My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 44, Keluarga Tesla



Tania, Davin dan Devan kini sudah tidak bisa menahan rasa lelah dan haus. Pandangan mereka perlahan berkunang-kunang dan akhirnya mereka pingsan bersamaan di pinggiran hutan tak jauh dari sebuah mansion yang sangat besar.


Seekor anjing yang berjaga bersama dengan penjaga lain di belakang mansion dan mencium aroma tubuh orang asing langsung menggonggong dan berlari ke arah bau itu. Dan beberapa pria penjaga langsung mengikuti arah larinya anjing mereka. Dan saat sampai di tempat anjing itu berhenti, mereka terkejut melihat tiga orang tergeletak tak sadarkan diri tak jauh dari kediaman tuannya.


Dalam pikiran mereka siapa wanita dan dua anak itu, kenapa bisa muncul dari arah hutan? Dan dengan cepat mereka menolong mereka bertiga yang wajah nya sudah pucat, membawanya ke halaman belakang tempat para maid bekerja. Mereka akan melaporkan hal ini kepada tuannya, takut apa yang mereka lakukan salah, dan ternyata adalah musuh dari keluarga tuannya.


"Minta Pak Wu untuk memberi tahu tuan dan nyonya tentang 3 orang ini,"


Seorang dari mereka mengangguk dan mencari kepala pelayan di mansion itu, mengabarkan jika mereka menemukan 3 orang tak di kenal. Pak Wu yang mendengar langsung melihat 3 orang tersebut, seorang wanita dan dua anak kecil.


"Siapa mereka?" tanya Pak Wu mendapat gelengan dari semuanya, tanda tidak mengenal siapa mereka.


Pak Wu langsung pergi dan menemui tuan dan nyonya mereka yang saat ini ada di ruang keluarga.


"Maaf tuan, nyonya," ucap Pak Wu meminta maaf sebelum bicara karena mengganggu waktu mereka.


"Ada apa?" tanya Jaeden, sedangkan Chloe dan mertuanya diam, mendengarkan apa yang akan di katakan Pak Wu.


Barusan para penjaga yang ada di belakang menemukan tiga orang yang tergelatak tak sadarkan diri di dekat hutan. Dan penjaga itu membawa orang tersebut kedalam mansion, mohon tuan dan nyonya melihatnya."


"Orang, siapa?"


"Saya tidak mengenal mereka, nyonya," jawab Pak Wu sedikit menunduk, takut apa yang di lakukan nya salah karena membawa orang asing masuk kedalam Mansion.


"Dimana orang itu?"


Mereka ada di halaman belakang, tempat para maid Tuan."


"Antarkan kami melihat,"


Pak Wu mempersilahkan, ia tetap menunduk dan berjalan mengikuti tuannya.


Jaeden, Chloe, Affandra dan Annora kini pergi ke tempat para maid beristirahat, ingin melihat siapa orang tersebut. Saat sampai disana, mereka langsung menuju tempat dimana Tania, Davin dan Devan masih tak sadarkan diri dari pingsannya.


"Tuan, ini mereka," tunjuk pak Wu pada wanita yang tak lagi muda dan dua anak kecil yang begitu tampan.


Semuanya menatap tiga manusia yang berbaring di ranjang, keningnya berkerut melihat satu orang di kenalnya. "Bukankah dia Tania Menzies?" ucap Affandra dan di angguki semuanya. "Kenapa dia sampai seperti ini? Cepat panggil dokter, minta untuknya segera datang," perintahnya dan Pak Wu pun langsung menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa keadaan orang yang di kenal tuannya.


Tak lama dokter itu pun sampai dan memeriksa keadaan mereka. Setelah selesai dokter itupun memberikan obat dan berpamitan karena masih ada urusan yang harus di lakukan. Lima belas menit kemudian, Tania sadar. Ia mereka pusing dan haus.


"Minum," gumamnya lirih dan dengan cepat seorang maid memberikan gelas berisikan air putih dan membantunya untuk minum.


