My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 39, Tuan Ryan Selamat



Door....


Satu tembakan melesat ke tubuh Ryan, dan membuat Ryan langsung ambruk dengan tubuh bersimbah darah.


Tiga pria yang melihat Ryan tergeletak tak bergerak, meminta satu di antara mereka untuk menghubungi yang lainnya. Mengatakan jika anak itu di bawa pergi melalui jalan rahasia.


Setelah mengetahui, mereka membawa bom untuk menghancurkan tembok tersebut, untuk mencari keberadaan Tania yang membawa Davin dan Devan.


Tempelkan bom itu untuk menghancurkan nya. Malam ini kita harus menemukan mereka dan membawa dua bocah tersebut," perintahnya dan salah seorang langsung melaksanakannya.


Tik...Tik...Tik...


Duuuar ....


Pintu tembok itu langsung hancur berhamburan. Asap mengepul di ruangan tersebut, membuat pandangan mereka tidak jelas.


Setelah asap itu menghilang, kini terlihat jalan di dalam ruangan tersebut. pemimpin dari kelompok itu meminta untuk mereka masuk dan mencari keberadaan mereka bertiga.


"Masuk, dan cari mereka,"


"Baik,"


Jalan itu seperti lorong, begitu panjang, bahkan sangat-sangat panjang, seolah tidak ada ujungnya. Setelah lama menyusuri kini mereka akhirnya sampai di ujung lorong tersebut.


"Hancurkan," perintahnya menghancurkan pintu tersebut


Boom...


Duuar...


Pintu itu seketika hancur dan di lihatnya hutan yang begitu gelap. Mereka melihat sekeliling, berpikir, bagaimana bisa ujung dari lorong itu adalah hutan.


"Bos, apa kita akan tetap mencari?"


Pemimpin dari kelompok itu diam, berpikir. Hutan ini pastilah luas. Jika mereka mencari tidak tahu apakah akan menemukan nya atau tidak. Yang saat ini ia takutkan malah adanya binatang buas yang bisa saja membunuhnya kapan saja saat memasuki hutan.


"Lebih baik kita kembali. Kita tidak mungkin mencari di dalam hutan yang luas ini. Tidak tahu apakah ada bahaya yang mengintai nyawa kita, kita kembali dan laporkan apa yang terjadi saat ini pada bos,"


Semua nya mengangguk, dan pergi dari rumah tersebut, meninggalkan Ryan yang tergeletak di lantai tertutup reruntuhan puing dinding.


Setelah semua anak buah Arno pergi tanpa membawa hasil, Ryan perlahan membuka mata, duduk bersandar di dinding dengan mengelus dada.


"Selamat-selamat," serunya lega ternyata nyawanya masih melekat di tubuh.


Ryan melepas pakaian nya, terlihat rompi kebal peluru melekat di tubuhnya. Dan kantong darah yang pecah akibat tembakan tersebut. Beruntung tembakan itu mengarah di dadanya, dan membuat kantong darah yang ia siapkan pecah dan darah mengalir. Ia melakukan itu untuk mengelabuhi musuhnya, agar mereka percaya bahwa dirinya telah mati di tangan mereka.


"Hah, Arno brengsek. Awas saja kau. Aku yakin kau secepatnya akan mati di tangan wanita kasar itu karena kau berani menyentuh milik nya," doa Ryan berharap Queen akan membalas apa yang mereka buat padanya dan cucunya, membunuh nya tanpa belas kasih.


Teringat dengan istri dan dua cucunya. Ryan menghuni nomor istrinya, namun ternyata tidak aktif. Ryan pun kesal dan menghubungi Gavin yang ada di Negara C.


Drttt...


Drttt...


"Ada apa pa?" tanya Gavin yang tidak mengetahui apa yang terjadi di keluarga Menzies.


"Papa mu hampir mati hari ini. Dan pelakunya adalah Arno si sialan itu. Mereka mengirim anak buahnya untuk membunuh dan menculik putra mu. Tapi_____," belum juga Ryan selesai bicara, Gavin memotong penjelasan itu dengan pertanyaan nya.


