Princess Alice

Princess Alice
97.Hari Yang Menegangkan (2)



🌹🌹Happy Reading🌹🌹


"Kau...kau tidak bisa menjadi milikku.Dan semua pria pun tidak akan memiliki dirimu juga. " ucap Farel dengan ekspresi marah.


Alice, Arya dan semua orang di ruangan meeting itu terkejut melihat reaksi mendadak tuan muda Bramantya.


"Sabar...sabar tuan. kita dapat menyelesaikan baik- baik." ucap Arya menenangkan Farel.


Farel menggeleng- gelengkan kepalanya sambil tersenyum pada Alice.


"Goodbye honey" ucap Farel tersenyum miring


dor...dor...


Terdengar teriakan banyak orang di ruangan meeting itu. Alice masih terkejut dan memejapkan matanya.


bruk...


Terdengar suara tubuh seseorang jatuh ke lantai.


bruk...bruk...


Pintu ruangan meeting dibuka paksa oleh sekelompok pria berseragam polisi. Ternyata Kapten Hendry dan anak buahnya datang dan langsung menyergap Farel dari belakang.


" Menyerahlah tuan Farel Bramantya. Anda sudah dikepung. " ucap Kapten Hendry menodongkan pistolnya ke arah badan Farel.


Farel menolehkan mukanya ke arah kapten Hendry, ia tertawa keras seperti orang gila lalu menyerahkan pistol miliknya kepada petugas polisi. Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerahkan dirinya.


"Anda ditahan atas percobaan pembunuhan, kasus korupsi, kasus narkoba." ucap Kapten Hendry memberi kode kepada anak buahnya untuk membawa Farel keluar ruangan .


Farel tertawa histeris seperti orang gila. Alice mendengar suara tawa itu dan membuat bulu romanya berdiri dan ia pun tersadar bahwa dirinya merasakan sakit di punggungnya, setelah tubuh seseorang menindih tubuhnya dan mendorong dirinya jatuh terlentang di lantai. Ia memberanikan dirinya membuka matanya .


Alice membelalakan kedua matanya yang indah, tubuh Arya tergeletak di pangkuannya. Alice menatap Arya yang bajunya dipenuhi darah segar.


" Kak...bertahanlah.Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku! Bertahanlah sayang.Hiks...hiks" ucap Alice dengan air mata mengalir deras di pipinya sambil menggoyang- goyangkan lengan suaminya.


" Dim, telpon ambulance sekarang!" perintah Alice.


" Sudah nona. Mereka sedang menuju kemari!" ucap Dimas masih memegang ponselnya sambil berjalan mondar mandir.


Nyonya yang melihat kejadian yang mendadak itu, membuat dirinya lemas dan terdiam di kursinya.


' Arya mencintai cucuku dengan tulus. Dia harus hidup demi Alice dan perusahaan ini.'


Kapten Hendry mendekati kursi Adrian. Adrian terkejut melihat seorang pria berseragam polisi mendekati dirinya


" Tuan Adrian Tjokro, silakan ikut kami ke kantor polisi untuk menjawab beberapa pertanyaan kami!" ucap Kapten Hendry.


Adrian berdiri dari kursinya menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya dari tatapan para direksi perusahaan. Nyonya Margaret melihatnya dengan tatapan kasihan . Hanya tante Shanon yang juga mama Adrian menangis terisak- isak melihat Adrian dibawa polisi .


' Maafkan oma mu nak. Kamu harus belajar dari kesalahanmu. Ambillah hikmah dari peristiwa ini.'


Ternyata Nyonya Margaret menyuruh Pengacara keluarga untuk melaporkan Adrian ke polisi atas tindakannya.


Alice yang terkejut Adrian hendak dibawa ke polisi hanya bisa menatapnya dengan datar.


Ketika Adrian melangkah melewati Alice, ia meminta ijin sebentar untuk bicara dengan adik sepupunya itu.


" Maafkan aku Alice. Aku telah membuatmu kecewa dan terluka atas perbuatanku. Aku khilaf dan iri pada suamimu." ucap Adrian dengan suara kecil sambil menundukkan kepalanya.


Alice menatap datar pada kakak sepupunya yang dulu sangat ia kagumi bahkan ia pernah jatuh cinta padanya, sekarang ia benar- benar kecewa dan terluka atas perbuatannya.


" Kakak tau suamiku sudah mengetahui perbuatanmu dari beberapa bulan lalu, dia sama sekali tidak memberitahuku siapa pengkhianat di perusahaan ini. Kenapa? karena ia tidak ingin aku terluka mengetahui kakak sepupu kesayangan istrinya yang berkhianat. Ia memilih diam, sampai akhirnya aku bertemu Farel dia yang memancingku untuk mengetahui siapa yang berbuat ini di perusahaanku. Kau tau, suamiku hari ini siap untuk melepaskan jabatan CEO nya untuk diberikan padamu, ia hanya meminta satu permohonannya agar ia tetap dapat memilikiku dan bayi kami. Sekarang kau liat, ia sedang berbaring kaku di depanku. Apa kau ingin dia juga meninggalkan diriku? Hah...aku tak sanggup hidup tanpanya kak...Hiks...hiks. " ucap Alice sambil menangis terisak - isak.


