
"Tuan, maafkan kami karena tidak bisa menangkap ketua dari Mafia ZAPATA," lapor bawahan King menunduk, takut tuannya marah kembali.
"Tidak masalah, yang penting kalian sudah menghancurkan markas mereka," jawab King menyesap rokoknya.
"Oh, ya. Aku dengar ada yang membantu cucu ku saat cucu ku di keroyok oleh badjingan-badjingan itu. Apa kau mengetahui siapa kelompok itu?"
"Dari hasil penyelidikan, kelompok itu adalah kelompok yang di sewa tuan Gavin, ayah dari cicit anda tuan."
"Kelompok mana itu? Aku tidak ingin kelompok itu sebenarnya adalah musuh ku,"
"Seperti nya bukan, tuan. Kalau tidak salah, kelompok itu adalah kelompok Mafia GEROGRE LORIDZ yang ada di negara C ini, tuan." jelas bawahan itu membuat king diam.
"GEROGRE LORIDZ? Mungkinkah ini suatu kebetulan," batin king waspada, takut mereka mengambil Queen darinya.
"Pantau mereka. Jangan biarkan mereka mengetahui tentang kenyataan siapa cucu ku," perintahnya tidak ingin Tian mengetahui jika Queen adalah cucunya. Entah egois atau bukan, ia yang hidup sendiri tanpa keluarga tidak ingin Queen di ambil alih oleh mereka.
"Baik tuan," jawabnya dan akan memantau gerak gerik kelompok GEROGRE LORIDZ yang di sewa Gavin.
.
.
Pagi hari di rumah sakit. Queen membuka matanya, di lihatnya pertama seorang yang tidur menyandarkan kepalanya di ranjang. Matanya mengernyit, siapa pria ini? batinnya melupakan jika Gavin lah yang membawanya ke rumah sakit.
Gavin yang merasakan pergerakan tangan Queen, bangun. Menatap Queen yang juga menatapnya. Queen mengerutkan kening, mengingat apa yang terjadi padanya.
"Dia yang menyelamatkan ku," batin Queen masih menatap wajah Gavin yang baru bangun tidur. Lucu, tapi tetap tampan.
"Kamu sudah bangun. Bagaimana, apa masih sakit?" tanyanya penuh perhatian.
Queen menggeleng dengan pandangan tak lepas dari wajah Gavin. "Tidak buruk," batinnya melihat perhatian Gavin. Tapi untuk saat ini ia masih belum bisa membuka hatinya untuk Gavin. Yang saat ini menjadi prioritas nya adalah mencari keluarga pemilik tubuh, dan barulah memikirkan kehidupannya untuk keluarga barunya.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa mu," Gavin memanggil dokter lewat alat yang ada di ruangan tersebut, tanpa harus repot-repot menemui sang dokter.
Tak lama dokter pun datang dan memeriksa keberadaan Queen. Setelah dokter memeriksa dan mengatakan Queen baik-baik saja, tinggal memulihkan lukanya, Gavin merasa lega.
"Kapan aku bisa pulang?" tanya Queen tidak senang berada di rumah sakit
"Tunggu luka mu benar-benar sembuh, baru kita akan pulang,"
"Aku bosan disini," jawab Queen kesal, membuang muka, malas melihat wajah Gavin.
Gavin yang melihat menghela nafas. Sabar, harus sabar. Itulah kata hati Gavin yang selalu di ucapkan jika bersama Queen. Sikap dingin, cuek dan keras kepala Queen membuat Gavin harus ekstra sabar dan penuh kelembutan serta mengalah. Jika dirinya tidak melakukan itu, bisa jadi dirinya akan menjadi bahan samsak tinjuan Queen.
Gavin diam, memikirkan apa yang di lakukan agar Queen mau tetap tinggal di rumah sakit demi kesembuhan lukanya. Cukup lama berpikir, terbesit dua nama yang pastinya di rindukan oleh Queen. "Bagaimana kalau menghubungi Devan dan Davin? Aku yakin mereka pasti merindukan mu,"
Queen yang mendengar langsung bersemangat saat mendengar tentang putranya. "Hubungi mereka, aku ingin berbicara dengan nya."
Panggilan pun masuk, dan tuan Ryan langsung menjawab saat tahu putranya menghubunginya.
"Hmm...ada apa?"
"Papa bersama Devan dan Davin?"
"Mereka bersama dengan mama mu,"
"Berikan ponselnya, aku ingin berbicara dengan mereka," pinta Gavin, namun di tolak Tuan Ryan. Tidak ingin Davin dan Devan meminta kembali ke negara C.
"Papa tidak di rumah. Papa sedang di perusahaan," jawabnya beralasan padahal dirinya berada tak jauh dari keberadaan kedua cucunya.
"Benarkah?" tanya Gavin seakan tidak percaya. Mengetahui orang tuanya yang begitu sayang dengan Devan dan Davin, papanya seakan tidak rela jika mereka berbicara dengan Gavin.
"Tentu saja. Apa kau pikir papa berbohong?"
Baru saja berbicara seperti itu, terdengar suara Davin dan Devan berteriak memanggil Tuan Ryan.
"Opa....."
Teriak mereka bersama dan menghampiri. Tuan Ryan yang ketahuan berbohong, menepuk keningnya sendiri karena melihat cucunya begitu ribut.
Sstt.....
Pinta Tuan Ryan meminta mereka berdua untuk diam.
"Ada apa?" tanya Davin yang ingin tahu kenapa opa nya memintanya untuk diam.
"Ada teman opa yang menghubungi dan ini hal penting," jawabnya berbohong. Tapi baru saja dirinya berbohong, Suara Gavin terdengar di telinga Devan dan Davin.
"Daddy! Benarkah itu Daddy?" tanya Davin menatap opanya. "Coba lihat," pintanya mencoba merebut ponsel Tuan Ryan.
"Bukan, ini bukan Daddy mu." tapi sialnya lagi, Gavin malah memanggil mereka berdua, dan itu membuatnya tidak bisa menutupi kebohongan nya lagi.
"Devan, Davin ini Daddy," panggil Gavin membuat Tuan Ryan mengumpat kesal. Dan akhirnya dengan terpaksa memberikan ponsel itu, membiarkan Davin dan Devan berbicara dengan Gavin. Dan lebih kesalnya lagi, ternyata di sana ada Queen, wanita kasar yang tidak di sukainya.
.
.
.
Bersambung