
Gavin pergi ke tempat orang tersebut. Namun saat sampai ia tidak menemukannya, di lihatnya ada tetesan darah di lantai, dan di yakini pasti orang tersebut melarikan diri.
Gavin mengikuti jejak tetesan darah tersebut, hingga berhenti di depan tembok berwarna putih. Gavin menatap sekeliling, berpikir ada jejak darah lainnya, namun semuanya tidak ada. Hanya tempat nya lah berdiri jejak darah itu hilang.
Gavin meraba dinding tersebut, berharap ada tombol untuk membukanya, karena ia yakin pasti ini adalah jalan rahasia di balik dinding tersebut.
Cklek..
Perlahan tembok itu terbuka, terlihat sebuah lorong yang di yakini sebuah jalan pintu rahasia. Tapi dirinya tidak mengetahui arah lorong itu berhenti dimana, karena dia sendirian akhirnya Gavin kembali. Entah kenapa firasatnya tak hanya orang itu saja melainkan ada banyak orang lain yang mungkin saja harus di hadapi jika dirinya mengejarnya. Dan mau tidak mau Gavin pun kembali, tidak jadi mengejar orang tersebut.
Queen yang melihat Gavin datang seorang diri mengerutkan kening, dimana orang yang di tembaknya tadi.
"Kenapa sendirian? Dimana orang itu?" tanya Queen
"Aku tidak menemukannya, dia kabur lewat sebuah jalan rahasia yang aku tidak tahu jalan itu berujung di mana." jelas Gavin dan Queen mengangguk mengerti.
Gavin mendekati Queen yang sedang menginjak tubuh Laura yang lemah. "Mau kamu apakan wanita ini?" tanya Gavin
"Bawa dia kedalam, aku akan membuat perhitungan padanya, dan membuatnya menyesal karena berani pada ku,"
Gavin pun membawa Laura ke dalam Mansion milik Beno, yang entah kenapa tempat itu sangat sepi, seolah tidak berpenghuni.
Gavin membawa ke tempat ruangan kosong dengan di ikuti Queen yang sedikit lemah karena terluka dan lelah dan Davin beserta Devan. Gavin meletakkan Laura di lantai, tergeletak tak berdaya. Matanya sayu, karena lemahnya tubuhnya yang mendapatkan banyak luka. Tatapannya hanya lurus menatap Queen yang berdiri tak jauh darinya dengan pandangan dingin.
Melihat Laura yang berdaya, Queen menghampiri dan berjongkok tepat di depannya, menarik dagu Laura dan berkata. "Apa kau takut?"
Laura yang mendengar hanya diam, tapi sebenarnya ingin sekali ia menjawab dan mengumpat wanita di depannya. Hanya saja ia malas berbicara karena merasakan tubuhnya yang lemah dan tak bertenaga.
Queen tersenyum kecil, ia teringat dengan kedua putranya yang ada di sana, menoleh melihat ke arah putranya. Senyum terbit di bibirnya, terlihat lembut. Queen pun beranjak mendekati putranya untuk memintanya pergi dari tempat itu, tidak ingin melihat dirinya yang akan menyiksa Laura secara langsung.
"Davin, Devan, bisakah kalian bermain di luar. Ada yang ingin Mommy lakukan dengan wanita itu," Ucap Queen dengan lembut, entah kenapa ada rasa takut di hatinya, takut tidak bisa melihat kedua putranya lagi.
Davin dan Devan diam, menatap wajah Mommynya yang pucat. "Mommy baik-baik saja?" tanya Davin yang berpikir pasti Mommy sedang tidak baik-baik saja, apalagi saat melihat tubuh Mommynya penuh darah.
"Mommy baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir," elusnya di kepala mereka berdua. "Sekarang kalian keluar dulu. Sebelum mommy memanggil kalian, kalian jangan datang kemari," sambung Queen memperingati.
Davin dan Devan mengangguk, tapi mereka enggan untuk meninggalkan dan hanya diam saja di tempat tanpa melangkah satu langkah pun dan itu membuat Queen menatap penuh tanya.
"Kenapa?" tanya Queen menatap mereka berdua.
"Kami khawatir dengan keadaan mommy, takut mommy terjadi sesuatu,"
"Sudah mommy katakan, mommy baik-baik saja. Sekarang pergilah," perintahnya lagi, takut keburu Laura mati dan dirinya akan sia-sia menyiksanya tanpa mendengar jeritan dari mulut Laura. Dan mau tidak mau mereka berdua pun pergi, meninggalkan Daddy dan Mommynya bersama wanita yang terkulai lemah itu.
Setelah melihat Davin dan Devan pergi, Queen meminta Gavin untuk menyiapkan rantai yang ada disana untuk mengikat tubuh Laura dengan cara membentang tangan dan kakinya.
Dan beberapa menit melakukannya, semuanya sudah di lakukan, dan kini tangan Laura di ikat dengan rantai dengan badan berdiri.
"Tatap aku Laura Patrice,"
Laura dengan mata sayu menatap Queen. "Lepaskan aku," ucap dengan suara lirih
"Melepaskan mu? Hmm....bisa saja. Tapi setelah aku puas membuat ku menjerit," ucap Queen dengan seringainya.
Nafas Laura memburu, ingin menampar dan membunuh Queen, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak, dan hanya bisa marah dalam hati.
"Oh ya, kamu ingin di siksa seperti apa hm...?" tanya Queen namun Laura diam dan membuat Queen kesal karena pertanyaannya selau tidak di jawab. "Bagaimana jika seperti ini?"
Srak.....
Satu goresan menggores pipi Laura hingga berhasil membuat Laura menjerit karwna merasakan sakit dan perih.
Argh....!
"Enak bukan?" tanya nya lagi dan menggores lagi pipi bagian sebelahnya.
Srak.....
Argh.....!
Queen menggores wajah Laura begitu banyak. membuat wajah itu penuh dengan darah.
Argh....
Teriak Laura sangat-sangat kesakitan.
Tubuh Laura semakin lemah karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.
Sedangkan Queen yang melihat Laura kesakitan tertawa keras, senang karena itu lah akibat berani mengganggunya.
"Hahahaha.......Ini sungguh menyenangkan," ucap Queen terus menggores wajah Laura dengan pisaunya.
Gavin yang ada di sana menelan ludah dehhan kasar melihat apa yang di lakukan Queen. Ia berjanji tidak akan pernah membuat Queen marah padanya karena takut Queen membunuh dan menyiksanya seperti halnya apa yang di lakukan pada Laura.
.
.
.
Bersambung