
🌹🌹Happy Reading🌹🌹
"Nona Alice. Saya membawa kabar baik. Tuan Arya ditetapkan menjadi CEO kembali seperti semula." ucap Dimas dengan tersenyum mengambang.
" Terima kasih Dim." ucap Alice dengan senyum tipis.
'Apa gunanya harta dan jabatan . Aku hanya ingin ia kembali padaku.'
Alice menutup matanya lalu memanjatkan doa pada Tuhan Sang Pencipta.
'Oh Tuhan, tolonglah suami hambamu ini. Bantulah tangan dokter yang sedang bekerja agar suamiku dapat pulih kembali. Amin.'
Setelah hampir tiga jam menjalankan operasi. Seorang dokter muncul dari balik pintu ruangan operasi.
Dokter pria yang berusia setengah abad itu menatap kepada Alice dan semua orang yang sedang menunggu kabar Arya.
" Siapa yang disini keluarga tuan Aryasatya ?" tanya dokter pria setengah abad itu.
Alice menolehkan mukanya ke arah sumber suara itu. Ia bergegas berdiri dari kursinya yang didudukinya dan berjalan menuju dokter itu. Alice menatap wajah dokter itu dengan ekspresi cemas.
" Saya istri tuan Aryasatya dok. Bagaimana keadaannya dok?" tanya Alice dengan ekspresi cemas.
Olivia yang ikut mendampingi Alice kakak sepupunya itu, mengusap pundak Alice beberapa kali.
Sang dokter pria setengah abad itu menatap wajah cantik Alice sambil tersenyum tipis.
" Nyonya jangan cemas, tuan Aryasatya telah melewati masa kritisnya. Untungnya pelurunya tidak mengenai bagian vital. Operasi pengangkatan pelurunya telah berhasil. Ia akan kami pindahkan ke ruang rawat inap." ucap dokter pria itu sambil tersenyum .
" Syukurlah. Puji Tuhan. Terima kasih dok." ucap Alice tersenyum tipis sambil menarik nafas lega.
" Sama- sama nyonya." ucap dokter pria itu.
Tak lama sebuah brankar dorong keluar dari ruangan operasi , Alice dapat melihat tubuh Arya berbaring di brankar dorong itu sedang didorong dua orang perawat menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat ruangan rawat inap.
Alice mengikuti perawat yang mendorong brankar dorong dimana Arya berbaring menuju R. 303 yang terletak di lantai 3 rumah sakit.
Perawat itu memindahkan tubuh Arya ke bed pasien yang berada di ruang rawat inap itu. Setelah merapikan beberapa peralatan medis di ruangan rawat inap itu, para perawat pamit pada Alice keluar dari ruangan itu.
Alice berjalan mendekati tubuh Arya yang terlihat masih lemah sedang berbaring di bed pasien itu.
Ia meraih jari tangan suaminya lalu membawanya ke pipinya. Tak terasa air matanya menetes di pipi putihnya dan membasahi jari tangan Arya.
' Maafkan aku sayang, aku seharusnya membiarkan si Farel breng*** itu menggambil perusahaan, tapi aku merasa tidak adil itu hasil kerja kerasmu. Ini gara- gara kebodohan kak Adrian. Aarghh...aku menjadi orang bodoh hari ini. '
Alice mengambil jari tangan Arya dan mengecupnya.
'Selamat sayang, semua direksi memilihmu menjadi CEO lagi. Cepatlah bangun sayang! aku merindukanmu dan semua pegawai juga merindukanmu memimpin kembali.'
Matahari mulai meredupkan sinarnya. Sehingga langit tampak gelap hanya bertabur bintang. Dari jendela kaca lebar di ruangan rawat inap, Alice memandang gedung - gedung tinggi di ibukota yang mulai memancarkan sinar dari alat elektronik buatan manusia.
Olive adik sepupunya, Devon ,Dave sahabatnya dan para staf kantor yang tadi membesuk Arya mulai pulang karena hari sudah mulai malam.
Alice bersandar di jendela kaca yang lebar sambil menghapus air matanya untuk kesekian kalinya. Matanya yang sembab dan hidungnya yang masih mengeluarkan sisa- sisa air dihapusnya dengan tissue.
Alice mengambil ponselnya dan menarik nafas panjangnya lalu ia memencet sebuah nomor yang harus dihubunginya.
Terdengar nada tut...tut... beberapa kali sebelum sang pemilik telpon genggam itu mengangkatnya.
Danang📞:Hai kak Alice. Apa kabarmu ka? tumben menelponku?
Alice📞: Hai Danang. Aku akan memberitahu sebuah kabar berita. Kakakmu mengalami luka tembak. Dia sudah dioperasi dan menurut dokter yang mengoperasinya kak Arya beruntung pelurunya tidak mengenai bagian vital tubuhnya, saat ini kak Arya sudah dipindah di ruang rawat inap. Aku sedang menunggu kakakmu siuman. Menurut dokter biasanya 24 jam setelah operasi pasien siuman.
