
Tio akan memberitakan semuanya kepada Gavin. Tapi sebelum itu, ia akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA terlebih dahulu, memberikan rambut Davin dan Gavin yang sebelumnya telah ia simpan. Namun semua pergerakan selama ini yang ia lakukan di lihat oleh anak buah Laura, dan kini orang tersebut sedang melaporkan semua yang dia lihat.
"Nona, akhir-akhir ini saya melihat asisten Tuan Gavin sibuk, dia eakan mencari sesuatu. Mungkinkah asisten itu mecari informasi tentang wanita itu?"
Laura yang mendengar langsung marah. Berani sekali Tio melakukan hal itu.
"Sialan! Hentikan dia. Jangan biarkan dia menemukan fakta bahwa wanita jala-ng itu adalah wanita yang pernah tidur dengan Gavin," perintahnya dengan wajah memerah. "Dan buat asisten sialan itu menyesal karena berani ikut campur,"
"Baik nona," jawab orang yang mengabarkan hal tersebut.
Dan setelah mendapatkan perintah dari nona mudanya, mereka mengirim beberapa orang untuk melukai Tio, berharap Tio kapok dan tak akan ikut campur dalam urusannya. Namun apa yang di lakukan Laura semuanya terlambat, karena Tio sendiri sudah mengetahui fakta sebenarnya bahwa Queen adalah wanita 6 tahun lalu, dan kini Tio akan membuktikan juga bahwa Devan dan Davin adalah putra dari tuannya.
Tio kini telah sampai di rumah sakit, ia meminta seorang dokter untuk melakukan tes DNA. Ia memberikan rambut tersebut dan memintanya untuk secepatnya mengeluarkan hasilnya. Dan setelah selesai, kini ia akan kembali ke tempat tuannya berada. Namun saat di pertengahan jalan yang sepi, mobilnya di hentikan oleh sekelompok orang sangar yang berotot. Tio yang melihat berpikir, siapa mereka? Kenapa menghentikan perjalanannya.
"Turun kau!" perintah seorang dari mereka yang mengetuai.
Tio tidak langsung turun, ia mengirim pesan kepada tuannya, bahwa ada yang mencoba menyakitinya. Para pria bertubuh kekar yang melihat Tio tidak lekas turun menjadi geram. Mereka mengambil tongkat kayu dan memukulkannya ke jendela pintu hingga pecah,
Prang......
Kaca berserakan mengenai tubuh Tio yang ada di dalam.
"Keluar kau sialan! Jika kau tidak keluar aku akan menembak kepala mu,"
Tio yang seorang diri dan tidak memiliki senjata menurut, membuka pintu dan berhadapan dengan mereka.
"Siapa kalian?" tanyanya ingin tahu siapa mereka semua.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Kami hanya di perintah oleh nona untuk membuat mu menyesal karena ikut campur dalam urusan nya. Dan hari ini kami di perintah untuk langsung membunuh mu agar kelak kau tidak mengganggu urusannya,"
Tio yang tahu maksud ucapan tersebut mengarah pada nona Laura, tersenyum mengejek. "Kalian pikir aku takut dengan kalian? Walaupun aku mati, semuanya tetap akan di ketahui oleh tuan ku," jawabnya benar-benar membuat semuanya semakin marah.
"Badjingan! Tangkap pria sialan ini dan bunuh dia?"
Tio yang sendiri melawan mereka pun kewalahan. Mereka yang menggunakan senjata di tangan membuatnya tidak berkutik dan akhirnya mendapatkan luka yang di serius di tubuhnya. Dan setelah membuat Tio sekarat, mereka meninggalkan nya begitu saja, berpikir tak lama lagi Tio pasti akan mati di tempat itu.
"Biarkan dia mati mengenaskan disini. Sekarang kita pergi sebelum ada orang yang melihat,"
Tio yang terluka tergeletak di jalan dengan darah mengalir di bagian tubuh yang terluka. Banyak tusukan dan goresan pisau tajam di tubuhnya membuat darah membasahi pakaiannya.
