
Dugaan Rain benar, ada satu mobil yang terparkir di depan villa. Rain membuka pintu melihat Putri yang berdiri di depan pintu menyambut Rain.
"Kakak, Putri takut."
Rain memeluk Putri yang langsung menangis, menenangkan Putri agar tidak pernah takut apapun karena dia sudah berada di tempat yang aman.
"Di mana Ratu?"
"Rain terluka?" Putri melihat tubuh Rain juga dibalut, kepalanya juga dililit kain putih.
Putri menunjuk ke arah satu kamar, Ratu tidak makan dan minum mengurung dirinya sendiri yang sedang terluka parah.
Lilis menyerahkan obat kepada Rain, Lilis memeluk Putri yang merasa bahagia karena Lilis pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Pintu kamar terkunci, Rain membukanya karena tahu sandinya. Di dalam kamar Ratu terbaring dalam keadaan lemah, tangannya diinfus untuk menambah tenaga.
Perlahan Rain menyentuh wajah Ratu yang pucat, bibirnya juga sampai pecah-pecah. Mata Ratu terbuka, tidak kaget melihat kemunculan Rain.
"Kenapa bisa terluka, kamu bilang tidak akan ada yang bisa membuat tumbang?"
"Perasaan, dikala kita memiliki rasa maka akan segera jatuh." Mata Ratu terpejam kembali meminta Rain juga beristirahat karena tubuhnya juga sama tidak baiknya.
Saat ini tidak ada yang bisa Ratu lakukan, dirinya harus menyingkir agar tidak mati konyol.
Suara Rain sibuk terdengar, Ratu menatap pria yang ada di pinggir ranjangnya memasang infus untuk dirinya sendiri.
"Kamu butuh bantuan?"
"Aku terbiasa sendiri, jangan khawatir." Rain menelan obat yang diberikan oleh Lilis.
Ekpresi Ratu sedih, hatinya merasa sakit melihat kondisi Rain yang begitu lemah, tidak berdaya namun tidak ingin menyusahkan orang lain.
"Apa yang dokter katakan?"
"Emh ... aku masih hidup, cukup itu saja." Nada dingin terdengar, kepala Rain menoleh ke arah Ratu.
"Aku yang menyebabkan kamu terluka?" Ratu tahu dirinya salah, tapi tidak mampu mengatakan maaf mengakui salahnya.
Senyuman kecil terlihat, Rain mengucapkan terima kasih karena sudah membuatnya celaka. Selama ini Rain tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkap segalanya karena mengkhawatirkan banyak hal, tapi tindakan Ratu menyelesaikan semuanya.
Pelan-pelan Rain membuka selimut yang menutupi tubuh Ratu, luka tembak di pundaknya hanya goresan karena berhasil dihindari. Satu tangan Ratu belum bisa bergerak leluasa karena terkena tembakan di lengan, tapi tidak mengenai tukang.
"Kamu paham soal luka tembak?"
"Ya, aku pernah terluka, dan mengobati diri sendiri. Boleh aku melihat perut kamu?"
"Berani bertanya, padahal sudah menyingkap selimut." Ratu menarik baju menutupi dadanya.
"Aku tidak akan menyentuh kamu, ujar Rain yang melihat luka tusuk diperut Ratu yang sudah dijahit hanya butuh pemulihan.
"Aku tahu, tapi aku yang takutnya lepas kendali." Kepala Ratu menoleh ke arah lain.
Selimut ditarik menutupi tubuh Ratu, Rain berbaring di samping Ratu saling memalingkan wajah dengan pikiran masing-masing.
Mata Rain terpejam, obat bereaksi membuatnya mengantuk. Ratu juga sudah tertidur, tanpa sadar mengenggam tangan Rain.
Lilis berjalan masuk untuk mengganti perban luka Ratu, melihat dua orang yang sedang tidur.
"Apa akhir dari hidup kamu Ratu, aku berharap kamu bisa mengubah pola pikir." Lilis menyuntikkan obat di infus, mengganti perban agar luka cepat sembuh.
Tatapan Lilis tertuju kepada Rain, menatap wajah lelaki yang mengubah pola pikir Lilis membuat hatinya merasa kehangatan.
"Kamu lemah dari fisik, tapi kuat batin, Rain." Usapan tangan Lilis lembut dirinya sangat menyayangi Ratu lebih dari apapun.
