My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 24, Balas Mengancam



"Tuan, Nona Queen sepertinya akan bertemu dengan tuan besar. Saya barusan melihat Nona Queen masuk kedalam mobil milik tuan besar," ucap Tio memberitahu. Gavin yang mendengarnya langsung memerintah Tio untuk menyusul mereka. Ia tidak ingin ayahnya melakukan hal yang tidak di inginkan terhadap Queen. Karena Gavin tahu, jika ayahnya tidak menyukai maka apapun yang di lakukan, termasuk menyingkirkan orang tersebut.


.


.


Queen yang saat ini bersama dengan Tuan Ryan menatap pria yang tidak muda lagi itu. Wajahnya yang sedikit keriput membuat Queen memutar matanya dengan malas saat mengingat pria tua itu berani mengancamnya.


"Katakan, apa mau mu?" tanya Queen tidak ingin basa-basi. Hari ini sungguh hari yang menjengkelkan, baru saja ia bertemu dengan anaknya yang mengatakan ayah kandung dari kedua putranya, kini ayah dari pria itu juga menemuinya. Queen ingin tahu apa yang di inginkan pria tua itu, sehingga memintanya untuk menemuinya.


"Jauhi putra ku dan serahkan cucu ku," jawabnya begitu santai, seolah apa yang di katakan akan di kabulkan Queen.


Queen yang mendengar menaikkan satu alisnya. Tidak salahkan dia dalam mendengar. Menyerahkan kedua putranya? Apakah pria tua di depannya ini sudah tidak waras, pikir Queen berharap pendengaran nya salah.


"Apa kau bilang? Menyerahkan anak ku?" tanya Queen memastikan.


Tuan Ryan mengangguk, masih dengan pandangan sombongnya. Tuan Ryan tidak tahu sebenarnya siapa wanita di depannya. Ia seolah merendahkan bahwa Queen tidak pantas menjadi ibu dari cucunya dan pendamping putranya satu-satunya. Sudah dapat di lihat dari apa yang di kenakan Queen, melihat itu sudah di yakini bahwa Queen hanyalah wanita dari kalangan rendah.


"Tuan yang terhormat. Apa hak mu meminta ku untuk menyerahkan kedua anak ku? Kau pikir kau siapa seenak jidat meminta ku untuk memberikan kedua putra kesayangan ku padamu. Kau itu bukan siapa-siapa. Jadi jangan harap aku akan menyerahkannya pada orang gila seperti mu," hina Queen membuat Tuan Ryan marah. Matanya melotot, menatap tajam wanita di depannya. Pikirnya sungguh berani sekali wanita rendahan ini menghina nya.


Braak....


Pukul-nya keras pada meja tersebut karena marah.


Queen yang melihat malah menyandarkan punggungnya di kursi, tidak takut dengan kemarahan pria gila di depannya. Queen menatap pria di depannya dengan pandangan dingin, membalas tatapan tajam pria tersebut.


"Wanita rendahan, berani sekali kau!" kesalnya dengan amarah memuncak.


"Memang siapa kau? Kenapa aku tidak berani pada mu. Kau itu hanya tua bangka yang gila," balas Queen benar-benar tidak tahan bersama orang sombong seperti ini.


Laura dan Arno yang mendengar semua percakapan keduanya saling pandang, sungguh wanita yang berani. Mereka berdua yang ada di ruang sebelah langsung menghampiri mereka, takut Tuan Ryan dalam bahaya. Apalagi Arno tahu jika wanita itu bukalah wanita sembarangan.


Sebelumnya ia telah mendengar penjelasan bawahannya yang memerintah anak buahnya pada malam hari untuk membunuh Queen. Bukannya mereka berhasil, tapi sebaliknya, semua bahasan itu malah mati di tangan Queen.


"Kita harus kesana, papa takut Ryan akan di bunuh oleh wanita gila itu," ucap Arno dan diangguki Laura.


Saat mereka hendak membuka pintu tersebut, dari arah belakang, Tio dan Gavin menghentikan langkah merek.


"Paman Arno, Laura? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Queen menatap mereka bergantian.


Gavin tidak mengetahui jika mereka berada di negara C. Gavin menatap Tio, meminta penjelasan. Tio pun membisikkan, bahwa mereka berdua datang ke Negara C bersama dengan Tuan besarnya.


