My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Ban 86, Laura dan Beno



Greb....


Beno memeluk pinggang Laura, menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Om, apa yang om lakukan?" tanyanya mencoba lepas dari pelukan itu.


"Kenapa? Apa kamu menolak om mu ini?"


"Lepas om," Laura memberontak, mendorong tubuh Beno. Namun Beno tidak melepaskan begitu saja, baginya di depannya ini adalah hal yang harus dicicipinya.


Beno tidak ingin menyia-nyiakan tubuh Laura yang menggoda. Laura yang datang, maka harus siap dengan konsekuensinya. Melayani nya dengan puas seperti yang di inginkan nya.


Niat ingin membantu tidak jadi, karena tahu siapa yang harus di hadapi. Laura melotot saat Beno berani padanya, pikirnya om nya tidak akan berani padanya. Ia merasa risih saat tangan itu menyentuh bagian pahanya.


"Om...."


"Apa?"


Tangan nya mulai nakal, mengelus dengan lembut paha tersebut.


Laura benar-benar tidak menyangka om nya melakukan itu padanya, apalagi saat dirinya tidak memakai pakaian, hanya handuk yang melilit saja.


"Lepaskan aku om. Om tidak boleh melakukan ini pada ku. Aku ini keponakan om," ucap Laura masih mencoba lepas.


"Keponakan? Apa kau yakin kau keponakan ku, em..?" ucapnya dengan senyum seringai.


Laura bingung dengan apa yang di katakan Beno, "Apa maksud om?"


Beno tidak menjawab, ia malah tersenyum aneh dan menarik handuk itu dengan kasar, melemparkannya ke sembarang arah.


"Om...."Pekik Laura mendorong dengan kuat tubuh Beno dan menutup dadanya dengan kedua tangan.


Beno yang melihat menyeringai dan melepas kemejanya dan melemparkannya ke lantai, berjalan mendekati tubuh polos Laura.


"Jangan mendekat om,"


Gerb.....


Beno tidak peduli dengan larangan tersebut. Naf sunya sudah memburu, tidak bisa menahannya kembali. Ia menari Laura dalam dekapannya dan mencium bibir itu dengan kasar.


Emm.....


Laura memberontak, memukul dada bidang Beno dan mencoba mendorongnya. Namun semua usaha sia-sia, Beno tetap tidak melepaskan Laura dalam pelukannya.


Tubuh polos yang menggoda itu membuat Beno benar-benar tidak tahan untuk menyentuhnya. Beno melu mat dan menye sap bibir itu dengan rakus, menjelajahi rongga mulut dengan lidahnya. Laura yang mendapatkan serangan itu masih saja memberontak, tidak ingin melakukan itu dengan omnya sendiri. Tapi lama kelamaan, Laura pun akhirnya terbuai dengan apa yang di lakukan Beno padanya. Sentuhan yang menjalar di tubuhnya membuat tubuhnya panas dan akhirnya pasrah, menikmati setiap sentuhan yang di lakukan Beno padanya.


Beno yang melihat Laura mulai membalas ciumannya, tersenyum kecil. Matanya menatap wajah cantik di depannya. Lidahnya masih membelit dengan lidah Laura yang mulai membalasnya.


Em....


Lenguh Laura mulai menikmati permainan itu. Tangan Beno tidak tinggal diam, mere mas dada itu dengan sedikit kasar membuat Laura mende sah karena nikmat.


Argh.....


Beno melepas ciumannya dan bibirnya turun di leher, menji latnya dan menyedapnya, membuat tanda merah di bagian leher putih itu.


Argh.....


De sah Laura merasakan gelayar aneh di tubuhnya. Walupun ini bukan kali pertama untuk Laura, tapi ia menikmati hal yang di lakukan Beno padanya.


Ah....ah....


De sah Laura keenakan.


Melihat Laura menikmati permainan nya, Beno menuntun tubuh polos itu keranjang dan mendorongnya hingga terjatuh. Beno mengukung tubuh Laura yabg ada di bawah, dan memulai kembali aksinya di atas ranjang, menjelajahi tubuh seksi yang mungkin saja sebentar lagi akan mati di tangan orang yang ingin membunuhnya.


Beno tidak ingin tubuh Laura mati sia-sia, sebelum wanita cantik di depannya mati dengan mengenaskan, ia harus merasakan dan menikmati tubuh itu lebih dulu dengan puas.


Beno mengarahkan tangannya dan mengelus sesuatu yang akan menjadi tempat bersemayamnya Joni nya. Dengan satu jari memainkan tempat yang mulai licin dan lembab itu. Memasukkan jari itu kedalam lubangnya.


"Argh.....Om...."


De sah Laura menikmati permainan Beno.


Tak hanya tangannya yang bermain, mulutnya juga ikut bermain di dada, terus menye sap dengan rakus.


Laura terus mende sah dan mele nguh menikmati hal tersebut. Ia mencengkram kepala Beno karena saking nikmatnya permainan tangan Beno.


"Argh...Om....Argh...."


"Apakah nikmat hm....?" tanya Beno masih dengan aksi nya, memasukkan dan mengeluarkan jarinya di bagian inti.


Argh....Argh....


Beno yang melihat Laura semakin basah, menarik tangannya dan itu membuat Laura sangat pusing saat hampir mencapai puncaknya. Wajah Laura terlihat kacau karena beni menghentikan aksinya.


Beno melepas celana nya dan terlihat jelas miliknya yang mengacung besar. Beno tidak langsung memasukkan miliknya, ia malah menelusup kan wajahnya di sela paha itu dan menji lat milik Laura dengan lidahnya, memasukkannya dengan dalam, membuat Laura berteriak nikmat sambil meremas rambut Beno, menekannya meminta semakin dalam. Dan akhirnya laura mencapai puncaknya, menge rang dan mele nguh panjang.


Argh.......


Nafasnya memburu saat mencapai puncaknya. Beno yang melihat puas. Dan dengan cepat mengarahkan joni nya yang besar, masuk kedalam lubang Laura yang basah.


Argh.....


Lenguh kedua menikmati. Beno merasa senang karena akhirnya nya bisa merasakan milik anak nya Arno, pria yang sangat di bencinya karena selalu menganggapnya tidak berguna kala itu. Beno mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, mengeluarkan dan memasukkan miliknya, menghentakkan dengan kuat dan cepat.


Argh....Argh....


De sah Laura seiring gerakan Beno yang mulai menggila. Tapi Laura bukannya marah, ia malah senang karena ternyata omnya sangat perkasa dalam bercinta.


"Om...Argh...."


"Ternyata kamu nikmat Laura, tidak sia-sia papa mu membuat mu dan akhirnya bisa membuat ku merasakan tubuh mu ini, Argh....." ucap Beno dengan pinggul masih menggoyang, menghentakkan nya dengan kuat.


Laura seakan tidak mendengar ucapan Beno, yang saat ini hanya ada nikmat, nikmat dan nikmat.


Suara de sahan, lengu han dan era ngan menggema di kamar itu, bahkan suara itu sampai terdengar di lantai bawah karena Beno tidak menutup pintu itu, membiarkan pintu itu terbuka lebar dan dapat memperlihatkan pergulatan mereka di atas ranjang.


.


.


.


Hihihi.......panas panas bikin panas.