Princess Alice

Princess Alice
45.Ungkapan Arya Yang Tulus



🌹🌹Happy Reading🌹🌹


Alice menatap Arya yang duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap tulisan nama CEO Aryasatya Pramudya di meja kerjanya.


Alice sekarang berdiri di depan Arya menatap tajam padanya


" Kenapa kau saja yang bergelar CEO di kantor ini?Bukannya aku juga memiliki jumlah saham yang sama denganmu, berarti aku juga memiliki posisi yang sama denganmu?"kata Alice ketus


Arya terkejut matanya beralih dari laptop sekarang menatap Alice dengan tajam.


'Ada apa dengan Alice?, ia tampak berbeda tidak memanggil aku kakak. Dulu ia sama sekali tidak tertarik dengan urusan kantor. Apa otaknya sudah berganti?'


"Iya kamu juga mempunyai posisi yang sama di kantor ini. Aku mendapatkan mandat menggantikan posisi almarhum papamu." jawab Arya.


"Kalau gitu ruangan ini milikku juga. Aku mau kerja di ruangan ini juga." kata Alice ketus.


Arya dibuat speechless, ia mengusap dahinya beberapa kali dan ia memencet intercom memanggil Dimas.


"Hallo Dimas, kamu kemari sekarang."


" Baik pak."


tok..tok..


"Iya masuk" kata Arya


Arya melangkah masuk ke ruang kerja Arya, ia menatap heran melihat boss nya terlihat kesal


"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya Dimas.


"Kamu tanya pada nona boss mu ini." kata Arya ketus.


Dimas menoleh pada Alice yang berdiri menatap keluar jendela


'Apa mereka habis bertengkar?kok muka boss tampak kesal sekali?'


"Ada yang bisa saya bantu nona Alice?" tanya Dimas


"Aku mau kerja di ruang CEO ini. Bukankah aku juga memiliki posisi yang sama dengan bossmu di perusahaan ini?" kata Alice menatap Dimas .


"Eh..iya nona Alice. Saya segera mengambilkan dan merapikan meja dan kursi kerja nona segera dipindahkan ke ruangan ini."


Alice tersenyum puas melihat Dimas keluar dari ruangan ini. Alice menghampiri pintu dan mengunci pintu ruang kerjs Arya. Ia menghampiri Arya dan melemparkan dokumen Perjanjian Pra Nikah mereka ke meja Arya.


"Kenapa kamu tidak cerita hal yang penting ini padaku sewaktu kemarin bersamaku?" kata Alice ketus.


Arya dibuat terkejut lagi untuk kedua kalinya dalam satu hari ini. Ia melihat sekilas Dokumen Perjanjian Pra Nikah dan menolehkan mukanya ke arah Alice.


"Aku tidak mau buatmu menjadi kaget ,kecewa dan marah padaku." jawab Arya datar.


"Apa katamu? Kau pikir aku bisa dibodohi olehmu. Mungkinkah itu lebih menguntungkanmu bila Perjanjian ini tidak diketahui olehku yang kebetulan hilang ingatan?" kata Alice ketus sambil menatap Arya tajam.


"Kamu bisa menguasai seluruh perusahaan ini disertai kepemilikan saham warisan papaku. Orang lain cuma mengetahui bahwa aku adalah istri CEO perusahaan ini. Jangan coba- coba membuat perusahaan ini bangkrut! perusahaan ini milik keluargaku." kata Alice ketus.


Arya yang dari tadi sudah menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya, bangkit berdiri dari kursinya menghampiri Alice yang berdiri di dekat jendela.


"Kau sudah gila atau otakmu sudah dicuci oleh seseorang HAH?" kata Arya geram sambil mendesak tubuh Alice mundur ke arah jendela.


"Aku menerima posisi CEO ini karena surat wasiat papamu dan papamu memberiku pesannya terakhir untuk menjaga, merawat dan menikahimu serta menjaga perusahaan ini. Si**** kenapa aku harus memberitahu hal ini padamu." kata Arya geram sambil menatap tajam pada Alice yang mulai takut menatapnya .


"Kau mau tau kenapa aku menikahimu dan mau menandatangani surat Perjanjian Pra Nikah itu?karena aku bodoh telah menyukaimu dan aku berpikir suatu hari nanti kau akan menyukaiku." kata Arya berbisik di telinga Alice.


Alice mencium bau parfum maskulin milik Arya dan ia merasakan dadanya berdegup kencang.


' Kenapa hatiku merasa luluh mendengar perkataannya, kak Arya mengucapkan dengan tulus.'


Arya membalikkan badannya kembali ke kursi nya sambil mengusap dahinya beberapa kali.


" Maafkan perkataanku kalo sedikit kasar." kata Alice dengan suara pelan tapi bisa terdengar oleh Arya.


"Apa yang kau bilang?" tanya Arya.


" Maafkan kata- kataku yang kasar." kata Alice dengan suara sedikit keras.


"Bisa kau ulangi lagi dengan kata- kata yang lebih sopan?" pinta Arya sambil menolehkan mukanya pada Alice.


"Hmm..Maafkan aku kak, telah mengucapkan kata- kata yang kasar dan tidak sopan padamu kak."


"Baiklah. Aku memaafkanmu untuk hari ini. Tapi untuk lain kali, aku tidak yakin hatiku dapat memaafkanmu."kata Arya menatap tajam pada gadis yang disukainya.


