My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 97, Lamaran



Setelah mengenal satu sama lain seluruh keluarga Dominic, Keluarga Tesla dan Keluarga Menzies, Queen dan Tristan yang telah pulih kini bawa pulang ke kediaman keluarga Tesla. Chloe dan Jaeden sangat senang karena akhirnya putri satu-satunya telah kembali dan berkumpul bersama.


Semua nampak bahagia, apalagi setelah tahu musuh mereka telah mati dan tidak ada halangan lagi.


Keluarga Tesla dan Keluarga Menzies berencana akan menikahkan Queen dan Gavin setelah Queen benar-benar telah pulih total. Mereka yang tahu keduanya telah memiliki anak tidak ingin kedua cucunya tidak memiliki keluarga lengkap, maka dari itu mereka memaksa Queen untuk menikah dengan Gavin, yah walaupun sebenarnya Queen menolak karena ia ingin tetap sendiri dan hanya hidup dengan kedua anaknya.


"Mommy tidak ingin mendengar penolakan mu, kamu tetap akan menikah dengan Gavin. Kasian pada mereka berdua karena tidak memiliki keluarga yang lengkap," ucap Chloe membujuk.


"Aku bisa menghidupi mereka berdua walaupun tanpanya," Jawab Queen tetap kukuh tidak ingin menikah.


"Mommy tahu kamu mampu, tapi semua itu tetap beda. Kamu tidak tahu bagaimana perasaan mereka yang menginginkan keluarga lengkap. Jika pun kamu bertanya padanya cukup dengan mu saja, mereka tetap akan mengangguk karena tidak ingin membuat mu sedih dan tertekan jika mendengar keinginan mereka yang menginginkan keluarga lengkap," jelas Chloe dengan tangan mengelus tangan Queen.


Queen diam, berpikir. Chloe sebenarnya tidak ingin memaksa, tapi semua itu demi kebahagiaan cucunya karena tidak ingin keduanya kekurangan kasih sayang seorang ayah. "Sayang, pikirkan dengan baik-baik. Pikirkan juga keinginan mereka," sambung Chloe agar Queen berpikir ulang.


"Untuk saat ini aku tidak bisa berpikir. Menurut ku ini sangat tiba-tiba. Lebih baik mommy keluar dulu, aku ingin sendiri,"


Hah, Chloe menghela nafas dan akhirnya pergi untuk memberi waktu putrinya berpikir tentang sarannya menikah dengan Gavin.


Setelah Chloe pergi, Queen memijit pelipisnya, terasa pusing dengan permintaan mommy nya itu. "Kenapa juga harus menikah? Tidak bisakah tidak menikah? Aku mampu hidup bertiga dengan anak ku tanpa nya." gumamnya tidak berpikir di dunia barunya akan menikah secepatnya ini.


Queen beranjak dan berdiri di depan jendela, menatap bulan yang terang dan gemerlap bintang. Bayangan kehidupan nya di dunia masa lalu terlihat jelas, dan senyum seseorang muncul di hadapannya. "Apakah kamu masih ada?" gumamnya teringat dengan seseorang yang selalu bersama nya di medan perang.


Hah, Queen menghela nafas. Berdiri cukup lama membuatnya lelah, dan akhirnya merebahkan kembali tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar, berpikir tentang permintaan Mommynya untuk menikah dengan Gavin.


"Apakah harus menikah dengan pria itu?" gumam nya mengingat Gavin yang sering kali mendekati dan bersama akhir-akhir ini. Mengingat Gavin yang membantunya menyelamatkan kedua putranya, lagi-lagi Queen menghela nafas. Haruskah ia melupakan kenangan dulu dan memulai lembaran baru? Jika memang jalannya seperti itu maka ia akan menjalaninya.


"Baiklah, mungkin ini memang takdir ku," gumamnya dan memejamkan mata, tidur. Queen akan mengatakan keputusannya esok hari kepada semuanya, bahwa ia akan menerima Gavin sebagia suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya, mata indah dengan bulu mata lentik itu terbuka, menampilkan manik indah yang mempercantik wajah Queen. Sungguh kecantikan sempurna. Seseorang yang sedari tadi menunggu tersenyum kecil saat wanita yang di tunggunya telah bangun dan kini menatapnya dengan pandangan terkejut.


"Selamat pagi sayang," sapa seseorang itu yang tak lain adalah Gavin yang sengaja datang untuk membangunkan wanitanya. Tapi saat melihat Queen tidur dengan nyenyak, ia tidak tega untuk membangunkannya.


Queen yang melihat Gavin ada di kamarnya dan duduk di sampingnya, menatap tajam. "Kenapa ada di kamar ku?" tanya Queen dengan dingin


Queen yang melihat senyum itu diam dan setelah itu membuang muka. Entah kenapa senyum itu membuatnya aneh. Queen turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. "Lebih baik kamu keluar,"


"Kamu mengusir ku sayang? Kenapa? Aku datang kesini karena ingin bertemu dengan mu dan berbicara dengan mu. Tapi kenapa kamu mengusir ku?" tanya Gavin menjadi bodoh di depan Queen.


Queen menarik nafas dengan panjang, seraya memejamkan mata, kesal dengan apa yang di katakan Gavin, "Lalu apa kau ingin melihat ku mandi?"


Gavin yang mendengar langsung diam, ternyata karena ingin mandi makanya Queen mengusirnya. "Aku akan disini menunggu mu. Jika kamu ingin mandi, mandilah."


Queen tidak menjawab dan lebih baik pergi untuk membersihkan tubuhnya. Dan setelah beberapa menit, ia pun selesai dan kini duduk saling berhadapan dengan Gavin dengan tatapan dingin.


Gavin yang melihat menelan ludah, kenapa calon istrinya begitu dingin padanya. Mau berbicara saja rasanya terasa berat jika di tatap seperti itu. "Sayang, jangan menatap ku seperti itu. Kamu membuat ku takut," ucap Gavin mengingat kejamnya Queen membunuh Laura.


"Cepat katakan, kamu ingin berbicara apa?"


Hah, Gavin menghela nafas, ternyata tetap saja calon istrinya menunjukkan sikap seperti itu.


Gavin beranjak dari duduknya dan berpindah tempat di samping Queen. Memegang tangan Queen dengan lembut. "Sayang, aku tahu kamu tidak mencintai ku. Tapi asal kamu tahu, aku sangat-sangat mencintai mu dan berharap kamu mau menikah dengan ku. Aku akan melindungi mu, menjaga mu, mencintai mu sepenuh hati dan akan membuat mu bisa membalas cinta ku. Yah, walaupun sulit tapi aku akan berusaha membuat mu jatuh cinta pada ku. Dan aku berjanji akan membuat mu bahagia selamanya,"


Queen yang mendengar hanya terus menatap Gavin yang serius dengan ucapannya, apalagi mendengar akan melindungi dan menjaganya. Entah kenapa ia merasa tidak sendiri dan ada yang di harapkan untuk bisa menjadi pelindungnya. Yah, walaupun sepertinya di ragukan, tapi ia merasa senang dengan ucapan itu.


"Hm...." jawab Queen singkat membuat Gavin bingung. Hm.... apa? pikirnya dalam hati, menerimanya atau menolaknya.


.


.


.


.


Bersambung