Princess Alice

Princess Alice
77.Home Sweet Home



🌹🌹Happy Reading🌹🌹


'Aku beruntung memiliki Arya sebagai suami. Kasihan kak Almira, Chris benar- benar pria egois dan bodoh.' gumam Alice.


Hari terus berganti tak terasa sudah memasuki bulan Desember. Cuaca di Paris terasa dingin sekali, walaupun Alice sudah memakai baju 2 rangkap plus coat ataupun mantel serta syal leher, sarung tangan, topi serta sepatu boots cuaca dingin masih terasa di kulit Alice yang putih.


Alice menolehkan mukanya ke belakang melihat pengawal wanitanya yang dari tadi bersin- bersin.


Ia menautkan kedua alisnya sesaat


' Kurasa pengawalku ini tak tahan udara dingin, sudah tepat keputusanku untuk pulang ke tanah air sebelum Natal tiba.' gumam Alice


"Ayo cepat jalanmu!, kenapa hari ini kau lelet sekali Yan?" ucap Alice.


"Maaf nona muda, sepertinya tubuhku tidak enak badan." ucap pengawal wanita itu.


"Kalo tau dari pagi, kau tidak usah mengawalku ke kantor. Aku bisa pergi sendiri." ucap Alice


" Tidak nona. Saya masih sanggup mengawalmu, lagipula ini tanggung jawabku." ucap pengawal wanita.


Alice menggeleng- gelengkan kepalanya sesaat


sambil bersungut- sungut


' Dasar aneh dan keras kepala. Sudah tau badannya tidak enak badan masih saja mau mengawalku.' gumam Alice.


Hari ini hari terakhir Alice magang kerja di butik Ms. Jessie Lee. Ia berencana pamit pada boss dan rekan- rekan kerjanya.


" Hallo good morning." sapa Alice pada teman- temanya.


" Hallo Alice. Hari ini hari terakhir berada disini. Kami akan merindukanmu nantinya." ucap Beatrix salah satu rekan kerjanya sambil memeluk Alice.


Alice membalas pelukan itu sambil mengusap punggung gadis muda berambut merah itu.


Tak lama kemudian datang Ms. Jessie Lee boss Alice


"Morning Alice, mari Alice ke ruanganku ." pinta boss nya.


Alice menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan mengikutinya langkah kaki boss nya menuju ruangan kerja Ms. Jessie Lee.


" Ini buatmu dear" ucap Ms. Jessie Lee sambil memberinya secarik kertas.


Alice mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti.


' Sebuah Surat Perjanjian Pembagian Hasil Penjualan Rancangan bajunya. YES...Not bad 60% untuk designer dan 40% untuk pihak distributornya.'


" Untuk semua rancanganku?" tanya Alice penasaran.


" Yes dear." ucap Ms. Jessie Lee tersenyum.


" Kamu seorang boss, guru dan mentorku yang paling hebat. Terima kasih sudah membimbingku dalam training selama 4 bulan ini. Maaf kalo aku tidak bisa full sampai 6 bulan karena kondisiku." ucap Alice dengan ekspresi 'puppy eyes'nya.


"It's okay dear. Kapan pun kamu mau balik kesini, pintuku selalu terbuka untukmu." ucap boss nya sambil memeluk Alice.


" Wow...perutmu semakin berisi dear. Sudah berapa bulan usia kehamilanmu?" tanya bossnya.


"26 minggu miss." ucap Alice sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat buncit.


" Sudah seharusnya kau balik ke negaramu, pastinya suamimu menantimu sekarang ini." ucap boss nya.


Alice menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Hari sudah semakin siang, Alice mengucapkan perpisahan pada rekan- rekan kerjanya .


Setelah selesai , Alice bergegas balik ke apartment nya. Mbok Sumi sudah merapikan koper- koper miliknya. Alice mengambil ponselnya untuk menghubungi Almira.


Almira📞: Hallo Al. Aku sudah siap. Aku berangkat dulu ya.


Alice📞: Okay. Aku berada di belakangmu. Sampai jumpa disana.