Alice mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang dipotretnya waktu di rumah Nyonya pada Arya.


"Betulkah ini fotomu bersama teman- temanmu?"tanya Alice sambil menunjukkan foto di ponselnya


Arya melihat foto itu dengan teliti. Setelah beberapa menit ia menganggukan kepalanya.


"Kak Arya mengenal wanita penculikku?" tanya Alice penasaran.


"Iya. Sayangnya aku baru mengetahui wanita itu menculikmu pada hari aku menyelamatkanmu." kata Arya memegang dahinya dengan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya sambil menatap foto itu.


"Foto itu diambil waktu aku kerja part time di club Z semasa aku kuliah. Juwita teman sekolahku kerja sebagai penyanyi di club Z, sedang Angel bekerja sebagai pelayan di club Z ini. Aku bekerja sebagai bartender." cerita Arya.


Alice menatap Arya yang terlihat raut mukanya lesu. Ia merasa bersalah dan tangannya menyentuh pundak Arya memberikan penghiburan.


"Ayo kita kesana." kata Arya sambil menggandeng tangan Alice.


Arya membuka pintu ruangannya bersamaan dengan Dimas yang kaget karena ia juga baru mau masuk ke ruangan Arya sambil mendorong kursi untuk Alice.


"Pak Arya dan Nona Alice mau kemana ?" tanya Dimas.


"Aku keluar sebentar Dim. Kau atur aja meja buat Alice di ruanganku."pinta Arya.


Arya membawa Alice ke parkiran mobil.


Arya membukakan pintu mobil buat Alice. Alice masuk ke mobil Arya dan duduk di sebelahnya.


Alice melirik Arya yang serius menyetir


"Kak kita mau kemana?"


"Kita ke kantor polisi."


Mereka berdua tidak banyak berbincang, mereka sibuk dengan pikirannya masing- masing. Setelah 45 menit perjalanan mereka tiba di kantor polisi.


Arya menggandeng tangan Alice memasuki pintu utama kantor polisi


"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya petugas polisi yang berjaga di meja depan


"Aku hendak bertemu Kapten Hendry." kata Arya.


"Bapak naik ke lantai 2 . Ruangan ada di sebelah kiri tangga. Ruangan 205."


" Terima kasih pak."


Arya menggandeng tangan Alice menaiki tangga menuju lantai 2. Mereka tiba di depan Ruangan 205.


tok..tok..


"Iya masuk." kata Kapten Hendry.


Arya membuka pintu sambil memberi salam


"Selamat siang kapten." sapa Arya sambil memberi tanda hormat pada sobatnya.


"Siang Arya. Ada yang bisa kubantu?" tanya kapten.


"Kami hendak bertemu Juwita." kata Arya


"Baiklah.Dia ada di tahanan bawah." kata Kapten.


"Bagaimana hasil interogasi dengan Juwita ,Kap?" tanya Arya


"Dia bilang ia bekerja sendiri. Motifnya iri dengan nona Alice." jawab Kapten.


Kapten mengantar mereka ke sel tahanan di kantor polisi. Mereka dikasih kesempatan berbicara 15 menit.


"Hallo Juwita. Apa kabarmu?" tanya Arya


"Hallo Arya sayang, aku merindukanmu. Tolong bantu aku keluar dari tempat ini. Aku tidak menyukai tempat ini." kata Juwita berbicara pada Arya dengan manja.


"Hei gadis kaya..kenapa kau bisa disini? Bukannya kau sudah menghilang dari sini?" kata Juwita menatap Alice sinis dari balik jeruji.


"Hallo Juwita sayang. Nasibku lebih beruntung darimu. Kau lihat aku masih hidup, bisa makan dan tidur dengan enak dan nyaman. Liatlah tempat ini, sepertinya cocok denganmu sayang." kata Alice tersenyum sinis


"Si**** rasakan ini." kata Juwita sambil menyerang Alice dengan pecahan kaca.


Dengan sigap Arya menghadang Juwita yang hendak menyerang Alice dari balik jeruji tahanan


Srrt..


Pecahan kaca itu mengenai lengan Arya yang melindungi tubuh Alice. Darah segar keluar dari lengan Arya. Beberapa polisi segera masuk ke sel Juwita. Polisi segera memelintir tangan Juwita dan mengambil pecahan kaca.


"Maaf Arya, aku tak sengaja. Br****** kau gadis kaya." kata Juwita.


Petugas medis segera mengobati luka di lengan Arya. Untungnya luka nya tidak terlalu dalam.


Akhirnya mereka pamit keluar kantor polisi. Alice langsung mengambil kunci mobil Arya.


"Biar aku aja yang menyetir kak. Kita pulang aja ya kak." kata Alice dengan muka memelas.


Arya menganggukan kepala mengalah pada Alice.


Alice mengarahkan mobilnya ke kediamannya karena di Mansion lebih aman dibanding Apartment Arya. Di sepanjang jalan mereka tidak berbicara sama sekali, mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Tadi kak Arya melindungi diriku. Apakah ia menyukai diriku dengan tulus?'


BERSAMBUNG🙏


^Ayo Dukung terus Author beri VOTE, LIKE dan Comment😁


Thanks🙏


^ Jangan lupa klik Favorite untuk update cerita😊