
Wajah Tuan Ryan pucat pasi saat melihat senjata api itu mengarah tepat di depannya.
"Ar, jangan lakukan," pinta Tuan Ryan pada sahabatnya itu.
Arno seakan tuli dengan permintaan Ryan, ia tetap mengarahkan senjata itu kearah mereka berdua. Gavin yang ada di sana tentu saja tidak tinggal diam, dia dengan cepat menepis tangan yang memegang senjata tersebut, membuat senjata itu jatuh ke lantai.
Arno yang melihat langsung menatap tajam Gavin. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan nada dingin.
"Paman, jangan harap aku akan diam saja melihat mu menyakiti mereka berdua," ucap Gavin menatap tidak senang pria di depannya itu. Queen yang melihat diam, tidak tersentuh sama sekali dengan ucapan itu.
Arno sangat marah, ia melihat Gavin seakan membela Queen dan itu membuat amarahnya memuncak. "Berani sekali kau Gavin! Apa kau ingin melindungi wanita itu?"
Gavin melihat ke arah Queen, tatapannya penuh dengan perasaan. Entah kenapa menatap wajah cantik itu, membuatnya begitu tenang dan senang. Namun dengan cepat ia beralih menatap ke arah Arno. "Aku tidak perlu menjawab pertanyaan anda tuan Arno. Lebih baik sekarang bawa Laura pergi dari sini, dan obati lukanya," usir-nya sudah muak melihat wajah pria yang selalu ingin menjadikan dirinya budak patuhnya.
Arno semakin meradang amarahnya. Ia tidak menyangka Gavin akan berani berkata seperti itu padanya. "Gavin, kau akan menyesal setelah ini," Gavin diam, tidak peduli dengan ancaman itu, walaupun ia tahu setelah ini akan ada banyak masalah yang menghampirinya.
Arno pergi dengan perasaan marah, dia akan membuat Gavin menyesal karena berani mengusir nya dan putrinya. Dari sikap yang di tunjukkan Gavin tadi, sudah jelas Gavin ingin melindungi Queen.
Setelah kepergian Arno dan Laura, Gavin menatap Queen dan Papanya. Ia tidak tega melihat papanya di sandera oleh Queen dengan pisau yang masih berada di depan leher. Ia tahu papanya saat ini ketakutan, takut akan mati di tangan ibu dari cucunya.
"Queen, bisakah kau melepaskan papa? Kita bicara baik-baik, dan buang senjata di tangan mu itu," pinta Gavin dengan lembut. Ia tidak ingin orang yang berarti dalam hidupnya terluka, karena hanya papa dan mamanya lah yang saat ini ia punya.
Queen tidak menjawab, membuat Gavin bingung membujuknya. Tuan Ryan yang saat ini ada di cengkraman Queen, membuka suara. "Wanita kejam, lepaskan aku!" pintanya meronta, namun tetap kalah, karena Queen mencekalnya dengan kuat.
"Jika anda terus bergerak, aku tidak yakin pisau ini tidak akan menggores leher mu," mendengar itu Tuan Ryan, menelan ludah. Langsung diam, tidak berani bergerak.
Cukup lama Gavin memohon dam membujuk, Queen pun akhirnya melepaskannya Tuan Ryan. Tuan Ryan yang kini berhasil lepas dari tangan Queen bersedekap dada, kesal dengan Queen yang menurutnya kasar. "Kau ini wanita apa bukan? Kenapa kuat sekali. Lihat ini, tangan ku sampai merah karena cengkraman mu itu," gerutunya kesal, tidak suka.
Queen tidak peduli dengan gerutuan itu. Ia malah menjawab dengan ancaman sebelum pergi. "Pak tua, ingat apa ku katakan ini. Jika kau berani mengambil milik ku, bukan hanya itu yang akan ku lakukan. Aku bisa melakukan lebih dari ini. Membunuh mu dan mengeluarkan semua isi perut mu,"
Gavin dan Tuan Ryan yang mendengar melotot tak percaya dengan apa yang di katakan Queen, sungguh ancaman yang mengerikan. Setelah berkata seperti itu, Queen pergi meninggalkan Gavin dan Tuan Ryan di ruangan itu.
Tuan Ryan menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kursi, mengingat apa yang terjadi barusan. Sungguh kejadian yang mengejutkan. Ia tidak menyangka ibu daei cucunya begitu kejam dan tidak berperasaan.
