My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 28, Mengizinkan Bersama Ryan Menzies



Laura datang ke rumah Queen. Dengan sombong dan sikap angkuh, ia langsung menyelonong masuk. Di lihatnya Gavin saat ini sedang bersama Queen di ruang tamu duduk bersandingan. Sedangkan Devan dan Davin saat ini berada di kamar, setelah di perintah oleh Mommynya untuk tetap di kamar dan jangan keluar.


"Gavin!" marah Laura melihat mereka begitu dekat.


Gavin dan Queen yang mendengar langsung menoleh kearah Laura. Queen tersenyum melihat Laura wajahnya merah karana marah. Ia tahu apa penyebab wanita itu begitu marah, dan sudah di pastikan karena melihat Gavin sedang bersama dengan nya.


Queen, berdiri, bersedekap dada. Menatap Laura dari atas hingga bawah. "Cih, aku yakin kau wanita yang tidak benar,"


Laura yang mendengar semakin marah. "Dasar wanita ja-lang! Siapa yang kau kata wanita tidak benar," Laura maju hendak menampar wajah Queen. Namun Queen tidak mengelak, ia diam. Karana Queen yakin orang yang ada di dekatnya pasti akan menghentikannya. Dan benar saja, Gavin menangkap tangan itu sehingga tangan Laura tidak berhasil mendarat di pipi mulus Queen.


"Gavin," Laura terkejut saat melihat Gavin melindungi Queen.


"Jangan pernah melukainya, Laura. Aku tidak akan membiarkan kau sedikitpun menyentuh kulitnya."


"Apa maksud mu Gavin? Aku ini tunangan mu. Kenapa kau malah membelanya?" Laura tidak menyangka jika Gavin benar-benar membela wanita yang baru hadir di hubungan mereka.


"Aku tidak pernah menganggap mu sebagai tunangan ku. Bukankah sebelumnya aku pernah menolak pertunangan itu. Tapi karena kalian selalu mengancam dan berniat untuk membunuh keluarga ku jika aku menolak. Maka tidak ada yang bisa ku lakukan selain menerimanya. Tapi sekarang aku tidak akan tinggal diam. Walaupun kalian mengancam dan mencoba menghancurkan keluarga ku, aku tidak takut," ucapnya menghempaskan tangan Laura dengan kasar.


Tangan yang belum sepenuhnya sembuh dari luka yang di buat Queen, kini terbuka lagi. Luka itu mengeluarkan darah, hinga perban yang melilitnya terdapat noda darah.


Laura menatap tajam Gavin, "Badjingan! Beraninya kau berbicara seperti itu pada ku, Gavin," Gavin diam saja, ia merengkuh pinggang Queen dan hal itu membuat Laura semakin marah. Napasnya semakin memburu saat melihat kemesraan itu. Sedangkan Queen, menoleh menatap wajah pria yang lancang itu.


"Kau akan menyesal setelah ini. Lihatlah, akan ku buat kalian berdua menderita," Laura tidak terima. Ia langsung pergi meninggalkan mereka sambil menghubungi ayahnya. "Pa, buat mereka menyesal. Dan bunuh wanita ja-lang itu,"


Arno yang tahu pasti putrinya sakit hati, langsung menyetujui. Ia akan membunuh Queen dan membuat keluarga Menzies menyesal menyinggungnya.


Setelah kepergian Laura, Ryan datang. Dan langsung masuk saja tanpa permisi. Dua insan yang lagi berdebat, dan berakhir Gavin mendapatkan tinjuan matikan, membuat Ryan terkejut. Ia tidak menyangka jika Queen benar-benar wanita yang kasar.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ryan mengangetkan mereka.


"Papa," Gavin terkejut karena ternyata papanya benar-benar datang ke tempat Queen. Ryan mendekati mereka, dan menarik Gavin agar menyingkir. Ryan kini berdiri tepat di hadapan Queen, menatap wanita itu dari atas hingga bawah.


"Tidak ada yang terluka," batinnya melihat Queen tidak ada luka sedikit pun. Bekas tamparan pun tidak ada, berarti Laura tidak melakukannya.


Ryan tidak berkata apapun pada Queen. Ia melihat sekeliling ruangan itu, mencari dua bocah yang di lihatnya tadi. Gavin yang melihat bertanya, apa yang di cari papanya. "Papa mencari apa?"


"Kedua cucu ku. Kemana mereka?"


