
"Jika boleh tahu apa yang membuat kakek datang berkunjung?" tanya Queen takut king menyadari sesuatu.
"Ingin mengunjungi saja dan melihat mu saja, apakah kamu baik-baik saja atau tidak," jawab King santai membuat Queen tidak bisa menebak.
"Semoga saja dia tidak mendengar suara pemuda itu," batinnya yang tahu pria tua di depannya bukanlah pria biasa, pria tua yang penuh misteri.
King masih melihat sekeliling membuat Queen benar-benar waspada. Dan benar saja seperti yang tidak di inginkan, pria itu benar-benar bertanya tentang asal suara pemuda tadi.
"Tadi sepertinya aku mendengar suara laki-laki disini?"
Queen yang mendengar diam, dalam hati menyumpahi pemuda itu. Ia tidak takut king mengetahui dirinya ingin membunuh pemuda itu, ia hanya takut jika king memiliki pikiran lain, menyembunyikan pria untuk di jadikan penghangat di ranjang. "Sial!"
"Tidak ada, mungkin anda salah dengar," jawab Queen dengan sikap datarnya
"Oh jadi aku salah dengar ya?" ucapnya mengangguk-angguk kan kepalanya.
King menatap Queen dengan wajah yang susah di artikan. Queen yang melihat bingung, ada apa dengan pria tua ini. "Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Queen mungkin king ingin meminta bantuan padanya. Yah, kadang memang seperti itu, memanggil Queen dengan berbagai alasan dan berakhir memintanya untuk menemani mengobrol dan makan bersama.
"Ada sesuatu yang ingin kakek katakan pada mu. Mungkin ini terbilang penting, tapi kakek tidak bisa menyembunyikannya lagi tentang kebenarannya ini pada mu. Dan kamu wajib tahu,"Jelas King dengan suara sedikit keras, berharap Tristan mendengarkannya.
Dan benar saja, Tristan yang di sekap oleh anak buah King memang mendengar suara king yang berbicara di ruang tamu.
"Siapa itu? Apa itu suara kekasih Queen? Tapi kenapa suaranya seperti kakek-kakek? Tidak mungkin jika itu adalah suami Queen," batin Tristan berpikir jauh. Ia akan mendengarkan apa yang di katakan pria itu pada Queen. Jika pria itu bukan suami Queen dan berbuat di luar kendali, Tristan akan menunjukkan siapa sebenarnya dirinya, dan akan mengajar pria tersebut. Ikatan yang ada di tubuhnya sebenarnya mudah untuk ia lepas. Tapi karena ingin melihat dan bersama Queen, ia rela di perlakukan seperti itu agar bisa menatap wajah Queen yang hampir sama dengan mommy nya.
Di ruang tamu, Queen yang mendengar king ingin berbicara serius mengerutkan kening. Apa yang hendak di bicarakan kakek tua itu. "Katakan, aku ingin mendengar nya. Sepertinya itu sangatlah penting," King mengangguk, memang sangatlah penting. Tapi dalam hati, entah apa yang di lakukannya ini benar atau tidak, ia berharap semoga saja benar.
"Kau tahu siapa yang memberi mu nama Queen Serrena?"
"Tentu saja aku tahu, dan pastinya adalah ibu dan ayah ku," jawab Queen merasa aneh dengan pertanyaan itu.
"Kau pasti juga tahu siapa nama ibu dan ayah mu," Queen mengangguk saja, padahal kenyataan nya ia sama sekali tidak tahu siapa nama ibu dan ayahnya, bahkan wajah nya pun ia lupa.
"Dia adalah Sena Morenes dan Roy Hamilton," King beranjak dan berdiri di dekat jendela, membayangkan wajah putrinya, menatap langit yang terik. King menghela nafas sebelum bercerita, berat rasanya mengatakan kejujuran itu yang akan berakhir membuat Queen kembali keluarga aslinya.
