Princess Alice

Princess Alice
44. Konferensi Pers



⚘⚘Happy Reading⚘⚘


Keesokan Pagi


Jam baru menunjukkan pukul 6 pagi, terlihat kesibukan di kamar Olivia.


Alice sedang berdiri di depan cermin yang berada di walk in closet. Ia memilih menggunakan Blazer dress di atas lutut lengan panjang berwarna biru tua. Ia mengikat rambutnya panjang ala pony tail dan memakai make up soft. Setelah puas atas penampilannya , ia segera turun ke lantai bawah untuk sarapan.


"Selamat pagi dear" sapa tante Shanon.


"Selamat pagi aunty" sapa Alice sambil mencium pipi aunty yang masih tetap cantik walaupun umurnya menginjak 40 tahun.


Tak lama kemudian Olivia turun ke lantai bawah duduk bersebelahan dengan Alice breakfast bersama sambil bercerita lucu dan tertawa bersama. Aunty Shanon yang melihat mereka, tersenyum sendiri mengingat masa- masa remajanya bersama adiknya Sheren ( mama Alice)sebelum adiknya meninggal.


"Mom, kenapa mommy tersenyum ?" tanya Olivia


"Aku mengingat masa dulu ketika aku berada di meja makan ini bersama adikku Sheren, kami berbincang dan tertawa bersama. Itu adalah masa yang paling indah yang kukenang bersamanya. Liatlah sekarang putrinya yang cantik sudah besar menjadi gadis cantik dan cerdas dan itu berkat papamu juga dear Alice." kata aunty Shanon.


Alice teringat akan papanya, ia ingin mengunjungi makamnya setelah urusan ini selesai. Alice menitikkan air matanya dan segera buru- buru menghapus air matanya yang sudah di ekor matanya seblom dilihat orang lain.


"Selamat pagi cucu- cucuku tersayang, gimana tidur kalian?" tanya oma yang baru saja keluar dari kamarnya dan sekarang duduk di kursi makan.


" Sangat nyenyak." kata Alice dan Oliv kompak.


Mereka berbincang bersama di meja makan. Momen yang sangat indah bagi mereka yang jarang bertemu dan berkumpul bersama .


"Alice dear, bisakah kau berbincang sebentar dengan diriku setelah breakfast?" tanya oma dengan ekspresi serius.


"Baiklah oma"


Setelah selesai breakfast, ia melangkah menuju ruang kerja Nyonya atau oma Alice


tok..tok..


"Masuklah." kata Nyonya


Alice melangkah masuk, ia melihat ada orang lain selain Nyonya yaitu seorang pria berumur 50 tahunan memakai kacamata. Ia menyambutnya


"Selamat pagi nona Alice. Namaku Pak Hanif, aku adalah pengacara keluarga ini. Apakah anda mengingatku?" tanya Pak Hanif.


Alice menggelengkan kepalanya sambil menatap pria berumur 50 tahun yang berkacamata itu.


"Baiklah. Aku mencoba mengingatkanmu akan hal penting. Aku akan memberikan surat Perjanjian Pra Nikah ini." kata Pak Hanif sambil menyerahkan surat berisi Perjanjian Pra Nikah.


Alice membaca surat Perjanjian Pra Nikah dengan ekspresi serius. Setelah ia selesai membacanya, ia menarik nafasnya dan tersenyum.


"Bolehkah saya menyimpan surat ini?" tanyanya.


"Silakan nona."


"Oh iya nona, saya mendapatkan foto- foto ini. Adakah yang nona kenal orang- orang di foto ini?" kata Pak Hanif.


Alice melihat foto- foto itu satu persatu ,ia melihat wanita yang menculik dan menyekapnya di gudang dan wanita boss yang mengaku kakaknya dan membawanya ke villa mewah untuk di****.


"Aku mengenal wanita- wanita yang di foto ini menculik dan menyekapku."


"Wanita ini namanya Juwita sudah ditangkap dan sekarang ditahan di kantor polisi . Apakah anda mengingat dia di masa lalu nona?" tanya Pak Hanif.


Alice menggelengkan kepalanya.


"Kalo wanita ini, nona mengenalnya seblom penculikan?" tanya Pak Hanif sambil menunjuk pada foto wanita boss yang cantik.


Alice menggelengkan kepalanya.


"Para wanita ini mengenal Pak Arya, nona coba lihat foto mereka bersama."


Alice memperhatikan foto itu, itu seperti foto mereka sedang bertamasya bersama teman- teman mereka yang lainnya.


'Sepertinya foto ini diambil beberapa tahun yang lalu.'


Alice mengambil ponselnya lalu memotret foto itu.


"Kalo sudah tidak ada hal lain yang dibicarakan, saya pamit dulu oma." kata Alice


"Alice dear, ingat berhati- hatilah selalu. Apakah kau yakin dia pria baik?atau dia sedangmempermainkanmu?" kata Nyonya


"Baik oma. Aku akan menyelidikinya." kata Alice sambil mencium pipi omanya.