Queen yang mendengar langsung menyela, tidak ingin Tuan Ryan mengambil anaknya seperti yang di katakan sebelumnya. "Jangan coba-coba mengambil mereka dari ku. Jika anda melakukannya, aku tidak akan segan untuk mem____" Belum juga Queen selesai berbicara, Ryan menjawabnya dan pergi mencari keberadaan Davin dan Devan tanpa persetujuan Queen.


"Berisik. Aku akan mencari mereka sendiri,"


Tuan Ryan pergi menuju sebuah kamar, dan mengetuknya. "Cucu ku, opa datang," ucap Ryan dihentikan Queen.


"Apa yang anda lakukan?"


"Memang apa yang ku lakukan? Aku hanya memanggilnya dan ingin bertemu dengannya,"


Ckleek....


Pintu terbuka, nampak Davin dan Devan menatap mereka bertiga.


"Davin, Devan, masuk," perintah Queen namun di cegah oleh Tuan Ryan. Ia menunduk dan menyapa keduanya. "Wah, cucu-cucu opa ternyata sudah besar. Dan juga tampan seperti opa,"


Davin dan Devan saling pandang. Berpikir, siapa pria tua di depannya.


"Maaf seperti nya anda sudah mulai rabun. Saya tidak setua anda. Dan masih tampanan kami," jawab Davin membuat Tuan Ryan terkejut. Sedangkan Gavin yang melihat ayah nya terkejut, tertawa kecil. Sungguh anak yang pintar.


Tuan Ryan mendongak menatap Gavin, "Apa mereka benar anak mu? Kanapa mulutnya tajam sekali,"


"Dia seperti ibunya," jawab Gavin mendapatkan pelototan langsung dari Queen.


Melihat putranya nampak bahagia bersama dengan Queen, tuan Ryan hanya bisa menghela nafas. Tidak tahu apa yang harus di lakukan. Apalagi saat mengingat sifat Laura dan Arno, sudah yakin keluarga Patrice akan melakukan sesuatu pada pada keluarganya, Queen dan dua cucunya.


"Biarkan mereka berdua bersama papa. Papa yakin Laura dan Arno akan melakukan hal-hal yang tidak di inginkan," jelasnya saat ini memangku Devan dan Davin.


Devan dan Davin sempat menolak. Tapi setelah mendengar penjelasan, bahwa tuan Ryan adalah kakeknya, Davin dan Devan pun diam dalam penggunaannya tanpa bertanya apa lagi saat ibunya juga mengangguk, membenarkan penjelasan itu.


Queen tidak melarang karena bagaimanapun Tuan Ryan tetap lah kakek mereka. Walaupun sebelumnya tuan Ryan mengatainya wanita rendahan dan miskin, Queen tidak bisa lagi marah atau dendam. Apalagi saat mengingat Davin dan Devan pernah bertanya siapa keluarganya, seperti ayahnya, kakeknya dan neneknya. Hal itulah yang membuat Queen tidak tega menutupinya lagi. Berharap hal yang di lakukannya membuat kedua putranya senang dan bahagia.


Queen yang mendengar Davin dan Devan di minta untuk bersama dengan tuan Ryan, Queen keberatan. Ia tidak bisa jauh dari putranya, karena hanya putranya lah menyemangat hiduonya di dunia barunya.


"Tidak bisa,"


"Kenapa? Apa kau ingin mereka terluka karena sikap keras kepala mu?" tanya Ryan tidak ingin terjadi sesuatu dengan kedua cucunya.


"Aku bisa melindunginya," jawab Queen percaya bahwa dirinya bisa melindungi kedua anaknya


"Sampai kapan kau mampu? Mereka memiliki bawahan yang tidak sedikit. Jika kau lengah sedikit saja, maka kedua anak mu akan dalam bahaya,"


Gavin yang ada di antara mereka, meraih tangan Queen. Meminta Queen untuk menyetujui usulan papanya. Menjaga kedua putranya dalam perlindungan Keluarga Menzies. "Percayalah, papa akan melindungi mereka,"


Queen menatap tangan yang di genggam Gavin, dan beralih menatap pria yang menatapnya dengan teduh. Ia diam, memikirkan apakah benar mereka bisa melindungi kedua putranya. Tapi saat mengingat banyak nya musuh yang menginginkan nyawanya, akhirnya Queen mengizinkan tuan Ryan untuk menjaga Davin dan Devan.


.


.


.


Bersambung