Setelah rasa haus itu hilang, pikirannya teringat dengan kedua cucunya tanpa memperdulikan banyak pasang mata memperhatikan nya.


Jaeden, Affandra dan lainnya yang mendengar Tania mencari cucunya saling pandang. Sejak kapan Keluarga Menzies memiliki cucu? Mereka tidak mendengar jika putra dari Ryan Menzies menikah, bahkan keluarga Tesla pun belum di undang dalam acara tersebut.


Tania yang melihat cucunya ada di sampingnya merasa lega. "Syukurlah kalian baik-baik saja. Oma sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan kalian," usap nya pada wajah kedua cucunya.


Affandra yang melihat Tania tetap tidak menyadari keberadaan semuanya berdehem, dan membuat Tania langsung menoleh, melihat banyak orang memperhatikannya.


"Tuan Affandra," ucap Tania terkejut karena melihat keluarga Tesla ada di depannya.


Annora menghampiri dan duduk di samping Tania, meraih tangan keriput itu dan menepuknya pelan. "Apa yang terjadi?" tanyanya ingin tahu kenapa bisa nyonya kelauarga Menzies sampai seperti ini.


Sebelum menjawab, ia menatap kedua cucunya. berpikir kenapa cucunya belum sadarkan juga. Jaeden yang melihat kekhawatiran Nyonya Tania berkata, "Jangan khawatir mereka anak baik-baik saja. Kami sudah meminta dokter untuk memeriksanya," jelasnya membuat Tania lega.


Setelah merasa lebih baik. Annora membawa Tania untuk pindah di kamar ruang tamu, tak lupa juga meminta dua maid untuk membawa Devan dan Davin beristirahat ke tempat yang lebih nyaman. Dan kini semuanya ada di depan Tania, meminta penjelasan tentang apa yang terjadi


"Ceritalah," pinta Annora dan Tania pun menceritakan semuanya. Mengatakan bahwa ada sekelompok orang bersenjata datang ke kediaman nya dan ingin membawa dua cucunya. Demi melindungi dua cucunya, Tania membawa kabur mereka berdua dan meningalkan suaminya disana, yang sekarang entah masih hidup atau tidak.


"Siapa mereka?" Tanya Affandra dan Tania menggeleng, tidak mengenal kelompok itu. Dalam benak mereka semua bertanya-tanya, kenapa orang-orang itu menginginkan dua bocah tampan itu?


Saat mereka berbincang-bincang, lenguhan bocah itu terdengar di telinga semuanya. Matanya perlahan terbuka. Dan terlihat jelas wajah kedua nya sangat-sangat lah tampan.


Chloe yang melihat langsung menghampiri dan duduk di samping Davin dan Devan yang bingung melihat orang asing ada di depannya.


"Siapa anda?" tanya Davin yang menunjukkan wajah dinginnya dan tatapan tajam. Chloe dan Jaeden serta Affandra dan Annora yang melihat tatapan serta mata anak itu mengerutkan kening, seperti mengenal tatapan tajam itu. Tian Dominic. Ayah, mertua serta besan mereka.


"Kenapa tatapan itu seperti Daddy?" batin Jaeden dan Chloe yang sering melihat Tian dalam mode menyeramkan.


"Tatapan itu seperti besan," batin Affandra dan Annora yang tidak mengalihkan pandangan nya dari Davin.


Tania yang melihat semuanya diam karena pertanyaan cucunya, memperingati Davin untuk lebih sopan. "Sayang jangan berikan tatapan seperti itu pada mereka. Mereka adalah orang yang menolong kita. Sekarang ucapkan terimakasih kepada mereka.


"Maaf, dan terima kasih," ucap Davin masih waspada, takut jika mereka semua adalah orang yang ingin menyakiti mereka bertiga. Lain dengan Devan, ia memberikan senyuman manisnya dan mengucapkan terimakasih dengan benar. Membuat semuanya tersenyum. Sungguh kepribadian yang berbeda.


.


.


.


Bersambung