My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 15, Penyelidikan



"Bagaimana keadaan ku?" tanya teman setimnya yang kini menjenguk Queen di rumah sakit.


"Tidak ada luka yang serius, hanya luka kecil saja," jawab Queen namun di bantah oleh Davin.


"Jika itu luka kecil, mommy tidak akan masuk rumah sakit," jawabnya bersedekap dada, kesal dengan Mommynya yang sering terluka karena banyaknya orang yang mengincarnya. "Kenapa aku tidak cepat besar sih, agar bisa melindungi mommy," gerutu kesal karena tubuhnya lelet untuk menjadi pria dewasa.


Semua yang mendengar gerutuan itu tertawa, sungguh anak kecil yang lucu. Sedangkan Devan yang ada disampingnya ikut menimpali ucapan Davin, "Aku juga kesal, kenapa tubuh ini lama tumbuhnya. Mommy selalu dalam bahaya, tapi tidak ada yang melindungi, kalau bukan kita siapa lagi." ucapnya sedih karena tahu mommy nya selalu dalam bahaya.


Semua temannya yang mendengar saling pandang, mungkinkah Queen selalu mengalami hal ini? "Apa kau tahu siapa mereka?"


"Tidak, aku tidak mengenalnya." jawab Queen memikirkan siapa yang ingin membunuhnya. "Kau tahu sendiri bukan, aku belum lama tinggal disini?" Teman-teman nya mengangguk membenarkan.


"Apa kau punya musuh sebelum datang ke negara ini?" Queen diam, tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia takut temannya akan khawatir padanya. Lagian jika mereka tahu, mereka tidak akan tinggal diam, mereka akan membantunya saat dalam bahaya. Namun Queen melakukan itu, hanya tidak ingin mereka terlibat dengan orang-orang yang berbahaya itu.


Melihat Queen diam, mereka tidak bertanya. Namun mereka akan menolongnya jika Queen meminta bantuan kepada mereka.


"Jika kau butuh bantuan, kau bisa menghubungi kami," Queen mengangguk, senang karena memiliki teman yang peduli dengannya.


"Baiklah,"jawab Queen tersenyum.


.


.


.


Di lain tempat, Tio yang telat mendapatkan informasi tentang dua anak itu kini mendapatkan data akurat, wajah kedua bocah itu benar-benar sangat mirip dengan tuannya saat kecil. Ia mencari informasi itu di setiap sekolah anak TK, yang ada di kota tersebut. Menyebar banyak anak buahnya untuk mencari informasi data anak yang di minta tuannya. Dan kini data tersebut ada di tangannya, siap untuk di serahkan kepada tuannya.


"Benar-benar mirip tuan saat masih kecil. Mungkin kah ibu dari anak ini adalah wanita yang bersama dengan tuan 6 tahun lalu?.Aku harus menyelidiki nya lebih lanjut, memastikan bahwa anak ini benar-benar putra tuan,"


Tio kini pergi menuju kamar tuannya, ingin melaporkan apa yang di dapatkan. Namun saat dirinya hendak masuk kedalam kamar hotel tersebut, ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya, siapa lagi jika bukan Laura yang selalu menempel di samping tuannya.


"Kenapa wanita siluman itu selalu saja menganggu tuan? Ingin aku muntah melihat wajah menjijikkan itu," Tio menggerutu kesal melihat Laura yang terus-menerus mendekati tuannya. Walaupun ia tahu kelakuan Laura di belakang tuannya, ia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diam karena itu permintaan Gavin sendiri.


Tio pun pergi dan menghubungi seseorang, meminta melanjutkan penyilidikan tersebut. Untuk apa yang sudah di tangannya, ia akan membicarakan nanti saat Laura telah pergi.


.


.


Di tempat Mension Aldirch berada, Aldrich meminta Jhon untuk mencari tahu siapa Queen sebenarnya. Wajah yang hampir mirip dengan kakaknya itu membuatnya mencoba dekat. Entah ada perasaan apa, ia merasa aneh.


"Jhon, selidiki siapa Queen Serrena sebenarnya,"


"Queen Serrena? Maksud anda wanita yang selalu anda minta bawakan makanan itu, tuan?"