Danang📞: Puji Tuhan. Kak Arya orang baik kak, ia pasti dilindungi Tuhan.
Alice📞: Iya Danang. Kalo dia bukan orang baik, aku tidak akan menjadikannya dia suamiku. Oh ya, aku serahkan padamu, apakah kau ingin memberi
Aku kuatir dia shock mendengar berita ini.
Apabila kau ingin kemari, aku siapkan tiket pesawat buatmu? Pikirkanlah dan kabarin aku secepatnya.
Danang📞: Baik kak. Kak Alice jangan terlalu cemas, kakakku pria kuat dia pasti dapat melewati hal ini. Aku segera mengabarimu . Ok, sampai jumpa lagi. Bye
Alice📞: Bye.
Alice menutup ponselnya dan bernafas lega sudah memberitahu kabar ini pada keluarga suaminya. Ia beruntung memiliki adik ipar yang pengertian.
Alice menarik sebuah kursi lalu menyeret kursi mendekati bed pasien tempat Arya berbaring.
Malam semakin larut, mata Alice sudah lelah dan sembap . Ia mulai menaruh kepalanya di pinggir bed suaminya dan jarinya masih bertautan dengan jari tangan suaminya. Tak lama Alice sudah terlelap tidur.
Keesokan paginya
Matahari bersinar terang dan sinarnya menembus jendela kaca lebar yang berada di ruangan rawat inap itu. Alice terbangun bukan karena sinar matahari, tetapi ia merasa ada sentuhan di rambutnya.
Alice mendongakkan kepalanya, ia membelalakan matanya melihat suami tercintanya membuka matanya dan sedang tersenyum tipis padanya .
Alice segera memencet tombol untuk memanggil perawat dan dokter. Tak lama datang seorang perawat dan seorang dokter muda.
" Selamat pagi tuan Arya. Saya akan memeriksa bagian vital tuan." ucap dokter pria muda itu.
Dokter pria muda itu memakai stetoskop lalu mulai memeriksa denyut jantung Arya, bagian vital tubuh lainnya dan tak lupa mengecek perban yang menutup luka Arya di bagian perut dan lengan Arya. Tak lupa dokter muda itu menyuruh perawat itu untuk mengganti perban Arya.
" Sepertinya tuan Arya pulih dengan cepat. Ini pasti berkat nyonya yang setia mendampingi suaminya. Kalo tidak ada yang mengkuatirkan lagi ,tuan Arya dapat pulang dalam beberapa hari ke depan." ucap dokter pria muda itu.
Alice tersenyum bahagia sambil memegang jari suaminya.
" Terima kasih dokter." ucap Alice sambil tersenyum.
" Sama- sama nyonya. Saya permisi dulu." ucap dokter muda itu sambil menganggukan kepalanya.
Alice menolehkan mukanya mengamati perawat yang sedang mengganti perban suaminya. Ia banyak bertanya tentang perawatan luka yang harus diperhatikan bila suaminya sudah keluar dari rumah sakit. Setelah puas bertanya, perawat itu pamit keluar dari ruangan itu.
Alice menatap suaminya sambil memegang jari tangan suaminya, ia mengulum bibirnya dan tiba- tiba air matanya menetes di pipinya.
Arya yang sudah duduk bersandar di kepala bed 45 derajat, ia menggerakkan jari tangannya menghapus air matanya istrinya yang menetes di pipinya.
" Honey, kenapa kau menangis lagi? kau tidak kasihan dengan wajah cantikmu yang berubah? Liat matamu menjadi sembap begitu. hehehe.." ucap Arya menggoda istrinya.
" Emangnya kenapa kalo wajahku berubah jelek? kau tidak ingin diriku lagi?" ucap Alice meruncingkan bibirnya.
Arya semakin tertawa terkekeh, ia semakin gemas melihat istrinya yang sedang kesal digodanya.
Arya memberi kode dengan jari telunjuknya untuk mendekati dirinya, Alice mendekati wajahnya ke arah suaminya.
Arya mengecup singkat pada bibir pink istrinya. Alice membelalakan matanya membuat Arya tertawa terkekeh.
" Aku sangat merindukan dirimu honey. Sewaktu aku tertidur, aku memimpikan dirimu yang sedang duduk bersimpuh berdoa dan wajahmu penuh air mata. Maafkan aku, aku sedikit terlambat bangun honey sehingga membuatmu sendirian. Aku berjanji tidak akan meninggalkan dirimu." ucap Arya menangkupkan wajah istrinya dengan kedua tangannya.
" Janji ya sayang. Tidak akan meninggalkan diriku sendirian. " ucap Alice tersenyum bahagia .
Arya menganggukan kepalanya lalu merengkuh kepala istrinya ke dadanya.
Bersambung🙏
^ Ayo dukung author dengan beri Vote, Like dan Comment😁
Salam sehat selalu ya guys..Thanks🙏
^ Jangan lupa klik Favorit untuk update cerita terbaru😁🙏