"Ratu, batin kamu pasti sedang terguncang, tapi aku tidak pernah melihat kamu menangis, air mata itu kering atau kamu sembunyikan di dalam kegelapan." Tarikan napas Lilis panjang karena perjuangan Ratu masih panjang harus melawan Papi kandungnya.
Tawa Putri terdengar, Lilis langsung berlari karena mencemaskan Krisna yang masih shock karena melihat kondisi Elisha yang mengalami gangguan mental.
Tangisan Krisna terdengar merasa kasihan kepada Elisha yang masih muda harus melewati kehidupan yang begitu kejam, bukan orang lain yang menghancurkan metalnya, tapi keluarga sendiri.
"Kenapa Kakak menangis?" tanya Putri yang menghentikan tawanya.
"Aku hanya meratapi diri sendiri, seorang ibu yang kejam memaksa aku melakukan apapun yang dia inginkan, padahal dia tahu jika aku selalu sakit. Sosok Papa yang aku pikir mencintai, ternyata musuh dalam selimut. Saat ini hati aku sedang hancur, mental aku juga jatuh. Kenapa kamu tidak bisa bertahan sedikit lagi, aku juga sedang berjuang untuk tetap waras." Kedua tangan Krisna menutup wajahnya karena tidak kuasa menahan tangisnya.
Kepala Putri tertunduk, melihat air mata menetes di lantai. Dadanya terasa sesak mendengar tangisan Krisna.
Jika seorang pria dewasa sudah menangis, berarti hatinya sedang sangat terluka sehingga tidak mampu menahan lagi.
Kedua tangan Lilis juga menutup matanya, hanya bisa mendengarkan pembicaraan dua anak yang menjadi korban keegoisan orang tua.
Anak tidak bisa memilih lahir di mana, tidak pernah tahu seberat apa yang harus dijalani, setidaknya luka jangan disebabkan oleh keluarganya.
"Sudah jangan menangis, Elisha sudah makan belum?"
"Putri, aku Putri."
"Oh, kenapa satu Ratu, dan satunya lagi Putri." Krisna berjalan keluar ingin membeli makanan.
"Putri, kamu tetap di dalam rumah. Jangan membuka pintu kepada siapapun." Lilis bergegas mengejar Krisna yang menuju restoran untuk memesan makanan.
Tangan Krisna ditahan, Lilis melarangnya melakukan transaksi menggunakan kartu karena bisa saja terlacak.
"Jangan bergerak sembarangan, keselamatan Ratu dan Rain sangat penting." .
"Keselamatan kita juga penting karena butuh makan, aku akan menggunakan uang cash. Sebaiknya kamu pulang karena Putri tidak boleh sendirian." Senyuman Krisna terlihat berjalan sendirian.
Perasaan Lilis masih mengkhawatirkan tindakan Krisna karena dia sangat lemah dan tidak bisa bergerak sendiri, hidupnya bergantung kepada orang lain.
"Kenapa dia lama sekali, apa sudah mati?" Lilis bergerak ingin menyusul.
"Aku meminta kamu kembali, tapi sepertinya tidak didengarkan?" Kepala Krisna geleng-geleng melangkah lebih dulu diikuti oleh Lilis.
Pintu villa terkunci, Lilis tepuk jidat karena tidak menanyakan kepada Rain kode masuk dan sekarang mereka tidak memiliki jalan.
"Putri, tolong buka pintunya," pinta Krisna menatap Putri yang ada di jendela.
"Tidak mau, Putri dilarang Ratu untuk membuka pintu."
"Ini Lilis, kamu tidak harus khawatir, kita tidak bisa masuk." Lilis garuk-garuk kepala karena Putri menolak membukakan pintu.
Tawa Putri terdengar, mengejek dua orang yang terkunci di luar. Hari hampir gelap, Rain dan Ratu sedang tidur maka tidak ada pilihan selain tidur di luar.
"Kamu tidak punya solusi?"
"Bagaimana bisa aku menembus pintu ini," jawab Lilis kebingungan.
"Kamu bisa masuk apartemen dan menusuk aku, lalu kenapa sekarang tidak bisa?"
Tangan Lilis tergempal, meminta Krisna mendekatinya karena sangat bodoh dan tidak berguna.
***
follow Ig Vhiaazaira