
Gavin dan Tuan Ryan berterima kasih karena telah menolong keluarganya. Dan mereka pun pamit untuk kembali. Tapi dengan cepat di cegah oleh Chloe, yang sebenarnya berat berpisah dengan Davin dan Devan. Entah apa, tapi ia merasa tidak ingin mereka pergi dari sisinya.
"Apakah anda benar-benar akan pergi dan membawa Davin dan Devan?"
"Benar, nyonya."
"Tapi bukankah masih belum aman? Dan jika kalian membawa mereka kembali, bukankah akan membuat musuh anda senang. Dan mungkin saja mereka akan melakukan hal yang sama lagi," jelas Chloe membuat keluarganya menatapnya, bingung, tidak seperti biasanya Chloe akan seperti ini.
Gavin diam, berpikir tentang apa yang di katakan Chloe. Memang benar. Jika mereka tahu tentang Devan dan Davin, pasti mereka tidak akan melepaskan nya lagi. Tapi tidak mungkin mereka akan bersembunyi di balik keluarga Tesla, yang menurutnya nya juga sangat mengerikan. Mungkin banyak orang tidak mengetahui latar belakang Tesla, tapi ia tahu, terutama dengan wanita yang saat ini berbicara, putri dari sebuah kerajaan NAVOLEON, anak Tian Dominic yang di kenal kekejamannya saat masih muda. Bahkan membunuh adalah hal biasa.
"Kami akan mencari tempat yang aman nyonya. Anda tidak perlu khawatir, kami akan menjaga mereka dengan baik," jelas Gavin membuat Chloe pasrah akan keputusan ayah dari bocah itu.
Gavin dan lainnya akhirnya pergi meninggalkan Keluarga Tesla yang sebenarnya berat mengizinkan Devan dan Davin pergi. Mereka semua sudah menganggap mereka berdua layaknya cucu mereka. Dari hati kecil mereka, tidak ingin jauh dari dua bocah itu, dua bocah yang sebenarnya adalah bagian dari keluarga mereka.
Gavin membawa keluarga nya ke sebuah rumah yang tidak cukup besar. Tuan Ryan dan Nyonya Tania yang melihat rumah asing, bertanya. Rumah siapa itu.
"Vin, kamu mau membawa kita kemana?" tanya Tania pada putranya.
"Rumah baru kita ma."
"Rumah baru? Sejak kapan kamu membeli rumah?"
Belum lama setelah aku mengenal Queen. Sebenarnya rumah ini akan ku jadikan tempat tinggal untuk keluarga kecil ku dengan nya. Tapi karena kita dalam keadaan tidak baik, kita akan tinggal disini untuk menghindari anak buah badjingan itu,"
Tuan Ryan dan Nyonya Tania mengangguk, karena cukup bahaya untuk mereka kembali ke rumah sebelumnya.
.
.
Di kediaman Tesla, Chloe kembali tidak bersemangat. Baru saja dirinya merasakan kebahagiaan, kini ia kembali merasa kehilangan. Walaupun hanya satu hari bersama dengan Davin dan Devan, Chloe merasa begitu dekat. Ia berencana akan mencari tahu kenapa mata itu mirip dengan Daddynya, dan apa yang akan di lakukan nya tanpa sepengetahuan semuanya, termasuk Jaeden dan mertuanya.
"Aku harus mencari tahu," batin Chloe dan akan memberi perintah bawahannya untuk mencari tahu siapa ibu dari anak tersebut.
Mata yang mirip dengan Daddy Tian, jarang di miliki orang lain. Saat dirinya melihat mata milik Davin, ia berpikir mereka ada sesuatu dengan keluarganya.
"Selidiki siapa ibu dari anak Gavin Menzies,"
"Baik, nyonya." jawab bawahan itu langsung menyanggupi, karena tidak biasanya nyonya besarnya itu memberi perintah bawahannya.
Bawahan itu cukup senang karena nyonya nya memberi perintah langsung, dan ia akan menjalankan perintah itu dengan baik. Mencari tahu tentang anak Gavin Menzies.
Di Negara C kini Tristan dan Sevana berhasil bertemu dengan Queen. Mereka makan bersama di sebuah restoran ternama. Tristan terus memperhatikan Queen, menatapnya dengan intens.