Alice segera menutup ponselnya. Ia mengintip dari jendela, mengamati pergerakan anak buah Madam Rose.


' Sepertinya anak buah Madam Rose masih tidur. Baguslah.' gumam Alice.


Alice melangkahkan kakinya sambil membawa kopernya menuju lift yang membawanya turun ke lantai dasar. Pengawal wanitanya dan mbok Sumi mengikuti langkah menuju lift.


Sesampainya di lantai dasar, Alice melihat Almira dan anaknya yang sudah siap dengan kopernya. Alice mengedipkan matanya memberi kode ubtuk bersiap- siap.


Pengawal wanitanya memanggil 2 taksi sekaligus, Alice memberi kode pada Almira untuk segera naik ke taksi yang di depan. Pengawal wanitanya dan Mbok Sumi berpura- pura berbincang dengan supir taksi dari taksi itu.


Sedang Almira dan anaknya berjalan cepat dan menyelinap diantara mereka dan segera naik ke bangku belakang taksi itu. Almira merendahkan punggungnya sedikit sehingga tak terlihat oleh anak buah Madam Rose yang bertugas mengamatinya.


" Yan, kau ikut dengan nona Almira!." pinta Alice.


" Baik nona." ucap pengawal wanita itu.


Si Pengawal wanita itu naik ke taksi depan bersama Almira dan anaknya untuk membantu menjaga mereka. Sedangkan Alice dan mbok Sumi berada di taksi kedua.


Tepat pukul 5 sore mereka tiba di airport. Mereka bergegas menuju counter check in mengingat pesawat mereka akan take off pukul 6 sore.


Setelah melewati bagian imigrasi dan pemeriksaan tiket dan barang bawaan. Akhirnya mereka dapat duduk tenang di kursi sesuai tiket. Alice sengaja memesan tiket kelas ekonomi agar kedatangannya tidak terlalu mengundang awak media meliputnya.


Alice memandang awan dari jendela kaca di sebelah kirinya sambil mengelus lembut perut buncitnya sambil tersenyum sendiri


"Ehem...sepertinya Alice sedang melamunkan seseorang? Apakah suamimu yang kau lamunkan?" tanya Almira yang duduk di sebelahnya.


Alice yang terkejut mendengar kata- kata Almira segera menjawab


"Hmm...iya kak. Kakak tau aja sih." ucap Alice tersenyum malu.


" Tentu saja aku tau . Dari raut mukamu tergambar jelas kau merindukan suamimu. Kau beruntung Al, memiliki suami yang pengertian dan sabar walaupun kau hamil dan berada jauh di negara orang. Suamimu dengan sangat pengertian menerima keinginanmu dan sabar ia menantimu. " ucap Almira dengan tersenyum.


Alice menganggukan kepalanya dan melirik Almira yang menghapus air matanya yang jatuh di pipinya.


Alice merengkuh bahunya sambil berbisik


" Kak Almira yang lebih hebat dariku. Kakak seorang wanita tangguh membesarkan seorang anak sendiri dan sabar menghadapi laki- laki egois." bisik Alice sambil mengelus pundak Almira.


"Kak. Lihat Nevan pasti bangga memiliki ibu sepertimu." ucap Alice sambil menunjuk bocah berumur 2 tahun yang duduk di sebrang kursi ibunya.


Almira menolehkan mukanya ke kanan melihat anaknya sedang tertawa bercanda dengan mbok Sumi dan Pengawal wanita Alice yang duduk di sebelah kiri dan kanan Nevan.


Almira merasa lega dan tenang melihat putranya aman dilindungi oleh teman barunya Alice beserta para pelayan Alice.


" Al, sepertinya kau di negara kita adalah seorang putri karena hidupmu selalu dikelilingi pengawal dan pelayanmu." ucap Almira penasaran.


" Boleh dibilang seperti itu. Awalnya aku tidak menginginkannya ,tapi keadaanku sedang hamil memaksaku untuk menerima para pelayan yang sudah digaji suamiku dan oma ku tersayang." ucsp Alice menerangkan Almira.


