
🌹🌹Happy Reading🌹🌹
Alice membuka tasnya dan mengambil kacamata minus yang biasa ia pakai untuk menggambar.
Ia tampak sedikit berbeda dan rambutnya dibuat ponytail.
"Selamat malam bu.Selamat malam Pak Danang dan Pak Arya" kata Alice yang tiba- tiba masuk ke ruang tamu.
Arya terkejut karena Alice berada di rumahnya, ia langsung mendelikkan matanya pada Danang adiknya.
" Oh iya, aku lupa memperkenalkan.Ini Anna jurnalis yang menjadi tamuku.Ia baru saja tiba sore ini"
Danang tersenyum dan mengajak Alice untuk masuk ke dalam.
"Mbok, sudah saatnya makan malam.Tolong siapkan 1 piring kosong buat tamu" perintah Danang.
Ibu Arya menatap muka Alice sambil mengingat kenangan lamanya, sepertinya ia sangat mirip dengan seseorang, tetapi ia lupa.
Arya menuntun ibunya menuju kursi makan.
Danang mempersilakan Alice untuk duduk di kursi di sebelah kakaknya.
Alice melirik makanan yang dihidangkan sayuran yang direbus , tahu, tempe, ikan kembung goreng kering dan bumbu kacang ulek.
Arya melirik Alice yang duduk di sebelahnya, ia tersenyum geli karena ia tau selera makan istrinya.
Arya mengambilkan beberapa sayur yang direbus beserta bumbu kacang, 1 tahu , 1 tempe dan ia menaruhnya di piring Alice.
" Silakan dimakan,sayuran ini sangat segar diambil dari kebun kami semua, apakah nona tidak suka sayuran?"
Arya mendelikkan matanya pada Alice untuk memakan sayuran.
" Oo..aku suka sayuran" jawab Alice sambil tersenyum terpaksa.
"Arya, masih banyak gadis cantik dan tidak liar seperti istrimu itu, contohnya gadis ini teman Danang" kata ibu Arya menceramahi Arya.
Alice tersedak ketika mendengar perkataan ibu mertuanya ini.
Arya tersenyum geli dan segera mengambil air dan memberikannya pada Alice untuk meminumnya.
"Minum nona, pelan- pelan makannya ya" kata Arya sambil tersenyum geli.
Alice malu sekali dan ingin buru- buru menghilang dari hadapan semua orang.
Akhirnya Alice selesai makan dan ia buru- buru pamit pada ibu Arya dan semua orang yang ada di ruang makan.
Alice berjalan cepat untuk kembali ke kamarnya di rumah kantor Perkebunan.
"Tunggu Alice" teriak Arya yang berlari mengejar Alice.
Arya menghadang jalan Alice
"Honey, kamu marah ya?"
"Minggir, aku mau balik ke kamarku, aku ngantuk dan capek" jawab Alice ketus.
Alice menghindar dari hadangan Arya, tapi tangan Arya dengan cepat menarik lengan Alice sehingga Alice berhadapan muka dengan Arya.
Arya menatap muka Alice
" Honey, kamu menangis?"
"Crying, tidak aku cuma kesal dan benci denganmu, aku terpaksa berbohong dengan ibu dan mengenalkan diriku sebagai Anna"
"Maaf honey, aku blom sempat menelponmu lagi, karena kondisi ibuku, ia menderita penyakit Alzheimer .Beberapa hari yang lalu ibu shock melihat foto kita di airport" kata Arya menjelaskan.
"Ibu menganggapku seorang gadis liar?" kata Alice dengan suara tersendat .
Arya tertawa geli "Maaf atas perkataan ibuku, ia orang tua yang masih kokoh mengikuti aturan adat, perempuan harus berpakaian sopan, nanti perlahan- lahan aku akan jelaskan istriku ini seorang designer baju dan model yang sedang memasarkan produknya sendiri".
Alice terdiam sesaat, tapi dia segera berlari cepat menuju kamarnya.
Arya segera berlari mengejarnya.
Alice tiba lebih dulu di pintu kamarnya, ia segera masuk dan hendak menutup pintunya, tapi kaki Arya sudah menganjal pintu.
"Honey, biarkan aku masuk, atau aku akan membuat kegaduhan sehingga orang lain datang"
Arya mendelikkan matanya sambil tersenyum
Alice mengalah dan membiarkan Arya masuk.
Arya menaruh obat nyamuk di dekat ranjang Alice, lalu duduk di kursi.
"Alice, dengarkan aku. Aku minta maaf atas perkataan ibuku, nanti seiring waktu dia akan menerimamu. Dan hari ini maaf Danang berbohong atas suruhanku karena ibu masih shock dengan foto kita dan maaf juga kamu terpaksa tidur di kamar tamu ini yang jauh berbeda dengan kamarmu di rumah" kata Arya menjelaskan.
"Aku tidak keberatan tidur di kamar ini dan aku sudah memaafkan perkataan ibumu" kata Alice menatap Arya.
