
Di negara N, seorang wanita sedang menyadarkan kepalanya di bahu Daddy nya. Ia masih teringat dengan putrinya yang hilang bertahun-tahun lamanya. Kejadian penculikan berakhir hilangnya putrinya membuat hidupnya seakan suram. Ia yang mengambil alih kelompok Mafia milik Daddynya kini ia abaikan, dan akhrinya di ambil alih lagi oleh anak laki-lakinya.
"Dad, kapan aku bisa bertemu dengan Quesha? Aku merindukannya. Aku berharap Quesha masih hidup," tanyanya dengan air mata yang mengalir di pipi.
Hari ini ia datang ke negara N karena ingin berkeluh kesah dengan Daddy yang di sayangi nya, karena jika dirinya berada di mansion keluarga Tesla, ia akan selalu teringat dan teringat dengan putri kecilnya. Suaminya yang sibuk dengan pekerjaan, membuatnya kesal karena tidak berusaha mencari keberadaan putrinya.
Sebenarnya Jaeden bukan tidak berusaha, hanya saja semuanya tidak ada jalan terangnya. Seolah ada pihak yang menyembunyikan keberadaan Quesha. Dan mungkin saja itu adalah musuh dari mafianya.
Tian yang mendengar diam, tidak berbicara. Takut apa yang di katakan malah akan memperburuk perasaan Chloe. "Serahkan semuanya pada Tristan. Daddy yakin Tristan akan menemukannya," jawab Tian berharap Cucunya bisa menemukan keberadaan kakaknya. Jika mati dimana makamnya, jika hidup dimana keberadaan nya.
Tristan Arzen Tesla adalah adik dari Quesha/Queen. Dia lahir setelah 3 tahun Quesha menghilang. Dan kini ia menjadi pria tampan dengan wajah dingin serta memiliki sifat kejam terhadap siapapun yang berani mengusik dirinya dan keluarga. Ia adalah pria berdarah dingin, tidak ada kata ampun bagi siapapun yang telah menyinggungnya.
Dan saat ini ia memang sedang menyelidiki dimana kakaknya berada. Setiap kali keluarga Dominic, Tesla, Alexander hendak menemukan keberadaan Quesha, tiba-tiba semua seolah di hentikan. Ada pihak yang mencoba menutup akses keberadaan Quesha. Entah siapa, mereka belum menemukannya, karena pihak itu benar-benar sangat-sangat misterius dan tersembunyi.
.
.
Di tempat Queen berada, hari-hari Sevana selalu saja menempel padanya. Hampir setiap hari, Sevana datang dan ikut sarapan bersama dengan Queen dan dua bocah kembar itu. Dan akhirnya mereka pun menjadi akrab. Bahkan Sevana sering kali adu cekcok dengan Davin yang bermuka dingin, tapi tidak dengan Devan yang murah senyum.
Saat ini Sevana hendak menuju rumah Queen. Namun saat dirinya hampir sampai, ia merasa ada yang mengawasinya. Ia mencari di sekeliling tempat itu, tidak ada siapapun di sana.
"Siapa mereka? Kenapa seperti mengawasi tempat ini?" gumamnya tidak peduli. Jika pun mereka berulah, ia akan menanganinya.
Seorang yang bersembunyi dibalik pohon besar menghubungi seseorang. Mengatakan jika setiap hari ada seorang wanita yang datang ke rumah Queen. Tidak tahu niatnya, hanya saja wanita itu tidak menyakiti mereka bertiga.
"Terus awasi, jangan sampai kamu kecolongan dan membuat mereka terluka." jawab Gavin yang memberi perintah orang tersebut untuk memantau keadaan Queen.
"Baik, tuan," jawab orang tersebut.
Gavin sebelumnya telah menghubungi ayahnya, mengatakan sesuatu yang menjadi rahasianya setelah tahu kenyataan bahwa dua anak kembar itu benar-benar putranya dari seorang wanita 6 tahu yang lalu.
Ayah Gavin yang mendengar Gavin memiliki seorang anak dari wanita yang tidak sengaja di nodainya, langsung memberi perintah untuk menjaga mereka. Mereka akan datang ke negara C untuk melihat mereka bertiga, apakah wanita itu pantas untuk Gavin atau tidak. Dan Gavin pun kini sedang menunggu kedatangan ayahnya malam ini, berharap setelah melihat Queen ayahnya menyetujui dan memperbolehkannya untuk menikahi Queen.
.
.