" Alice kenapa kau begitu baik padaku setelah perbuatanku?" tanya Adrian menatap Alice yang hendak berjalan menyusul petugas medis itu.


" Karena kau tetap keluargaku. Kakak bisa renungkan kejadian hari ini. Sampai jumpa." ucap Alice sambil menatap datar pada kakak sepupunya ini.


" Dim, kau lanjutkan meeting hari ini! dan buat voting untuk pemilihan CEO ." perintah Alice.


" Baik nona." ucap Dimas sambil menunduk kepala memberi hormat pada nona mudanya.


Alice berjalan setengah berlari menyusul petugas medis yang sudah berada di lobby gedung . Di lobby depan gedung mobil Alice sudah disiapkan oleh pengawal wanitanya .Alice melihat Pengawa wanitanya sedang membuka pintu mobilnya untuk dirinya.


" Ayo yan, kita jalan mengikuti mobil ambulance itu!" perintah Alice.


" Baik nona." ucap Pengawal wanita itu.


Pengawal wanita Alice mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, ia sesekali melirik nona mudanya lewat spion tengah . Alice menatap dengan tatapan kosong dan sesekali Alice meremas ujung dress yang sudah penuh dengan darah suaminya. Pengawal wanitanya merasa ikut cemas melihat keadaan nona mudanya .


" Nona, aku membawa salinan bajuku di mobil. Sebaiknya nona mengganti dress nona." ucap pengawal wanita .


Alice tetap tidak menjawab dan masih dalam posisi tatapan kosong.


Setelah menempuh perjalanan 20 menit menembus kemacetan kota di siang hari, mereka tiba di parkiran Rumah sakit. Alice bergegas keluar dari mobilnya. Tiba- tiba sebuah tangan menahannya, Alice menolehkan muka ke arah orang yang menahan tangannya.


" Nona. Tolong gantilah baju nona! " ucap Pengawal wanita itu menyerahkan sebuah kaos biru dan celana jeans.


Akhirnya Alice menerimanya dan mengganti baju nya di mobil. Beberapa menit kemudian ia bergegas keluar dari mobilnya, ia berlari menuju bagian administrasi. Ia menanyakan keadaan suaminya pada perawat itu.


" Bu, saya mau menanyakan pasien korban tembak yang baru keluar dari ambulance beberapa menit lalu. Ada di mana bu?" tanya Alice dengan nada cemas.


" Maaf bu. ibu walinya? silakan tanda tangani berkas ini. Pasien atas nama Aryasatya Pramudya sedang dioperasi saat ini." ucap perawat itu.


Alice menandatangani berkas itu lalu berjalan menuju ruang tunggu operasi. Ia duduk dengan cemas sambil menangis terisak- isak. Beberapa menit kemudian datanglah Dave sahabatnya menghampiri dirinya


" Princess. Sabar dear... Suamiku pria yang kuat" ucap Dave sambil memeluk sahabatnya itu.


" Dave. Ia berjanji padaku tidak meninggalkanku. Aku tidak bisa hidup tanpanya Dave. Hiks...hiks.." ucap Alice masih dalam posisi memeluk Dave.


Tak lama datanglah Olivia adik sepupunya dan Devon temannya yang sekarang menjadi pacar Olivia. Olivia memeluk kakak sepupunya sambil mengelus punggung sepupunya memberikan kekuatan pada sepupunya itu.


Sejam telah berlalu, operasi belum juga selesai. Alice dan beberapa sahabatnya menunggu dengan cemas.


Dimas melangkahkan kakinya menuju ruang tunggu operasi . Ia melihat nona mudanya sedang duduk di kursi tunggu dengan ekspresi cemas.


" Nona Alice. Saya membawa kabar baik. Tuan Arya ditetapkan menjadi CEO kembali seperti semula." ucap Dimas dengan tersenyum mengambang.


" Terima kasih Dim." ucap Alice dengan senyum tipis.


' Apa gunanya jabatan . Aku hanya ingin ia kembali padaku.'


Alice menutup matanya lalu memanjatkan doa pada Tuhan Sang Pencipta


'Oh Tuhan, tolonglah suami hambamu ini. Bantulah tangan dokter yang sedang bekerja agar suamiku dapat pulih kembali. Amin.'


Bersambung🙏


^ Ayo dukung author dengan beri Vote, Like dan Comment😁


Salam sehat selalu ya guys..Thanks🙏


^ Jangan lupa klik Favorit untuk update cerita terbaru😁🙏