"Tuan," gumamnya dan pingsan.
Sesampainya di rumah sakit, kini Tio langsung dibawa keruang operasi. Sedangkan Gavin menunggu di luar ruangan tersebut. Tak lama menunggu sebuah panggilan masuk di ponselnya. Di lihatnya mamanya menghubunginya. Dan belum sempat Gavin berbicara, suara panjang dan penuh kekesalan itu memekikkan telinga.
"Gavin...! Apa kau ingin membunuh mama dan papa mu disini sampai kau betah disana?" kesal nya karena putra nya tak kunjung pulang hingga saat ini. Padahal pamitnya hanya tiga hari saja, tapi kenyataannya sudah beberapa hari Gavin tidak kembali.
"Ma, ada sesuatu yang belum bisa ku tinggal. Jadi maafkan Gavin karena merepotkan mama dan papa untuk mengurus perusahaan."
"Alasan! Kau hanya ingin santai saja, membuat Mama dan papa mu sibuk. Kau tahu, jika kau tidak cepat kembali, Mama dan papa mu ini bisa mati karena memikirkan perusahan yang banyak pekerjaan itu." kesalnya karena tidak ingin memikirkan pekerjaan lagi. Di umurnya yang tidak muda lagi, mereka ingin rehat dan santai dengan ketenangan, bukan malah sibuk lagi.
Gavin hanya bisa menghela nafas dengan berat. Tapi ia benar-benar tidak bisa kembali sebelum semuanya jelas tentang wanita itu. Ia ingin memastikan dan mendapatkan kenyataan seperti yang di harapkan. Semoga bertahannya dirinya di Negara C ini mendapatkan hasil yang di inginkan nya.
"Mama tidak mau tahu, besok kau harus cepat kembali," perintah nya tidak ingin di bantah.
Gavin hendak menjawab perkataan ibunya. Namun saat dirinya menoleh, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sesuatu itu adalah dua anak kembar yang pernah di lihat sebelumnya dan kini anak itu bersama dengan seorang wanita yang tidak jelas wajahnya karena wanita itu memunggungi nya.
"Aku akan menghubungi mama lagi nanti," ucapnya dan mengakhiri panggilan, menyusul wanita tersebut tanpa memperdulikan mama nya yang mengumpat kesal karana Gavin memutus panggilan nya.
Gavin mengejar mereka. Tapi saat di luar rumah sakit, di lihatnya mereka telah menaiki sebuah taksi, dan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Gavin ingin mengejar, tapi saat mengingat Tio, ia menghentikan niatnya. Dan akhirnya kembali untuk menunggu Tio.
Sedangkan di dalam sebuah taksi, seorang anak kecil terus menatap kearah belakang. Ia tadi sempat melihat seorang pria berlari mengejar, dia adalah Davin yang melihat Gavin mengejar mereka dan berhenti saat tahu mereka telah masuk kedalam mobil.
"Siapa dia? Kenapa wajah nya hampir mirip dengan wajah kami? Mungkinkah pria itu Daddy kami?" batin Davin yang jalan pikirannya lebih cerdas dari Davin.
Davin terus menatap ke belakang, berharap pria itu masih mengejarnya. Queen yang kini ada di sampingnya bertanya pada putranya tersebut, karena melihat putranya seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu melihat apa? Kenapa menatap kebelakang terus?"
Davin langsung menatap Mommy nya, ingin bertanya tentang siapa Daddynya. Tapi dengan cepat ia urungkan, takut Mommynya akan sedih dengan pertanyaan nya. Sebenarnya ia dan Devan ingin sekali tahu siapa ayahnya dan seperti apa rupanya. Dan saat mengingat Queen pernah berkata jangan pernah bertanya tentang hal itu, Devan dan Davin pun tidak lagi bertanya, karena tidak mau mommynya marah hanya karena mereka menakan hal tersebut.
.
.
.
Jangan lupa Like, komen dan Votenya.
Dukung karya author agar author rajin dan semangat.
😘😘😘😘**