Princess Alice

Princess Alice
21. Sejauh mana kau mengenal Arya ?



🌻🌻Happy Reading🌻🌻


Keesokan pagi


kring..kring


Bunyi weker berdering, Alice terbangun dengan mata sebelah yang masih malas terbuka ia melirik jam yang menunjukkan pukul 8 pagi..


Ia mengambil ponselnya dan mulai mengecek whatsapp yang masuk.


'Tidak ada satupun pesan dari kak Arya.'


Ia membaca wa dari Dave yang berbunyi:


Hallo Princess, apa kabarmu ? Saya harap kamu baik- baik saja sama suami barumu.


Btw, jangan lupa acara kelulusan diadakan dua minggu lagi di hall auditorium kampus.


ok..see u in there , bye.


Alice melirik kalendar hari ini hari Senin, masih ada dua minggu lagi menuju acara kelulusannya, tapi mengapa aku merasa kesepian.


'I miss u papa.'


Alice melamun sambil menatap foto papa bersamanya.


Tak disadarinya setetes air mata menetes di seprei ranjangnya.


Alice beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi , setelah selesai mandi ia sibuk mencari baju yang cocok untuk ke kantor, akhirnya ia memilih kemeja biru muda dan celana panjang putih dan blazer warna putih .


Alice menatap dirinya di depan cermin sambil mengikat rambutnya yang panjang serta berdandan natural soft.


Setelah selesai ia segera berangkat menuju kantor barunya.


Di Perusahaan


Alice turun dari mobilnya tepat di depan pintu masuk Perusahaan Property "Tjokro "Grup dan ia memberikan kunci pada petugas parkir untuk memarkir mobilnya.


Semua orang menatap Alice terkagum- kagum atas kecantikannya.


Alice langsung menuju ruang kerja Arya.


Sesampainya di depan pintu ruang Arya, ternyata pintunya tertutup.


"Pagi Nyonya Alice, maaf ruang Pak Arya dikunci sesuai perintah Pak Arya" kata Dimas asisten Arya.


"Oo..terima kasih Dimas"


Alice segera menuju ruang kerja Adrian.


Alice mengetuk pintu sambil tersenyum


" Good morning Kak"


Adrian terkaget dan terpana sejenak


"Good morning Alice, ada apa gerangan pagi - pagi sudah ke kantor?"


'Gadis kecilku sudah berubah menjadi wanita muda yang menawan'


"Aku lagi boring di rumah kak"


"Suamimu tidak ke kantor hari ini?"


"Kak Arya pulang kampung, ibunya masuk rumah sakit"


Adrian terdiam sejenak, ia berpikir apakah ia harus bercerita tentang hal itu.


"Alice ada yang ingin kutanyakan padamu"


"Ada apa kak?"


"Sejauh mana kau mengenal Arya ?"


Alice terdiam sesaat "Aku belum terlalu dalam mengenalnya kak, ada apa kak?"


"Arya bersama papamu membatalkan Project "Resort Pelangi" secara sepihak, sehingga merugikan perusahaan kita dan juga developer asing yang sudah menandatangani kerjasama dengan perusahaan kita"


Alice kaget dan terdiam.


" Boleh aku melihat proposal Project Resort itu kak?" tanyanya penasaran.


Adrian memberikan proposal Project resort pada Alice.


Alice membacanya dengan muka serius.


Setelah beberapa menit, ia bertanya


" Kak, darimana kakak mendapatkan proposal ini? dari Dimas? Arya? "


" Dari Pak Gerald"


Alice segera mengambil ponselnya dan memotretnya.


"Kak, menurutku kakak harus mencari tau diam- diam, karena Uncle Gerald bukanlah orang yang dapat dipercaya."


"Kakak sudah tanyakan pada kak Arya?."


" Sudah, jawaban nya orang di desa tersebut tidak menyukai orang asing ada di desa mereka"


Alice merenungkan kata- kata dari jawaban Arya. Tiba - tiba Alice bangun dari kursinya dan pamit


" Kak, aku pamit dulu aku ada urusan yang mendadak, bye"


Alice segera menuju parkiran mobil di basement.


Jari jemari Alice sibuk mencari no kontak Dimas dan segera menghubunginya


"Halo Dimas, pesankan aku 1 tiket penerbangan ke kota Y"


"Oh iya Dim, bisakah kau kirimkan ke WA aku alamat rumah Pak Arya di kampung?"


Alice segera pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, ia mengepak beberapa bajunya yang akan dipakainya ke dalam kopernya.


" Mbok, aku mau berangkat ke airport bisa beritahu pak Darno untuk mengantarku "


" baik non, nona mau pergi kemana?"


" Aku menyusul Kak Arya ke kampung mbok"


"Baik non..Hati - hati di jalan "


Di Kota Y


Alice baru saja tiba di airport kota Y.