Di tempat lain, Jhon diam, melihat data Queen yang di dapatkan nya dari anak buahnya. Dari informasi yang di peroleh, Queen adalah putri satu-satunya pasangan suami istri, Sena dan Roy. Ingin mencari tahu lebih lanjut informasi tentang keluarga itu, anak buah Jhon tidak dapat menemukannya. Hanya mendapatkan akhir bahwa Queen adalah anak mereka berdua. Bahkan kelahiran, serta kehidupan Queen sebelumnya dan kematian Sena dan Roy tidak dapat di ketahui. Dan hal itu sungguh membuat Jhon bingung.
"Sangat aneh," gumamnya menghela nafas.
.
.
.
Orang kepercayaan Arno kini datang ke negara C berserta bawahannya, menggunakan pesawat pribadi untuk membunuh Queen. Mereka di perintah untuk segera menyingkirkan Queen dan dua anaknya, tidak ingin mereka menjadi ancaman untuk putrinya, Laura. Dan kini mereka menuju markas Mafia ZAPATA untuk beristirahat terlebih dahulu.
.
.
Malam hari di kediaman Queen. Queen sedang menatap senjata yang di kirim Panji dua Minggu lalu. Ia menyimpannya dengan aman, takut kedua putranya melihat dan memainkannya.
Queen menghela nafas. Hidupnya di dunia baru ternyata tidak ada perubahan sama sekali, selalu saja di hampiri dengan masalah besar. Setelah cukup lama merenung, Queen akhirnya merebahkan tubuhnya hendak istirahat, berharap esok hari tubuhnya fit kembali.
Namun baru saja matanya terpejam, ia mendengar suara dari luar rumah. Telinganya yang tajam mampu mendengar suara langkah beberapa orang mendekati rumahnya. Hidup nya yang sebelumnya selalu menghadapi musuh yang mengintainya, membuat telinganya sensitif akan suatu pergerakan di malam hari. Queen dengan cepat mengambil senjata nya, dan keluar dari kamar, berdiri di balik pintu untuk menyergap mereka.
"Siapa mereka, dan mau apa?" batin Queen yang benar-benar bingung dengan banyaknya orang yang hendak membunuhnya.
Queen siaga saat mendengar langkah itu semakin mendekati pintu.
Cklek....
Cklek....
Mereka berusaha membuka pintu. Queen yang melihat memegang pistolnya dengan erat, siap untuk menembakkan peluru itu di kepala orang tersebut.
Perlahan pintu itu di buka, dan saat pintu baru saja terbuka, Queen menembakkan senjatanya ke arah pria tersebut tepat di kepala, membuat pria yang membuka pintu langsung mati bersimbah darah.
Rekan pria yang mati tentu saja terkejut mereka langsung melesatkan senjata nya ke arah Queen. Namun sebelum mereka menarik pelatuk, Queen dengan gerakan cepat menendang tubuh itu membuat mereka terjatuh. Dan Queen pun berlari keluar rumah agar membuat mereka mengikutinya.
"Kejar wanita sialan itu! Bunuh dia. Jangan biarkan dia lolos," marahnya saat di permainkan Queen.
Sekelompok pria bersenjata itu kini mengejar Queen yang menjauh dari rumahnya. Suara tembakan terdengar di keheningan malam. Namun tidak ada seorang pun yang berani untuk melihat apa yang terjadi. Dan itu sangat menguntungkan Queen agar tidak ada yang mengetahui jika pelaku yang membunuh mereka adalah dirinya.
Saat sudah sedikit jauh dari tempat tinggalnya. Queen berbalik dan balas menembak kan senjatanya.
Door.....
Door.....
Door.....
Suara tembakan saling bersautan. Queen menyelinap, bersembunyi dan menembak lagi, membuat mereka susah untuk menghindar karena tidak tahu arah tembakan itu berasal.
"Sial! Ternyata wanita ini bukan wanita sembarangan," gumamnya bersembunyi. Ia melihat semua rekannya telah mati. Ia tidak menyangka wanita yang di perintah bos nya ternyata sangat ahli dalam membunuh. "Aku harus menghubungi bos," Ia mengambil ponselnya dengan tergesa-gesa, menghubungi bosnya, orang kepercayaan Arno yang saat ini ada di markas ZAPATA.
Drrt....
Drrt....
Baru saja panggilan itu terhubung, seorang wanita muncul di belakang nya, "Mau menghubungi siapa tuan penakut?"
Sraak ...
Leher itu tergorok oleh pisau tajam Queen, membuat pria itu mati mengenaskan dengan darah mengalir deras dari lehernya.
Queen yang melihat menatap dingin. Ia mengambil ponsel tersebut, dan pergi, kembali ke rumahnya.
.
.
Bersambung