
Queen mengendarai mobilnya menuju tempat Arno berada. Saat dirinya melewati sebuah Club' malam, tak sengaja matanya seperti melihat Laura yang mabuk dan hendak masuk ke mobil. Queen dengan cepat menghentikan mobilnya, memastikan itu benar-benar Laura, tunangan Gavin.
"Benar-benar keberuntungan," senyumnya menyeringai. Dan setelah itu melajukan mobilnya mengikuti mobil Laura yang sedikit oleng karena pemiliknya sedang mabuk.
Queen terus mengikuti mobil tersebut, saat sampai di sebuah persimpangan, Queen menginjak pedal gasnya lebih cepat dan menyalip mobil Laura hingga berada di depannya, dan menghentikannya secara tiba-tiba, membuat Laura kaget dan membanting setir hingga menabrak pembatas jalan.
Brak....
Kepala Laura terbentur setir, mengakibatkan cidera di kepala dan pingsan.
Queen turun dari mobil, melihat sekeliling, tampak sepi. Dengan cepat Queen membuka pintu itu dan membawa Laura ke tempat yang sepi, tempat dimana tidak di ketahui oleh siapapun, dan hanya anak buah king yang mengikuti yang mengetahui.
Tanpa di perintah oleh Queen, anak Buha King langsung bekerja, menghancurkan bukti CCTV yang ada di sekitar tersebut. Meretasnya agar tidak meninggalkan jejak tentang apa yang lakukan nona mudanya.
Queen kini telah membawa Laura ke suatu tempat, sebuah bangunan yang terbengkalai, tepatnya di bangunan yang tak jauh dari tempat tinggal Arno. Laura saat ini tahan oleh Queen, tangannya di bentang dengan rantai, begitupun dengan kakinya. Seperti hal nya saat dirinya menyiksa penghianat dan musuh saat pada jamannya.
Setelah selesai mengikat, Queen duduk di kursi kayu, menyilangkan kakinya sambil menatap Laura yang menurut nya menjijikkan.
"Tidak dapat ayahnya, anak nya pun jadi," gumamnya tidak sabar memberi siksaan kepada gadis itu karena berani bersekongkol dengan ayahnya untuk menyakiti putranya.
Queen mengelus pisau kecilnya, membolak-balik kan pisau itu, melihat apakah tajam atau tidak. Karena belum di buktikan ketajaman nya, Queen beranjak dan berjalan mendekati Laura yang masih pingsan.
Beberapa bawahan King yang mengikuti dan saat ini mengintip, bertanya-tanya, apa yang akan di lakukan nona mudanya. Dan tiba-tiba mereka di kejutkan dengan aksi yang di lakukan nonanya. Queen menancapkan pisau kecilnya di bahu dengan kuat, membuat pisau itu menancap cukup dalam dan membuat Laura langsung sadar dan menjerit dengan keras.
Argh......!
Teriaknya saat merasakan sakit luar bisa di bagian bahu.
Rasa pusing di kepala membuatnya harus menahan, Laura menggelengkan kepala, mengusir pusing. Ingin melihat apa yang terjadi.
Kepala nya menoleh, melihat ke arah bahu, ingin tahu apa yang menjadi rasa sakitnya. Dan saat melihat sebuah tangan menancapkan pisau kecil di bahu, ia menoleh dengan cepat, melihat siapa yang berani melakukan hal ini padanya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang ada di depannya, Queen wanita yang sangat di bencinya.
"Queen," gumamnya tidak percaya jika dirinya bertemu dengan Queen, wanita yang ingin di bunuh-nya.
Queen menyeringai, tatapannya sungguh menakutkan. "Kau terkejut bahwa ini aku?" ucapnya mengangkat dagu Laura dengan pisaunya.
Laura yang melihat pisau itu menyentuh dagunya, panik, takut pisau itu menancap di lehernya.
"Kenapa? Apa kau takut?" Laura diam, ingin mengatakan takut. Tapi saat di depannya adalah Queen wanita di bencinya, ia tidak mengatakan apapun. Takut di tertawakan oleh Queen. "Em, seperti nya kau tidak takut dengan pisau ini. Di lihat dari mulut mu yang tidak menjawab pertanyaan ku. Bagaimana jika aku menusukkan ujung pisau ini di tenggorokan mu? Aku ingin mengetes apakah pisau ini tajam atau tidak," sambungnya membuat Laura melotot tidak percaya.
"Jangan, jangan lakukan," paniknya tidak ingin mati. "Ya, aku, aku sangat takut. Sekarang singkirkan pisau mu itu dan lepaskan aku," ucapnya dengan begitu mudah, seolah Queen akan menuruti perintahnya.
Queen berbalik. "Melepaskan ya, em...?" ucapnya berpikir, sambil menepuk-nepuk kan pisau itu di telapak tangannya.
"Jika kau melepaskan ku, aku tidak akan menganggu mu lagi,"
"Benarkah?" tatap Queen sangat dekat, tepat di depan wajah Laura.
"Y...Ya, aku tidak akan menganggu mu dan Gavin. Asalkan kau melepaskan ku saat ini," ucap Laura berpikir Queen akan percaya dengan ucapannya.
"Baiklah, aku akan melepaskan mu," jawabnya membuat Laura senang. Tapi yang di katakan Queen tidak berhenti sampai di situ. Dan itu membuat Laura menjadi panik. "Setelah aku membunuh mu. Akan ku lepas diri mu. Hahaha......." tawa Queen membuat Laura panik. Ia meronta mencoba lepas dari ikatan rantai tersebut.
"Lepaskan ku," pintanya memberontak.
"Tidak akan," jawab Queen menyentuh wajah Laura dengan pisaunya.
"Jangan menyentuh ku, wanita ja-lang! Jika kau berani aku tidak akan memaafkan mu."
"Oh benarkah? Tapi jika tangan ku terlanjut mencincang mu bagaimana? Bagaimana cara mu untuk tidak memaafkan ku?"
"Arwah ku akan menghantui mu, dan selamanya akan membuat mu menyesal," Queen yang mendengar tertawa keras. Menghantuinya? Heh, sungguh pemikiran yang konyol. Laura pikir Queen akan percaya dengan hal-hal tersebut, tidak akan. Baginya hantu itu hanyalah omong kosong belaka.
"Kau pikir aku takut dengan ucapan mu? Aku adalah Queen, tidak ada yang aku takuti di dunia ini. Bahkan mengambil nyawa ribuan orang dengan tangan ku, aku sama sekali tidak takut. Apalagi ingin mengambil nyawa mu, itu adalah hal yang mudah."
Srak.....
Argh.....
Teriak Laura saat merasakan goresan pisau di pipinya. Rasa perih terasa, dan darah menetes di pipinya, membuatnya menatap tajam Queen, marah dengan apa yang di lakukan wanita itu.
bersambung