"Sena dan Roy menikah selama setahun. Mereka pergi ke negara N untuk hidup mandiri. Tapi selama menikah mereka belum juga di karuniai anak. Dan hingga suatu saat mereka menemukan apa yang mereka inginkan, seorang anak yang membuat hidup mereka bahagia. Tapi kenyataannya semuanya tidak berlangsung lama, musuh dari ayah Sena mengetahuinya keberadaan Sena dan berakhir membunuh sepasang suami istri itu, beruntung sang anak tidak berada di rumah dan akhirnya ia selamat dari pembunuhan itu." jelas King menjeda ceritanya. Matanya berkaca-kaca ingin menangis mengingat kematian putrinya yang tragis. ia yang lalai dan tidak peduli karena marah membuatnya harus kehilangan putri satu-satunya yang di miliki. Dan itu membuat penyesalan terdalam selama hidupnya.
Queen yang mendengar mengerutkan kening. Di otaknya berpikir keras. Sena, Roy, itulah yang ia tangkap dari penjelasan king, orang tua yang tidak di ketahui nya setelah datang di dunia ini.
"Sepertinya anda sangat mengetahuinya dengan jelas,"
King diam, berat menjawabnya, mengatakan jika ayah dari Sena adalah dirinya. Dan ia kembali melanjutkan ceritanya. "Musuh dari ayah Sena adalah seorang Mafia besar di Negaranya, sama halnya dengan Ayah Sena sendiri ketua Mafia yang juga memiliki kekuatan besar. Oleh sebab itu kedua kelompok itu saling berseteru dan ingin mengalahkan satu lain demi menduduki kekuatan besar di dunia mafia. Dan juga balas dendam yang mendalam, membunuh keluarga keturunan dari lawan rivalnya, Albern Morenes,"
Queen benar-benar bingung, kenapa Kakek King bisa mengetahui semuanya? mungkinkah? Pikiran Queen melayang jauh, mengatakan jika pria di depannya mungkin saja ayah dari Sena Morenes.
King menoleh, menatap Queen yang juga menatapnya. Ia tersenyum kecil, senang rasanya dapat melihat cucunya. "Aku yakin kau dapat menangkap apa yang ku ceritakan,"
Queen tidak langsung menjawab, ia harus memastikan apa yang di yakini nya. "Lalu jika ayah dari Sena adalah seorang mafia, kenapa tidak melindungi putrinya saat dalam bahaya?"
King menghela nafas, "Itu karena ayahnya sedang marah lantaran putrinya memilih pria yang tidak di sukai ayahnya, dan mengabaikan hidup putri satu-satunya. Hingga di ketahui setelah kematian mereka dan membuat penyesalan terdalam untuk ayah Sena," King menjeda dan melanjutkannya kembali. "Demi menebus kesalahannya, dia menyembunyikan tentang informasi cucunya di dunia luar agar musuh itu tidak menemukannya,"
King mendekati Queen yang duduk di kursi, duduk di sampingnya dan mengambil tangan itu, mengelusnya dengan lembut. "Aku yakin kau tahu siapa ayah Sena. Dan menurut mu bagaimana sikapnya,"
"Dia adalah pria badjingan dan untuk siapa pria itu, dia adalah anda, Tuan King," jawab Queen dengan tatapan datarnya, tidak menyangka pria yang selalu ada di sisinya adalah kakeknya, ayah dari ibunya, Sena.
"Ya, kau benar, dia adalah aku. Pria badjingan seperti yang kau sebutkan,"
"Ya, kau memang seorang badjingan," jawab Queen menghina. Queen tidak peduli jika di depannya adalah kakek si pemilik tubuh, seorang badjingan seperti yang baru saja di sebutkan. Hidupnya di tubuh orang lain, menganggap semuanya biasa saja. Tidak ada rasa sedih dengan cerita itu atau marah pada pria tua di depannya. Tidak ada drama tangis-tangisan ataupun benci.
.
.
.
Bersambung.
Jangan minta Queen benci atau marah pada king ya, author jadi pusing nantinya.😆😆😆
Jangan lupa like nyaaaaa.......
Komen nyaaaaaaaa.......
Dan Votenya..........