"Apa?? Berani nya mereka. Lalu bagaimana keadaan kalian semua? Bagaimana dengan Davin dan Devan? Apakah mereka baik-baik saja?" panik Gavin tentang kedua putranya.


"Mereka pergi bersama dengan ibu mu lewat jalan rahasia. Dan mereka tidak menemukan keberadaan mama mu dan dua anak mu. Papa barusan menghubungi mama mu, tapi nomornya tidak aktif. Papa takut terjadi sesuatu dengan mereka saat melewati hutan."


Gavin semakin panik saat mendengar hal tersebut. Berharap tidak terjadi sesuatu dengan ibu dan anaknya.


"Aku harus memberitahukan ini pada Queen," Gavin langsung pergi untuk menemui wanitanya itu, mengabarkan jika kedua putranya kini dalam masalah. Gavin yakin Arno tidak akan berhenti sampai disitu saja. Mereka pasti akan mencari keberadaan anaknya lagi. Dan jika sampai mereka menemukan, sudah di pastikan mereka akan membunuhnya.


Saat Gavin menuju ke rumah Queen, ia melihat pertarungan di tengah jalan. Pertarungan sengit yang ternyata di antara orang-orang tersebut adalah orang di sewanya untuk melindungi Queen.


"Apa yang terjadi?"


Gavin langsung turun dari mobil saat berada di dekat pertarungan itu. Melihat dengan teliti, apakah disana ada Queen atau tidak. Dan ternyata disana memang ada Queen yang saat ini sedang bertarung dengan seorang pria bertubuh kekar dan besar. Tak hanya ada kelompok yang di sewanya saja, ada kelompok lain yang kini ikut membantu Queen menyingkirkan kelompok musuh tersebut. Gavin bertanya-tanya siapa kelompok yang membantu itu?


Gavin berlari ke arah Queen untuk membantu wanitanya melawan pria itu, saat sampai di sana dan hendak membantu, di lihatnya Queen membunuh pria itu tanpa rasa takut. Menghunuskan pisaunya di perut berulang kali dan menggorok leher tersebut, membuat pria yang di lawannya langsung mati.


Cuuus...


Cuuus...


Queen membunuh setiap musuh yang menghampirinya. Tangannya pun kini penuh dengan darah milik orang-orang tersebut.


Gavin yang melihat kebrutalan wanitanya dalam membunuh berhenti, ia menatap wajah wanitanya. Ada rasa aneh melihat wajah Queen, seolah apa yang di lakukan Queen adalah hal biasa baginya. Melihat sisi kejam Queen, Gavin seperti takut. Tapi setelah mengingat banyak orang ingin menghilangkan nyawa Queen, Gavin mengerti, mungkin membunuh adalah jalan terbaik untuk wanitanya melindungi diri.


Gavin pun ikut membantu, menyingkirkan musuh tersebut. Walaupun dirinya belum handal dalam bertarung, tapi ia akan berusaha semaksimal mungkin melindungi wanita nya dalam bahaya.


Setelah pertarungan sengit yang cukup lama, kini kelompok Queen lah yang menang karena ada nya bantuan dari kelompok lain yang tidak di kenalnya.


"Siapa kalian?" tanya Gavin menatap beberapa pria yang tidak di kenal nya.


Queen yang mendengar Gavin bertanya pada kelompok itu bingung, bukankah mereka adalah orang yang di utus untuk melindunginya? "Kenapa kau bertanya siapa mereka? Bukankah mereka bawahan mu?"


Gavin menggeleng, tidak mengenal kelompok tersebut. "Aku tidak mengenal mereka," jawab Gavin membuat Queen juga menatap beberapa pria yang ada di hadapannya. Jika bukan Gavin tuan mereka, lali siapa?


"Sebenernya siapa kalian, dan siapa yang mengutus kalian?" tanya Queen penuh selidik.


"Kami hanya orang yang di tugaskan untuk melindungi anda nona. Dan untuk siapa yang mengutus kami, suatu saat anda akan tahu." jawabnya membuat Gavin dan Queen penasaran.


Dan tanpa banyak berbicara lagi, mereka langsung pergi meninggalkan Gavin dan Queen yang masih bingung dengan siapa mereka.


.


.


.


Bersambung