, ya tuhan aku tinggal tidur." Ratu mengecup kening suaminya yang sudah menangis tidur seperti anak kecil.


Mata Ratu juga terpejam memutuskan tidur, tidak mendengarkan suara Lilis yang terus memanggil Ratu.


"Tidak biasanya jam segini masih tidur," gumam Lilis pelan.


Beberapa makanan dibawa ke dapur, Lilis sibuk masak untuk dirinya sendiri karena kelaparan.


Seorang wanita yang biasa main pedang, secara tiba-tiba memegang kain lap. Bau gosong tercium, beberapa pelayan dan penjaga berlarian mencari letak bau.


Ratu dan Rain juga bangun, mendengar suara alarm. Rain berlari kencang keluar diikuti oleh Ratu yang mencari keberadaan Raja.


"Di mana kebakaran?" Ratu menatap tubuhnya yang hanya menggunakan baju satu jari.


"Apa yang kalian lakukan?" Lilis membawa makanan yang dirinya masak untuk lanjut makan.


Semua orang terdiam melihat ikan berwarna hitam, Lilis tanpa dosa makan setelah membuat satu Kastil heboh.


Rain kembali lagi melihat ke arah Lilis yang makan menggunakan ikan hitam, Ratu ingin memukul meja, tapi menahan diri karena bawaan ibu hamil memang selalu aneh.


"Ratu mau tidak? Ini enak sekali. Ternyata Lilis pintar masak," puji Lilis kepada dirinya sendiri.


Pelayan membawa alat masak yang sudah hitam semua, dapur juga penuh asap. Lilis hampir saja membakar dapur.


"Kamu tidak bisa masak, tapi hampir menghancurkan kastil ini." Ratu duduk di depan Lilis yang makan dengan lahap.


"Ini Enak sekali Nona Ratu, coba sedikit." Makanan dimasukkan ke dalam mulut Ratu.


Mata Ratu merah menahan amarah, orang yang berkumpul langsung bubar meninggalkan Rain yang mencoba menahan Ratu.


"Iya ya, kenapa rasanya enak?" Ratu mengambil lagi, menyakini jika lidahnya salah.


Suara Ratu memanggil pelayan terdengar, memintanya untuk menggoreng ikan dan ayam gosong, mengikuti resep masak Lilis.


Kepala Rain geleng-geleng, kepala berdenyut sakit melihat dua wanita aneh yang makan ikan hitam.


"Sayang, kamu ingin mencoba tidak?"


"No," balas Rain singkat.


Tatapan mata Ratu fokus kepada Lilis, lidahnya merasakan pahit dan tidak enak, tapi di kesenangan Lilis maka Ratu berbohong.


Satu-satunya teman yang Ratu punya, sebentar lagi Lilis akan menjadi ibu, memiliki teman baru.


"Lis, kira-kira kapan aku bisa hamil, aku juga mau." Wajah Ratu sedih, pasti akan menyenangkan jika memiliki anak.


"Kamu memiliki Raja, pastikan dulu Raja sudah mandiri, barulah berikan dia adik."


Kepala Ratu mengangguk, melihat Raja sudah pulang sekolah. Melepaskan ras, meletakkan sepatunya di tempatnya.


"Raja, ayo duduk sama Mama." Ratu menepuk kursi.


"Ada apa Ma, Raja baru selesai belajar."


"Kamu sudah siap punya adik belum?" tanya Ratu dengan nada bicara yang sangat lembut.


Lama Raja diam, mencoba mencerna teman perempuannya yang mengatakan jika dirinya memiliki adik, hubungan keduanya tidak baik.


"Raja," panggil Ratu pelan.


"Boleh Ma, tapi Mama harus jagain, nanti seperti temannya Raja yang suka bertengkar dengan Adiknya." kepala Raja menggeleng karena Raja tidak ingin bermusuhan dengan Adiknya.


Senyuman Ratu terlihat, memeluk Raja erat. Tidak semua persaudaraan dipenuhi pertengkaran.


Jika masih kecil hal yang sangat wajar, Ratu sangat mencintai adiknya, begitupun dengan Rain, bahkan nyawa dipertaruhkan demi kebahagiaan adiknya.


"Raja akan merasakan jika memiliki adik, pasti tahu rasanya mencintai saudara. Jika orang lain saja dicintai apalagi orang lain." Cara Ratu menasihati Raja sangat pelan, tidak ada nada tinggi sama sekali karena dia tahu jika Raja harus diajak bicara baik.


"Iya ya Ma, Raja juga sayang Paman Lion, padahal dia orang lain. Raja tidak sabar lagi punya Adik, di dalam perutnya Aunty juga ada adik." Raja memeluk Lilis, ingin merasakan pergerakan.


Tawa Lilis terdengar, Raja bisa merasakan di usia lima enam bulan. Jika masih trimester pertama hanya gumpalan darah.


"Om Kris bohong katanya bisa, bahkan tiap malam bertemu dengan baby, kenapa Raja tidak bisa?"


Tarikan napas Lilis dan Ratu terdengar, Krisna jahil sekali kepada anak kecil, sudah tahu jika Raja suka mendengar dan ingin tahu banyak hal yang diluar nalar.


"Tidak bisa sayang, nanti setelah lahir."


"Om Krisna bisa, katanya sering mengobrol."


"Baiklah, malam ini, Aunty akan memotong burungnya yang sering masuk untuk menyapa," ucap Lilis meminta Raja melupakan.


"Om Kris punya burung, Raja mau lihat." Raja berlari langkah seribu untuk menemui Krisna.


Kepala Ratu dan Lilis hanya bisa geleng-geleng pasrah.


***


Follow Ig Vhiaazaira