Ia sibuk dengan jari jemari memesan grab car menuju alamat rumah Arya.


Setelah 30 menit menunggu, sebuah mobil Xenia hitam berhenti di depannya.


Seorang pria berumur 50an tahun membuka jendela sambil berkata


" Nona Alice?"


" Iya"


Segera supir grab itu turun membantu memasukkan koper ke bagasi belakang mobil.


Alice menikmati perjalanan dengan sesekali membuka jendela, udaranya masih segar berbeda dengan kota tempat tinggalnya.


"Jarang ada orang bertamu ke Perkebunan Pelangi ini nona, karena penduduk desa ini sangat tertutup dengan orang asing, mereka hanya bekerja sebagai buruh perkebunan ini."kata pak supir.


Alice mendengarkan cerita pak supir dan teringat sesuatu..


Ia membuka ponsel dan mencari di galery foto dokumen proposal Resort.


Alice terkaget


'Perkebunan yang hendak dibuat resort adalah milik keluarga Arya, astaga apa yang harus kulakukan?'


Tiba - tiba Pak supir berkata


" Nona, kalo mau balik ke airport jangan malam - malam ya non, akses dari perkebunan untuk memanggil grab tidak ada, kecuali nona jalan kaki sampai ke persimpangan jalan besar tadi atau nona minta diantar pemilik perkebunan ini" kata pak supir mengingatkannya.


" Baik pak..terima kasih pak"


Alice melihat dari jendela mobil, membayangkan kalo malam jalanan ini akan terasa menyeramkan karena tidak ada penerangan lampu dan di kiri kanan jalan hanya ada pohon..


Akhirnya Alice tiba di rumah utama Perkebunan Teh Sunshine setelah perjalanan 2 jam dari airport.


Alice memberikan sejumlah uang dan tips untuk pak supir..


Sekarang ia sedang berdiri memegang koper merah sambil melihat taman yang indah dan terawat penuh bunga begonia yang indah.


" Selamat sore nona, nona mencari siapa?" tanya seorang bapak tua.


" Selamat sore bapak, saya mencari Pak Danang Pramudya".


"Silakan ikuti saya nona"


Alice mengikuti bapak tua menuju sebuah rumah yang berjarak 2 km dari rumah utama.


Alice mengamati rumah ini seperti ruang kantor dan ia bisa melihat ke dalam seseorang sedang duduk menulis.


Bapak tua itu segera menghampiri pria muda yang duduk di dalam ruangan kantor itu sambil menunjuk ke arah Alice..


Danang segera beranjak dari kursi dengan ekspresi kaget, dan ia segera menghampiri Alice.


"Kak Alice, kapan kamu datang? dengan siapa kemarinya?".


Danang langsung mengambil koper merah Alice dan mengajak Alice untuk masuk ke ruangannya.


Alice tersenyum


"Saya baru saja tiba disini .Maaf saya tidak memberi kabar kedatanganku. Bagaimana keadaan ibu?"


"Ibu hari ini sudah lebih baik, rencananya kak Arya akan membawanya pulang sore ini" jawab Danang sambil melirik jam yang menunjukkan pukul 6 sore.


"Kak Alice, sebaiknya kakak mandi dulu dan beristirahat di kamar tamu sebelah, nanti pukul 7 malam kak Alice bisa ke rumah utama untuk makan bersama kami"


"Baiklah..terima kasih Danang"


Danang langsung membawa Alice ke kamar tamu di sebelah ruang kantornya dan segera meninggalkannya.


'Gawat ini kalo ibu sampai bertemu dengan kak Alice, aku harus menelpon kak Arya'


Danang langsung mencari ponselnya dan menghubungi kakaknya.


Tepat pukul 7 malam, Alice sudah selesai mandi dan berdandan.Ia memakai kaos pink dan celana panjang jogging.


Ia berjalan kaki menuju rumah utama melewati jalan setapak.


Akhirnya Alice tiba di rumah utama, ia mengintip dari jendela samping ternyata kak Arya dan ibunya baru tiba di rumah.


"Nak, kamu harus meninggalkan Alice karena ia seorang anggota keluarga Tjokro dan ibu lihat di koran ia seorang gadis yang liar memakai baju terbuka" kata ibu Arya dengan suara agak tinggi.


"Bu, tenang dulu nanti ibu sakit lagi. Arya saat ini tidak bisa meninggalkannya karena Arya sudah berjanji dengan pak Harris " kata Arya.


Alice terkejut dengan percakapan ibu mertuanya dan Arya.


Bersambung🙏


^Ayo Dukung terus Author dengan kaci VOTE, LIKE DAN COMMENT😁


Thanks🙏


^ Jangan lupa klik Favorite untuk update cerita ini😁