"Gavin, apa setelah kau melihat ini kau masih menginginkan wanita gila itu?" tanya Tuan Ryan tidak ingin Gavin masih mengungkap Queen.
"Aku tetap menginginkan nya. Dan jangan harap papa bisa menghentikan ku. Dan satu lagi, jangan coba-coba mengambil Devan dan Davin darinya. Jika papa melakukan hal itu, aku tidak akan tinggal diam," Gavin pergi setelah berkata seperti itu. Sedangkan Tuan Ryan sungguh kesal karena anaknya tidak bisa di atur.
"Dasar anak bodoh. Papa melakukan ini semua demi untuk keluarga kita. Papa tidak ingin semua orang merendahkan keluarga Menzies. Apa yang akan di katakan mereka jika tahu menantu keluarga Menzies seorang wanita miskin dan kasar seperti itu. Benar-benar bodoh," kesalnya dan menghubungi seseorang untuk menjemputnya.
.
.
Di lain tempat, Leon dan Jhon kini ada di rumah sakit ternama untuk memberikan sampel rambut Queen dan Jaeden kepada dokter agar tahu apakah mereka benar-benar anak dan ayah atau bukan.
Namun semua gerakan yang di lakukan mereka di pantai oleh bawahan orang misterius. Orang misterius itu kini menghubungi tuanya, mengatakan apa yang di lihatnya. Tuan misterius tersebut meminta bawahannya untuk memanipulasi keberadaan agar mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Baik tuan," jawabnya dan akan melaksanakan tugas nya.
Dengan menyamar sebagai pihak kebersihan, pria tersebut dengan hati-hati menemui dokter tersebut. Ia masuk kedalam ruangan tersebut, setelah kepergian Leon dan Jhon.
Dokter itu yang mendengar pintu di buka langsung menoleh. Namun betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada di depannya, seorang pria yang membawa sebuah senjata di tangannya.
"Siapa kau?" tanyanya waspada.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku," ucapnya mendekati dokter tersebut. "Aku akan membuat pilihan untuk mu. Jika kau menuruti perintah ku, maka aku akan mengampuni nyawa mu. Tapi jika tidak, bersiaplah hari ini kau akan mati. Dan tak hanya kau saja yang mati, keluarga mu pun juga akan mati," sambungnya menunjukan Vidio keluarga dokter itu yang kini di sandera oleh rekannya.
Dokter itu yang melihat terkejut, bagaimana bisa pria itu mengetahui keluarganya. Dia menatap pria tersebut, siapa pria di depannya ini.
'Apa yang anda mau?" tanya dokter itu.
"Dua orang yang datang sebelumnya meminta mu untuk apa?" tanyanya ingin tahu apa yang di lakukan Jhon dan Leon menemui dokter itu.
Dokter itu diam, tidak menjawab pertanyaan pria itu. Pria itu yang tidak mendapatkan jawaban tersenyum menyeringai.
"Lakukan," perintah pria itu pada rekannya yang saat ini menyandera keluarga dokter.
Dokter itu terkejut, apalagi saat mendengar suara jeritan istri dan anaknya dari panggilan Vidio.
"Berhenti! Jangan lakukan," teriaknya panik saat mendengar ketakutan istri dan anaknya.
Pria itu meminta rekannya untuk berhenti. Ia meminta Dokter itu menjawab pertanyaan nya. "Katakan, apa yang mereka lakukan,"
Dokter itu lemas. Ia pun mengatakan apa yang di inginkan Jhon dan Leon. "Mereka ingin melakukan Tes DNA,"
"Tes DNA..." Pria itu mengangguk dan berkata. "Palsukan hasilnya,"
"Tidak bisa. Itu melanggar peraturan rumah sakit," tolak pria itu malah mendapatkan todongan pistol.
"Jika kau menolak, maka peluru ini akan menembus kepala mu," ancamnya tidak main-main.
Pria itu akhirnya menyetujui permintaan pria asing tersebut. Tidak ingin nyawanya dan nyawa anak istrinya melayang, pria itu akhirnya melakukan apa yang di perintah pria asing itu, membuat hasil laporan palsu tentang Tes DNA yang akan di lakukannya.
.
.
.
Bersambung
S