Almira menganggukan kepalanya tanda setuju dan mengerti mengapa keluarga temannya melakukan hal ini.


" Itu karena mereka sayang padamu dear." ucap Almira tersenyum.


Tak terasa 13 jam perjalanan mereka di udara sudah berakhir. Terdengar suara kapten pilot mengumumkan bahwa mereka akan mendarat sebentar lagi.


Alice membuka hordeng jendela kaca disisinya menatap ke bawah, tampak atap- atap rumah, laut dangkal dan airport dari ketinggian 1000 meter.


' Yes. Home sweet home.' gumamnya.


Mereka mendarat di airport Soetta dengan mulus. Alice merapikan mantel coklatnya serta kemeja biru yang dipakainya dan celana jogger yang sedikit longgar.


Sebelum beranjak dari kursi pesawat ia memakai kacamata hitam serta topi putih kesayangan agar para awak media massa tidak mengenalnya.


Alice menggandeng lengan tangan Almira di sepanjang area arrival di terminal 1 airport Soetta.


Mereka bergegas keluar dari pintu keluar dan menuju teras terminal. Alice melihat dari kejauhan supir keluarga pak Darno sudah menunggunya


" Selamat datang nona muda." ucap Pak Darno sambil membungkukkan badannya.


" Hallo pak. Terima kasih sudah menjemputku. Tugas bapak hari ini mengantarkan mereka semua termasuk tamuku kak Almira ke mansionku. Aku akan pergi sebentar sendiri tanpamu. Apakah bapak memberitahu kedatanganku hari ini pada suamiku? ." ucap Alice tersenyum.


Pak Darno mengelengkan kepalanya dan ia sudah hafal dengan sifat keras kepala nona mudanya.


" Kau Yani, ikut pulang dengan mereka semua! Kau boleh libur hari ini. Dan jangan mengangguku hari ini!" perintah Alice sambil mendelikkan matanya pada Alice.


Sang pengawal wanita itu hanya menganggukan kepalanya dan sudah memahami sifat nona mudanya yang keras kepala.


Sepeninggal mereka semua, Alice mengambil ponsel dari dalam tasnya dan memencet nomor Dimas


Dimas📞: Selamat pagi nona Alice. Ada yang bisa dibantu?"


Alice📞: Pagi Dim. Dimana suamiku sekarang?


Dimas📞: Di kafe xx di jalan Z dekat kantor polisi . Nona dimana...?


Dimas terheran- heran karena nona mudanya menutup pembicaraan mereka di ponsel tiba- tiba.


' Kok tumben nona menelpon pagi - pagi sekali?Di manakah dia sekarang? di Paris? atau sudah disinikah? Aaah...pusing amat bukan urusanku.' gumam Dimas.


Alice segera meluncur dengan taksi yang disewanya mengantarnya sampai di kafe xx yang disebutkan Dimas .


Sekitar 40 menit, akhirnya tiba Alice di kafe xx.


Alice segera turun dari taksi , ia sudah tidak sabar ingin memeluk suaminya.


Ia merapikan rambutnya digerai tanpa ikatan. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk kafe.


Ia melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kafe sambil menolehkan mukanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari suaminya. Beberapa pengunjung kafe yang sedang duduk santai menikmati coffee ataupun breakfast di pagi hari menatap Alice tanpa berkedip . Alice tampak anggun dan cantik memakai mantel coklat serta dalaman kemeja biru dan celana jogger warna biru serta kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.


Sedang Alice sedang menatap tajam ke arah meja pojok yang bersisian dengan jendela di sebelah kirinya. Tampak Arya sedang berbincang dengan seorang wanita muda yang cantik memakai dress berkerah v berwarna hitam.


Alice mengepalkan kedua tangannya dengan kesal


'Siapakah wanita itu? Berani- beraninya Arya bermain- main denganku di belakangku?'


Bersambung🙏


^ Ayo dukung author dengan beri Vote, Like dan Comment😁


Thanks🙏


^ Jangan lupa klik Favorite untuk update cerita ini