Queen yang di tatap seperti itu tentu saja tidak senang. Ia memberi tatapan tajam dan dinginnya. Pikirnya, berani sekali pemuda itu menatapnya seperti itu. Sungguh ingin sekali mencongkel matanya.
Sevana yang melihat wajah Queen seperti tidak senang menyenggol lengan Tristan dengan sikunya. "Jangan menatapnya seperti itu?" bisiknya membuatnya sadar dan bersikap biasa.
Queen memutar bola matanya malas, pria mata keranjang pikirnya dalam hati.
"Maafkan dia, Queen. Dia memang seperti itu saat bertemu dengan orang asing." Queen hanya diam, tapi tidak percaya sedikitpun. Sudah jelas tatapan itu penuh selidik. Dasar Pria badjingan.
"Cabul," gumam Queen mampu di dengar Tristan
Tristan yang mendengar matanya mendelik. Apa tadi, cabul? Tidak terima, ia tidak terima di katakan pria cabul. Seorang pria yang saat ini memimpin kelompok mafia di katakan cabul. Tapi Tristan tidak bisa langsung menjawab, hanya bisa mengekspresikan dengan tatapannya yang semakin tajam.
"Hei, kita disini bukan ____" Belum juga Sevana selesai berbicara, Queen berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arah Tristan dan berkata.
"Lemah,"
Tristan mengepalkan tangan, sungguh keberanian yang sangat nyata.
Dua orang asing yang baru bertemu seperti tikus dan kucing, tidak akur. Keberanian keduanya membuatnya saling merendahkan. Namun entah kenapa keduanya nampak terhibur akan apa yang mereka lakukan, seolah itu adalah kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan. Dan apa yang terjadi membuat Sevana sakit kepala.
"Kenapa seperti ini?" batinnya mengusap wajahnya dengan kasar.
Sedangkan Tristan tersenyum menyeringai. "Lihat apa yang akan ku lakukan," batinnya memiliki rencana lain.
Queen tidak peduli dengan senyuman seringai Tristan, ia tahu pemuda itu akan melakukan sesuatu. Tapi jika pemuda itu berani padanya, akan di ladeninya.
.
.
.
Setelah makan malam bersama, Queen kembali menggunakan motornya. Sedangkan Sevana dan Tristan mengikutinya dari belakang. Queen tahu tapi membiarkannya saja.
Saat di pertengahan jalan, dua mobil menghentikan nya. Mereka menunggu kedatangan Queen. Queen yang melihat langsung berhenti, menatap orang yang keluar dari mobil. Tatapan Queen begitu dingin, dan tanpa ba-bi-bu, Queen mengeluarjam pistolnya dari balik celana, dan menembakkan nya tanpa aba-aba ke arah orang yang baru keluar dari mobil.
Door....
Door....
Tembakan itu berhasil membunuh beberapa diantara mereka dan membuat mereka terkejut.
"Jala-ng sialan! Tangkap wanita itu?" perintah seorang di antara mereka yang melihat temannya mati.
Queen turun dari motornya dan meremas kepalannya, siap melawan mereka semua. Tristan dan Sevana yang melihat saling pandang. Dalam hati, apakan ini wujud asli Queen, berani dan kejam.
Tristan terus memperhatikan. "Sifat yang sama dengan mommy. Aku harus pelan-pelan menyelidiki nya. Dan ku yakin dia adalah Kak Quesha."
Tristan tidak ingin buru-buru. Jika sampai dirinya ketahuan, pasti Queen akan mencincang tubuhnya, terbukti dari melihat Queen yang tak ada rasa takut dalam membunuh.
Baru beberapa menit melawan orang yang berani padanya, Queen kini berhasil membunuh mereka semuanya tanpa terkecuali. Dan setelah itu menghampiri mobil Tristan, mengetuk kaca jendela.
Tristan membukanya, dan Queen langsung memberj ancaman yang mematikan. "Jika aku ketahui kau memiliki niat lain, aku tidak akan segan untuk mencincang mu,"
Setelah berkata seperti itu, Queen meninggalkan semuanya, meninggalkan Tristan dan Sevana yang diam, tidak percaya.
.
.
.
Bersambung