Alice segera berangkat ke kantor dengan memakai mobil putih milik Olivia diiringi satu mobil berisi para pengawal. Perjalanan dari rumah Nyonya menuju kantornya memakan waktu 2 jam. Akhirnya ia tiba di parkiran basement kantornya, ia telah ditunggu oleh sekretaris Arya yaitu Dimas ,satu pria tampan yang ia yakini itu adalah Kak Adrian sepupunya dan seorang gadis cantik yang berdiri di sebelah Adrian .


Alice segera turun dari mobil putihnya. Ia tampak cantik dan elegan seperti biasanya memakai blazer dress di atas lutut warna biru muda memperlihatkan kakinya yang putih mulus.


"Pagi Dimas. Semua sudah disiapkan?"


"Sudah nona."


Alice menatap kak Adrian, ia mencoba mengingat kakak sepupunya ini.


"Welcome back Alice. Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah ingatanmu sudah pulih?" tanya Adrian.


"Terima kasih kakak telah membantu menyelamatkanku. Ingatanku blom 100% pulih tapi aku akan membantu memulihkan keadaan perusahaan hari ini." kata Alice tersenyum.


Alice menatap gadis cantik yang gugup berdiri di sebelah Adrian


" Kamu Marisa ya?" tanya Alice sambil menatap gadis itu.


" Iya nona Alice." jawab Marisa dengan senyum malu.


Alice tersenyum dan menaikkan alis kirinya. Alice melangkah menuju lift yang mengantarnya langsung ke ruang konferensi. Dimas, Adrian dan Marisa mengikutinya dari belakang disusul para pengawal mengawal nona mudanya.


Akhirnya Alice sampai di lantai 2 tempat ruangan konferensi yang sangat luas. Para wartawan dari media cetak maupun media digital sudah berkumpul.


Mereka menoleh ke arah Alice yang baru saja keluar dari lift. Mereka segera berlari menghampiri Alice. Dengan sigap petugas keamanan kantor dan para Pengawal Nyonya membentengi Alice sehingga Alice dapat berjalan dengan nyaman menuju panggung. Para wartawan berteriak memanggilnya dan mengambil foto dirinya


"Nona Alice..nona Alice ..bagaimana keadaanmu?" tanya para wartawan.


Alice menjawabnya sambil tersenyum manis dan segera para wartawan mengabadikan foto dirinya.


Alice naik ke atas panggung dan ia berdiri di tengah panggung. Ia menyiapkan dirinya berbicara tanpa perlu teks.


"Selamat pagi teman- teman wartawan." sapa Alice


"Saya mengundang teman- teman wartawan semua ke acara hari ini untuk memberikan Klarifikasi mengenai kabar hilangnya saya." kata Alice menatap para wartawan dengan ekspresi serius.


"Pertama Saya mengucapkan terima kasih pada para polisi yang sudah bekerja keras menemukan saya. Benar, beberapa hari yang lalu saya diculik oleh penculik yang saat ini sudah ditangkap dan ditahan polisi. Sekarang saya sudah kembali beraktifitas bekerja di perusahaan seperti biasanya. Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Terima kasih atas perhatiannya." kata Alice sambil tersenyum.


Sepasang mata menatap Alice tanpa berkedip


'Gadis keras kepala.'


Dimas segera naik ke panggung mengambil alih acara konferensi tersebut.


"Silakan untuk sesi tanya jawabnya" kata Dimas.


Dimas mempersilakan wartawan bertanya dan ia sudah mempersiapkan jawabannya.


Alice berdiri meninggalkan panggung dari pintu belakang dikawal oleh para pengawal Nyonya.


Alice melangkah keluar dari pintu belakang, tiba- tiba lengannya ditarik seseorang dan ditarik masuk lift . Pria itu memberi kode para pengawal Nyonya. Para pengawal memberi hormat padanya.


Alice terkejut dia hanya menatap mata pria yang sekarang berada di dalam lift bersamanya. Mata pria memancarkan emosi marah.


Ting...


Pintu lift terbuka, lengan Alice ditarik masuk ke ruang kerja pria itu yang tak lain adalah Arya suaminya.


"Apa yang sudah kau lakukan? kau tidak tau itu bisa membahayakan dirimu?" kata Arya menatap tajam padanya.


"Kakak tidak usah kuatirkan diriku, yang harus kakak perhatikan adalah perusahaan ." kata Alice ketus.


"Apa katamu?" kata Arya sambil menghampiri Alice.


Alice melangkah mundur dan punggungnya menyentuh tembok. Arya sudah mengurungnya kembali membuat Alice tidak dapat bergerak. Arya menatap tajam bola mata Alice yang berwarna coklat


"Apakah kau tidak mengerti nona, kau dan perusahaan adalah prioritas utamaku."


Arya melepaskan kurungan tangannya dan mengusap keningnya sambil berjalan ke kursi kebesarannya.


Alice memegang dadanya sambil menarik nafasnya


' Kenapa jantungku berdegup kencang?Aku tidak boleh jatuh cinta padanya.'


BERSAMBUNG🙏


^Ayo dukung terus Author dengan memberi VOTE, LIKE dan COMMENT😁


Thanks🙏


^Jangan lupa klik Favorite untuk update cerita ini😊