
Beno terus menusuk-nusuk bagian inti Laura yang membuatnya gila. Nikmat, tentu saja nikmat. Beno tidak bodoh sampai harus menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan gila dan penuh naf su, Beno tidak berhenti, bahkan semakin menikmati kala melihat Laura menikmati permainan nya.
Om....Argh....
Racau Laura terus memanggil nya.
"Nikmati Laura, om akan memuaskan mu sampai puas," ucap Beno, "Sebelum kau mati," sambungnya dalam hati.
Tubuh Laura bergoyang naik turun sesuai gerakan Beno yang pinggulnya maju mundur. Bahkan dadanya yang besar ikut bergoyang dan itu membuat Beno tidak tahan untuk menye sapnya.
"Om..." panggil Laura.
Em...Jawab Beno menikmati pucuk dada yang mengeras itu. Mengu lumnya dengan mulutnya hingga penuh. Tangannya masih saja tidak tinggal diam, menggerayangi apapun yang bisa dipegangnya, mere mas dengan kuat.
"Aku tidak tahan om, mau____"
"Baiklah, keluarkan bersama," jawab Beno dan memegang paha Laura, dan menggerakkan pinggulnya dengan cepat.
Argh.....Argh....Argh....
De sah Laura dengan sering karena gerakan yang kuat itu. Dan akhirnya mereka mengerang bersama dengan keras karena mencapai puncaknya .
Aaaaaargh.........
Beno menancapkannya dengan dalam, membuang semuanya di dalam rahim Laura. Ia tidak khawatir akan tumbuh disana karena Laura akan mati tidak lama lagi.
Beno tidak mencabutnya, ia kembali menggerakkan pinggulnya dan menusuk kembali inti Laura, membuat Laura kembali mende sah dengan hebat.
Para anak buah dan pelayan di rumah itu diam, kala mendengar suara keras dari lantai atas. Mereka saling pandang, malu sendiri dengan apa yang di dengarnya. Tuannya sungguh sangat perkasa, hingga suara itu terdengar sangat-sangat lama, mungkin saja sampai 3 jaman lebih merek mendengar suara ah itu dari mulut tuan dan wanitanya.
"Benar-benar perkasa. Jika tuan sedikit saja melihat ku, aku akan dengan senang hati menyerahkan tubuh ini untuk di nikmati oleh tuan," ucap pelayan wanita yang mengagumi tuannya.
"Kau pikir hanya kau saja, kita semua juga mau. Bahkan jika tuan meminta setiap saat, kita akan melakukannya, asalkan bisa bersama dengan tuan." jawab lainnya menimpali. Tapi semua itu hanya angan-angan saja, karena Beno tidak akan mungkin menyentuh wanita yang hanya seorang pelayan.
Pergulatan di atas ranjang akhirnya berakhir dengan Laura yang lemas karena di gempur habis-habisan oleh pria yang di anggap om nya itu. Laura tidak menyangka jika omnya memiliki tenaga bak kuda yang gila. Tapi semua itu tidak membuatnya menyesal, ia malah senang karena sudah lama ia tidak di puaskan oleh seorang pria karena sibuknya dengan masalahnya bersama Queen.
Laura sempat menyesal kenapa tadi dia sempat menolak. Ia tidak menyangka jika Beno sangat-sangat mengairahkan. Laura memiliki pemikiran, jika urusannya dengan Queen selesai, ia ingin menjadi wanitanya om nya dan memuaskan hasrat nya bersama dengan omnya.
...****************...
Laura yang sudah berpakaian rapi, kini meminta Beno mengantarkan untuk melihat Davin dan Devan. Ia ingin tahu keadaan dua anak menyebalkan itu.
"Om, dimana dua anak itu?"
"Aku ingin melihatnya,"
Bemo diam, takut Laura berbuat aneh pada anak itu dan berakhir dirinya ikut mati. "Tetap lah disini menemani ku, karena aku belum puas menikmati tubuh mu,"
Laura tidak peduli saat ini, ia ingin melihat Davin dan Devan. Entah kenapa perasaannya setelah ini akan ada sesuatu yang terjadi.
Laura berjalan keluar dari kamar dengan pakaian seksihnya. Beno tidak menahannya saat melihat Laura memakai pakaian mininya, ia tidak peduli karena menurutnya tubuh Laura hanya pemuas naf sunya saja.
...****************...
Di lain tempat Gavin bingung mencari keberadaan Laura karena kehilangan jejak. Sudah beberapa jam menyusuri dan mencari tetap tidak menemukannya dan akhrinya kini dia bertemu dengan Queen yang ingin pergi ke suatu tempat, tempat yang di dapatkan dari seseorang yang mengirimkan pesan padanya.
Queen tidak tahu nomor milik siapa itu. Tapi dia memintanya untuk dapat ke tempat itu jika ingin menyelamatkan kedua putranya.
"Datang ke alamat xx, maka kau akan menemukan anak mu," bunyi pesan yang di dapatkannya.
Queen melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat itu. Gavin yang melihat langsung mengikuti ke mana arah perginya Queen. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Queen.
"Sayang, apakah kamu menemukan keberadaan anak kita?"
"Ya, ada seseorang yang memberi tahu ku. Katanya mereka ada di alamat xx,"
Gavin diam, berpikir siapa orang yang memberi tahu itu. Mungkinkah orang yang ingin menjebak. "Sayang, apakah alamat itu benar? Bagiamana jika itu adalah musuh yang hendak menjebak mu?"
"Aku akan mengalahkan nya dan membunuhnya, jika orang itu berani mempermainkan aku," jawab Queen dan Gavin pun diam, tahu sifat Queen yang keras.
"Baiklah, aku sekarang ada di belakang mu. Aku akan menemani mu," Queen mengangguk dan membiarkan Gavin mengikutinya.
Di tempat Chloe dan Lucas berada. Keduanya kini terengah-engah, tidak ada yang kalah. Walaupun keduanya sudah banyak mendapatkan luka, tapi mereka masih bertahan demi pendirian mereka masing-masing, membunuh dan membunuh.
Dan akhirnya pertarungan pun kembali dan akhirnya di menangkan oleh Chloe yang menusuk bagian perut dan dada Lucas hingga tewas.
Chloe yang kelelahan ambruk, tidak memiliki tenaga. Usia yang sudah tua ternyata mempengaruhi tenaganya dan tidak seperti dulu lagi. Chloe mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, memintanya untuk menjemputnya.
.
.
.
Bersambung