My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 96, Siuman



Hah....Hah....Hah....


Nafas Beno, memburu melihat tubuh Lucas di makan oleh Moza. Keringat menetes di tubuh dan keningnya dengan deras. Ia tidak ingin mati mengenaskan di tempat itu, berdiri dan mencoba menyelamatkan diri. Namun karena dirinya ada di dalam kendang besi besar dengan pintu di kunci membuatnya tidak bisa kabur dari harimau putih tersebut.


Goar.....


Aum Moza senang karena mendapatkan makanan. Moza masih asyik mengoyak daging Lucas dengan rakus, dan darah bercecer di lantai.


Tian, King dan lainnya yang menonton merasa senang dan terhibur. Menurutnya itu adalah hiburan yang sangat menyenangkan. Tian melempar besi kayu ke arah Beno, berharap Beno melawan Moza dan berkelahi agar semakin menarik.


Beno yang melihat sebuah kayu dengan cepat mengambilnya, namun suara jatuhnya kayu membuat perhatian Moza beralih ke arah Beno dan membuatnya menatapnya ingin memangsa Beno.


Beno bersiap dengan sikap siaganya, memegang kayu dengan erat, berjalan menyamping mengitari Moza yang mulai melangkah ke arahnya.


Nafas nya memburu dan detak jantung nya begitu cepat, dan saat melihat Moza berlari ke arahnya dan ingin menerkamnya, Beno mengayunkan kayu tersebut ke kepala Moza membuat Moza terpukul.


Bugh....


Moza yang melihat perlawanan Beno tentu saja marah, ia mengaum dengan keras dan matanya menatap tajam Beno, seolah tidak akan membiarkan Beno lepas darinya.


Goaar.....


"Jangan mendekat! Jika kau mendekat aku akan membunuh mu harimau sialan," ancam Beno seolah Moza akan tahu maksudnya dan mau mendengarkannya.


Moza yang sebenarnya Harimau yang ganas dan tidak mudah di jinakkan sangat marah. Dia kembali melompat dan menyerang Beno dengan cakarnya.


Beno mencoba memukul kembali, tapi Moza tidak membiarkan nya, ia menangkis kayu itu dengan tangannya membuat kayu itu terlempar sedikit jauh.


"Tidak..!!" Teriak Beno tidak memiliki senjata lagi untuk melawan Moza.


Beno merangkak mencoba mengambil, tapi sialnya Moza tidak membiarkannya. Moza mengayunkan kakinya, mencakar punggung Beno dengan kuat.


Sraaak.....


Argh....!


Teriak Beno merasakan sakit di punggungnya karena kulitnya terkoyak cukup dalam.


Beno sekuat tenaga bertahan dan menghindari serangan harimau. Tapi karena Beno berada di kandang milik Moza dan Moza menjadi penguasa wilayahnya, Beno pun beberapa kali mendapatkan sayatan cakaran dari kuku tajam Moza, membuatnya mendapatkan luka yang sangat parah dan kini berada dalam kukungan Moza dengan di tindih okeh dua kaki Moza yang besar.


Goaaar....


Senang Moza karena berhasil mengalahkan mangsanya...


"Selamatkan aku. Jangan bunuh aku," serunya mencoba meminta pertolongan, tapi tidak ada satu pun yang menolongnya, karena mereka tahu, jika menolong yang ada mereka akan di terkam oleh Moza.


Srak...


Srak...


Srak...


"Aku menyesal," itulah kata terakhir Beno dalam hati.


Tian yang melihat Beno dan Lucas telah mati tersenyum senang. Ia beranjak dari tempatnya dan di ikuti oleh King yang terhibur dengan pertunjukan yang di berikan Tuan.


"Ternyata kau memang sangat kejam, Raja Tian,"


"Jika menurut mu seperti itu, maka jangan mencoba mengambil milik ku," Jawabnya enteng.


"Mereka juga cucu ku, jadi jangan larang aku juga menginginkannya."


"Kapan kau memiliki mereka? Quesha cucu ku, dia bukan cucu mu. Jadi jangan mencoba merebut apa yang menjadi milik ku," jawabnya ngotot menginginkan dua cucunya bersama nya.


Mereka terus berdebat memperebutkan Davin dan Devan karena ingin menjadi penerus mereka masing-masing Dan Samuel yang berada tepat di belakang mereka hanya bisa menghela nafas dengan berat melihat kelakuan dua pria tua yang seperti anak kecil, berebut tentang permen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian, baik Queen maupun Tristan telah sadar. Semua yang melihat kedua nya telah siuman menjadi senang, bersyukur akan hal itu. Gavin, Davin dan Devan sangat senang mereka tak henti-hentinya mengelus dan mencium Queen karena senangnya orang yang di sayang telah siuman.


"Siapa yang mengizinkan mu mencium ku?" ucap Queen dengan lirih namun dengan nada dingin.


Gavin yang mendengar menelan ludah saat mendengar dan melihat tatapan tajam itu. Ia tidak sadar akan perbuatannya karena saking senangnya.


"Hmm...Maaf, aku tidak bisa menahan karena senang melihat mu telah siuman," jawab Gavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Semua yang ada di tempat itu tertawa melihat wajah salah tingkah Gavin.


Tian yang ada disana juga membuka suara, membuat Queen yang masih di ranjang menoleh menatap pria tua yang tidak di kenalnya.


"Setelah sembuh lebih baik kalian berdua segera menikah, karena aku tidak ingin melihat kedua cicit ku tidak memiliki keluarga lengkap,"


Semuanya mengangguk, menyetujui ucapan Tian. Tapi tidak dengan Queen, karena menurutnya itu bukanlah keinginannya.


"Siapa anda meminta ku untuk menikah?"


Tian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Queen, mengelus kepalanya dengan lembut. "Aku adalah kakek mu, ayah dari ibu mu," jawab Tian menunjuk Chloe yang tersenyum.


Queen telah tahu jika Chloe adalah ibunya, tapi tidak dengan Tian. Queen menatap pria tua di depannya yang memiliki wibawa besar. Benarkah pria tua di depannya adalah kakeknya?


.


.


.


Bersambung