Gavin yang mendengar mengepalkan tangan, marah. Ia tahu siapa Arno sebenarnya, seorang pria yang memiliki kekuatan Mafia di belakangnya. Oleh sebab itu, ia tidak bisa menyinggung orang tersebut. Jika sampai itu terjadi, Arno pasti tidak akan melepaskannya.


"Apa yang harus ku lakukan? Aku yakin Arno pasti sudah tahu semuanya." batin Gavin bingung.


Laura yang ada di depannya langsung mendekat, memeluk lengan Gavin dengan erat. "Apa kau datang kesini ingin menemui ku? Maaf sebelumnya aku tidak mengatakan pada mu kalau aku kembali ke Negara J," jelas Laura menatap wajah Gavin


Gavin ingin sekali menolak, tapi di depannya ada Arno yang terus menatapnya. Gavin bisa saja menolak, hanya saja ia memikirkan sesuatu apa yang terjadi di belakangnya. Berurusan dengan ketua mafia sungguh sangat merepotkan, karena nyawa lah menjadi taruhan.


Saat mereka semua masuk, betapa terkejutnya melihat apa yang terjadi di dalam sana. Queen sedang mengancam membunuh Tuan Ryan, mengekang nya dan meletakkan pisau tajam nya tepat di leher pria tersebut.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Arno melihat Ryan dalam bahaya.


Gavin juga terkejut, ia langsung melepas tangan Laura dengan kasar. Dan apa yang di lakukan Gavin dapat di lihat oleh Queen, bahwa Gavin sebelumnya sedang bergandengan tangan dengan wanita yang tak di kenalnya.


"Cih, ternyata pria tak dapat di percaya," batin Queen.


Arno dan Gavin mendekati mereka. Queen dengan cepat menarik tangan Ryan, dan menyanderanya, masih dengan pisau yang di letakkan di leher.


"Kalian mau apa?" tanya Queen melihat mereka berdua mendekatinya. "Jika kalian ingin membantu pria sombong ini, maka aku aku tidak akan segan membunuhnya di hadapan kalian semua," ancam Queen tidak main-main. Marah dengan apa yang terjadi hari ini. Berani nya ada orang yang mengancam tuan putri ini.


"Queen, lepaskan ayah ku. Kita bicara baik-baik," ucap Gavin dengan lembut, berharap Queen melepaskan ayahnya yang wajahnya sudah pucat pasi.


"Melepaskan nya! Siapa memangnya kau ini? Dasar pria munafik," ucap Queen kesal karena melihat Gavin tadi bergandengan tangan dengan seorang wanita.


Arno tentu saja marah melihat Queen yang berperilaku seperti. "Lepaskan dia dan aku akan mengampuni mu," ucap Arno dengan nada dingin.


Queen beralih ke arah Arno. Lagi-lagi pria tak di kenalnya, "Memang siapa kau pria tua? Beraninya berbicara seperti itu pada ku?"


Arno ingin menjawab. Namun Laura yang mendengar nada berani Queen, maju dan menunjuk wajah Queen dengan jarinya.


"Heh, wanita jala-ng! Lancang sekali kau berbicara seperti itu kepada papa ku. Kau tidak tahu siapa papa ku, dia adalah Arno Patrice, orang terkaya no 7 di negara J,"


Queen tidak peduli. Ia sungguh muak melihat mereka semua. Tangannya yang memegang senjata, dengan cepat ia lesatkan ke arah tangan yang menunjuk itu. Dan akhirnya kulit pulih mulus itu tergores oleh pisau Queen dan membuat darah langsung mengalir.


Argh.....


Teriak Laura saat tangannya terluka.


Arno yang melihat putrinya terluka oleh wanita di depannya marah. Ia mengambil senjatanya yang di selipkan di balik celana dan menodongkannya ke arah Queen.


"Berani sekali kau melukai putri ku! Kau harus mati hari ini," marah Arno siap menembakkan senjatanya di ke arah Queen.


Queen yang saat ini masih menyandera Tuan Ryan, tersenyum menyeringai.


"Lakukan jika kau bisa. Dan bersiaplah melihat pria tua ini mati di tangan mu," ucapnya akan menjadikan tubuh Tuan Ryan sebagai tameng.


Tuan Ryan yang mendengar terkejut, ia tidak menyangka ibu dari cucunya sangat kejam. Ia memohon agar Arno tidak melakukannya. Ia tidak ingin mati secepat ini.


.


.


.


Bersambung