
Setelah Lucifer berhasil membunuh Hazel, ia mencari keberadaan nonanya, dan ternyata saat menemukannya, Queen sedang mengalahkan Leonard, dan kini Queen sedang menginjak kepala pria yang berani itu.
"Benar-benar sangat berani," Gumamnya melihat nonanya yang telah mengalahkan Leonard.
Queen yang berhasil membuat Leonard kalah di tangannya tersenyum menyeringai, sangat menyeramkan. "Bukankah kau tadi begitu berani mengatakan jika akan membunuh ku? Tapi lihat, kau sendiri lah yang akan mati di tangan ku," ucap Queen dan Leonard diam saja, karena tenaganya sudah habis, lemah dan tak berdaya.
Leonard mengalami luka yang serius akibat pertarungannya dengan Queen. Tubuhnya mendapatkan mendapatkan beberapa tebasan pedang tajam milik Queen. Yah, walaupun dirinya juga berhasil melukai tubuh Queen, tapi tidak separah dirinya yang terluka sangat parah.
Ingin dia membalas ucapan dan mengumpat Queen, bibir nya benar-benar tidak mampu, dan akhrinya hanya bisa diam menerima apa yang akan di lakukan wanita yang mengalahkannya.
Lucifer kini sudah ada di samping Queen, dan melihat jelas apa yang terjadi dengan Leonard, benar-benar sangat mengerikan. Punggungnya terdapatnya banyak tebasan pedang, hingga darah membasahi pakaian tersebut. Dan tak hanya di bagian punggung, kaki lengan dan kepala pun terdapat tebasan pedang, hingga hampir sekujur tubuh Leonard terluka cukup parah, dan mungkin saja Leonard tidak akan bertahan lama karena kehabisan darah.
"Nona, wanita itu pergi dan tuan Gavin serta yang lainnya sekarang sedang mengejar wanita itu," jelas Lucifer, membuat Queen diam.
Setelah diam sejenak, Queen melempar pedang yang di pegang nya ke arah Lucifer. "Kau urus pria breng sek itu. Aku akan menyusulnya,"
"Baik nona," jawab Lucifer menerima perintah. Queen mengambil senjata api dan menyelipkannya di tubuh, mengisi pelurunya dan siap menyusul Laura yang membawa putranya.
Queen masuk kedalam sebuah mobil, entah milik siapa, ia tidak peduli. Menginjak pedal gas dan pergi dari tempat itu dengan kecepatan tinggi. Queen mengambil ponselnya dan menghubungi Gavin yang saat ini sedang mengejar Laura.
Balapan mobil saling menyusul, mengejar mobil Laura membuat jalanan kacau karena aksi mereka yang brutal. Tidak peduli lampu merah, mereka tetap menerobos.
Drrt....
Drrt....
Drrt....
"Dimana kamu?" tanya Queen yang mengendari mobil dengan kecepatan tinggi.
"Aku akan mengirimkan lokasinya pada mu," jawab Gavin dan mengirim lokasi keberadaan saat ini.
Queen mengangguk dan menyusul dimana Gavin saat ini.
Laura yang kesal karena sedari tadi di ikuti, memiliki rencana. Dia pergi ke suatu tempat yang seumur hidup belum pernah ia datangi. Tapi sebelum datang ke tempat itu, ia telah menghubungi seseorang disana. Dan mereka menyetujui, akan membantu Laura tentang orang yang mengejarnya.
"Aku putri dari Arno Patrice, ingin meminta bantuan kepada kalian untuk melindungi ku dari beberapa orang yang ingin membunuh ku," jelas Laura ada orang tersebut.
"Arno Patrice?" gumam orang yang di hubungi itu, mengingat nama Arno yang di sebutkan Laura.
Laura diam, menunggu jawaban orang tersebut, berharap orang tersebut mau membantunya seperti yang di katakan papanya sebelumnya.
"Jika diri mu tidak bisa melawan atau menghindari mereka, pergilah dan minta bantuan om mu yang ada di tempat xx," jelas Arno sebelum berhadapan dengan Queen.
Menunggu jawaban cukup lama dari omnya itu, Laura merasa lega saat omnya itu mengatakan, memintanya untuk datang ke tempatnya.
"Jadi kau anak dari Arno?"
"Benar, om," jawab Laura dan omnya yang bernama Beno itu mengangguk. Sepertinya Laura telah tahu jika dirinya adalah Om nya.
"Datanglah kemari, om akan membantu mu," Jawab Beno dan Laura pun akan datang. Tapi sebelum itu, Laura meminta Beno untuk membantunya menyingkirkan orang yang mengikutinya dan Beno menyetujui permintaan Laura.
Beno tidak bodoh, ia melakukan itu memiliki maksud lain terhadap Laura. Tidak ingin melakukan itu dengan cuma-cuma. Beno tahu Laura wanita yang cukup cantik, maka dari itu ia tidak akan menyia-nyiakannya, dan akan meminta imbalan yang seperti di inginkan nya.
Beno pun meminta beberapa anteknya untuk menghentikan Gavin, Chloe dan Lucas, agar Laura bisa datang ke tempatnya tanpa ada gangguan.
Dan sesuai dengan rencana nya, Beno berhasil mengulur waktu mereka dan membuat Laura berhasil sampai di tempatnya.
Laura yang berhasil lolos dari pengejaran mereka kini telah sampai di tempat Beno, sebuah bangunan yang sangat megah dan terpencil.
Beno berdiri menyambut kedatangan Laura yabg ternyata tidak sendirian. Keningnya berkerut saat melihat dua anak kecil dengan wajah pucat bersama dengan Laura.
"Siapa mereka?" tanya Beno membuat Laura menatapnya penuh tanya. Siapa pria di depannya ini? Mungkinkah ini om nya?
Laura tidak menyangka jika om nya ternyata masihlah muda. Laura pikir Beno memiliki usia yang tak jauh dari papa nya, tapi ternyata tidak. Beno adalah pria yang memiliki umur sekitar 35 tahunan. Dan itu berhasil membuatnya terkejut.
"Apa anda Om Beno?" tanya Laura memastikan
"Tentu saja," jawab Beno mendekati Laura.
Beno melirik dua anak kecil yang di bawa Laura, dan Laura yang tahu arti tatapan itu menjelaskan, bahwa dua anak kecil itu adalah sanderanya pada musuhnya.
Beno menatap dua anak itu dengan sungguh-sungguh. Keningnya berkerut saat wajah itu nampak tidak asing baginya. Ia akan memastikan pemikirannya benar atau tidak. Dan itu setelah ia berurusan dengan Laura.
.
.
.
Bersambung
Maaf gaes, kemaren tidak update. Author kemaren sibuk masak, ngurus orang manen padi. Malamnya lelah dan hujan deras di barengi petir dan geledek besar, membuat Author takut. Ada yang sama g tadi malam, hujan di sertai petir dan gledek. Is ngeri bener.