"Em, aku meminta nya karena agar bisa dekat dengan ku. Melihat wajah itu dengan teliti agar apa yang ku pikirkan semoga saja benar." Jhon mengangguk mengerti, tahu apa yang di maksud tuannya tentang putri kecil dari kakak kesayangannya.


"Oh ya, hubungi Sevana untuk datang disini, minta padanya untuk mendekati Queen." Jhon mengangguk lagi, dan setelah itu pergi untuk memerintah bawahannya dan menghubungi Sevana, nona mudanya yang super reseh.


Ia menghela nafas saat hendak menghubungi nona mudanya tersebut. Seorang gadis yang selalu mencoba mencari perhatiannya.


Drrt....


Drrt....


"Hello sayang, akhirnya kau menghubungi ku. Kau tahu aku sudah sangat-sangat rindu dengan mu," ucapnya membuat Jhon diam, memutar matanya dengan malas. Sudah hal biasa ia mendengar kata-kata seperti itu.


"Nona, saya menghubungi anda karena di minta oleh tuan. Beliau meminta anda untuk datang ke negara C. Ada sesuatu yang harus anda lakukan."


"Negara C? Ngapain?" tanyanya bingung. Dan saat mengingat Daddy itu menginginkan dirinya memimpin perusahaan ADS Group dengan cepat ia menolak. "Tidak! Aku tidak akan datang. Kau tahu sendiri kan, Daddy pasti meminta ku untuk mengurus perusahaan yang merepotkan itu. Jadi maaf, aku menolak,"


"Ini bukan tentang perusahaan, nona. Melainkan anda di minta untuk mendekati seorang wanita,"


"Seorang wanita? Tidak mungkin Daddy akan menikah lagi kan?" tanyanya khawatir Daddy nya ingin mencari istri lagi. Lalu jika itu benar, mau di kemanain Mommynya.


Jhon yang malas berbicara, menegaskan akan menjemput nya esok hari. Dan tidak ingin mendengar bantahan, ia pun menutup panggilan tersebut. Membuat Sevana mengumpat kesal dengan pria idamannya itu.


.


.


.


Laura yang ada bersama Gavin kini telah pergi saat mendapatkan panggilan dari seseorang, ia tidak ingin Gavin mengetahui apa yang di lakukannya. Sehingga membuat alasan, ada sesuatu hal yang harus di beli untuk oleh-oleh kembali kenegara J.


"Aku pergi dulu sayang, mommy meminta ku untuk membelikan oleh-oleh untuknya," Gavin mengangguk, memang kenyataan ia tidak sabar Laura pergi dari sampingnya.


"Pergilah,"


Laura pun pergi, tapi sebelum itu ia mengecup pipi Gavin dengan lembut. Dan saat Laura telah pergi, Gavin mengambil tisu dan mengusapnya, membersihkannya karena merasa jijik dengan ciuman itu.


"Menjijikkan," kesalnya. Dan tak lama Tio datang duduk di depan tuannya, menyerahkan data dua anak yang di minta tuannya, lengkap dua foto wajah yang mirip, Devan dan Davin.


"Ini data anak yang anda minta, tuan," serahnya dan langsung di ambil.


Gavin dengan cepat menyambar dan membacanya. Melihat data tersebut dengan teliti. Saat melihat dua foto anak yang cukup tampan itu, ia mengelusnya, mengatakan jika ini benar-benar mirip dengannya.


"Anak ini benar-benar mirip saat aku masih kecil," Gumamnya tidak percaya. "Selidiki dengan benar, apakah ibu dari anak ini adalah wanita itu. Jika itu benar berarti ada pihak yang ikut campur tangan dalam masalah ini. Dan pastikan tidak ada yang mengetahui nya, karena aku yakin orang yang menutupi informasi ini adalah orang yang memiliki kuasa besar,"


"Baik tuan," Tio akan melakukannya dengan hati-hati. Dan untuk memastikan kedua anak itu benar putra tuannya, ia akan langsung turun tangan sendiri agar bisa melakukan tes DNA, memastikan bahwa itu memang anak tuannya dari wanita 6 tahun lalu.


.


.


.


Bersambung