"Kenapa kakak tidak pernah bercerita tentang Perkebunan ini yang akan dibuat Resort?" tanya Alice menyelidik.
" Darimana kau tau Projek Resort ini?"tanya Arya terkejut.
"Tidak penting siapa yang kasih tau, sekarang kakak bisa jelaskan padaku?" tanya Alice penasaran.
"Struktur tanah di daerah itu tidak kokoh. Selain itu warga desa ini tidak setuju orang asing datang ke desa ini, mereka adalah buruh perkebunan, mereka terbiasa seperti itu"
"Pak Harris sudah tau tentang rencana projek ini dan beliau pun tidak pernah setuju."
Alice mendengarkan semua penjelasan Arya dan mengerti mengapa ayahnya tidak menyetujui projek ini.
" Dimana surat asli kepemilikan tanah ini kak?" tanya Alice menyelidik.
" Seharusnya ada di brankas Nyonya.
Sudah lama surat itu ada di tangan keluargamu, karena ayahku berutang pada keluargamu dan sebagai jaminannya adalah surat kepemilikan tanah itu"
"Beberapa tahun ini, perkebunan kami ini diganggu orang tak dikenal , aku telah menyelidikinya orang tersebut, ternyata orang suruhan Pak Gerald"
Alice berkata dalam hatinya dengan kesal
'Dasar orang tua serakah.'
"Besok pagi, kamu akan kuajak untuk mengelilingi perkebunan ini".
"Sekarang Alice tidur ya, sweet dream" kata Arya mencium dahi Alice.
"Kakak boleh pergi sekarang bye" kata Alice.
"Aku menunggumu tertidur dulu honey, baru aku akan pergi" kata Arya yang duduk di kursi sambil menatap Alice yang mulai ngantuk dan menguap..
Setelah mengecek Alice tertidur pulas barulah Arya meninggalkan kamar Alice.
Keesokan paginya
tok..tok..tok bunyi pintu kamar tamu Alice diketok.
Alice terbangun dan beranjak dari ranjang sambil melihat jam menunjukkan pukul 4 pagi.
'Orang gila mana yang membangunkan aku jam segini, awas nanti akan kupukul'
Alice membuka pintu dengan muka cemberut dan mengucek matanya
"Good morning honey, udah siap liat sunrise di puncak gunung ini?" tanya Arya sambil tersenyum.
Alice menatap Arya yang sudah rapi dengan memakai jaket dan topi kupluk warna hitam.
"Tidak mau, aku mau tidur" jawab Alice ketus sambil menutup pintu.
Tetapi tenaga Arya lebih kuat, sehingga sudah masuk ke kamar Alice.
Arya segera mengambil mantel pink Alice dan menarik lengan Alice ke kursi.
Tiba - tiba Arya berjongkok dan memakaikan kaos kaki ke kaki Alice dan juga memakaikan sepatu sneakers.
" Aku tidak mau ikut kak" kata Alice membentak Arya.
"Ikut aku atau aku cium sekarang biar Pak Udin melihat kita dan melapor pada ibu, pilih yang mana?" tanya Arya sambil mendelikkan matanya.
" oke aku ikut, aku bisa jalan sendiri" jawab Alice ketus.
Arya tersenyum dan ia memakaikan topi kupluk warna putih ke kepala Alice.
Alice berjalan lambat menuju halaman rumah utama sambil bergerutu.
Arya tertawa geli melihat Alice
'Ia sangat lucu kalo sedang marah'
Di halaman rumah utama sudah menunggu Pak Udin yang akan menjadi supir mereka pagi ini.
" Pagi Pak Arya dan nona, saya siap mengantar anda ke puncak" sapa Pak Udin.
Alice melihat mobil yang akan dinaiki ternyata sebuah mobil pick up barang.
Alice membuka pintu mobil depan, ternyata kursi sebelah supir diisi dengan sayur - sayuran.
" Maaf bu, saya sekalian antar sayuran ke pasar di kota"
Arya menarik lengan Alice sambil berkata
"Ayo naik "sambil menunjukkan tempat yang harus mereka duduki.
Alice terpaksa mengikuti perintah Arya untuk duduk di belakang mobil bak terbuka.
Di sepanjang jalan penerangan jalan kurang banyak, sehingga masih gelap keadaan.
Bruuk.. bunyi ban mobil masuk ke lobang jalan, Alice terkejut ia memegang lengan Arya.
Arya tersenyum geli melihat Alice ketakutan.
Alice memasang muka cemberut sambil mengomel
'Ini benar - benar keterlaluan', pagi - pagi diajak pergi ke tempat yang tidak jelas dan jalanannya sangat tidak bagus , menyebalkan'.
bersambung🙏
^Ayo Dukung terus Author dengan kaci VOTE, LIKE DAN COMMENT😁
Thanks🙏
^ Jangan lupa klik Favorite untuk update cerita ini😊