My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 3. My Mom Is My Super Hero



Bab 3. MMIMSH


Keesokan harinya, Queen berjalan dengan santai, seolah tidak tahu bahwa ada orang yang membuntuti secara diam-diam. Ia bersiul sambil bernyanyi. Sampai di tempat sepi, ia masuk ke sebuah gang dan bersembunyi. Dua pria yang mengikuti, mengejar. Mencari keberadaan Queen yang tiba-tiba menghilang.


"Kemana wanita itu?"


"Lebih baik cepat temukan wanita itu dan bunuh dia. Buat dia menyesal karena telah membuat tuan, marah," satu temannya mengangguk, mencari keberadaan Queen.


Queen yang bersembunyi dan mendengar apa yang dikatakan mereka, diam dengan kening berkerut. "Tuan? Siapa tuan yang mereka maksud," batinnya berpikir, perasaan dirinya tidak memiliki musuh. Atau mungkin itu adalah pelaku yang pernah membunuh tubuh yang ditempatinya. Jika itu benar, ini sungguh sangat berbahaya. Ia tidak boleh diam, dan harus secepatnya bertindak.


Demi mendapatkan informasi tentang 'tuan' yang dimaksud dua pria itu, Queen muncul di hadapan mereka dengan wajah dinginnya. Sambil meremas kepalanya yang kini bergemeretak. Dua pria yang melihat Queen muncul di hadapannya tersenyum menyeringai.


Akhirnya kau muncul juga, jala-ng," ucap seorang pria yang sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran pada Queen.


Queen dengan santai berdiri di depan mereka. Bersedekap dada dengan senyum mengejek. "Tentu saja, karena aku tidak sabar ingin memukul wajah butut kalian ini," ucapnya membuat dua pria itu mengeraskan rahang, marah dengan ucapan Queen yang ingin memukulnya.


Tanpa basa-basi, mereka berdua pun maju menyerang Queen. Queen pun dengan santai menghalau serangan itu dengan tangan kosong, menangkis setiap pukulan dan tendangan begitu mudah. Hingga senyum terbit di bibirnya saat ada kesempatan meninju wajah mereka.


Bugh…..


Pria itu terpukul mundur, sambil tangannya mengusap wajah nya yang terasa nyeri.


"Sialan!" Umpatnya marah saat ada darah keluar dari hidungnya.


"Mau coba lagi? Sini, maju, hadapi aku. Akan ku buat wajah kalian berubah menjadi babi," Queen menantang, membuat mereka ingin secepatnya membunuh wanita di depannya.


Dan pertarungan pun kembali terjadi. Queen masih bisa memimpin pertarungan itu, memukul dan menendang mereka. Menghajar dengan membabi buta.


"Rasakan ini,"


Bugh…..bugh….bugh….


Setelah puas menghajar dua pria itu, kini Queen mengikat tubuh mereka di tempat itu juga. Dan melihat dua pria itu tak kunjung sadar, ia menyiram air di wajah mereka. Beruntung ada air di dalam wadah kotor, membuat nya mudah membangunkan mereka.


Byuur 


Dalam sekejap dua pria itu langsung sadar saat merasakan dingin menyentuh kulit mereka.


"Kau..!" Marah nya saat tahu siapa pelakunya. 


"Kenapa? Mau ku congkel matamu? Beraninya menatapku seperti itu," kesalnya dan berjongkok, mencengkram wajah mereka dengan kuat karena berani memberikan tatapan yang membuat Queen kesal.


"Dasar wanita jala-ng! Lepaskan kamu," marahnya karena wanita di depannya singgung berani.


"Hohoho…melepaskanmu? Enak saja. Belum juga aku puas, beraninya kalian meminta ku melepaskan," ucapnya dan mencari benda yang dapat digunakan untuk menyiksa mereka. Saat menemukan sebuah benda yang bisa digunakan, Queen mengambilnya. Dan setelah itu memukul-mukulkan nya dengan pelan di telapak tangannya membuat dua pria itu menelan ludah, tahu apa yang akan dilakukan wanita mengerikan itu.


"Mau apa kau! Buang benda itu, dan jangan mendekat," 


Queen yang mendengar tersenyum menyeringai, dan tetap mendekati mereka. Tiba-tiba tongkat besi itu melayang ke kaki mereka membuat mereka menjerit sekuatnya, merasakan sakit yang amat sangat.


Argh…..!


"Katakan, siapa yang menyuruh kalian," bentaknya dengan nada mengerikan.


Bukannya menjawab, mereka kembali berteriak saat bagian tubuh lain dipukul dengan keras oleh tongkat besi.


"Cepat katakan!" Perintahnya dengan tatapan yang seperti Dewi pembunuh. 


Dua pria yang kini sudah tidak berdaya, dengan suara lirih ia mengucapkan sebuah kata. "Leonard,"


"Leonard, siapa dia?" Gumamnya saat menuju tempat kerjanya. 


.


.


.


Setelah kejadian dirinya membunuh dua pria yang menguntitnya, kini tidak ada lagi orang yang membuntuti atau mengawasinya. Dan setelah sebulan berlalu, ini waktunya Queen memasukkan kedua putra ke sekolah. Dan saat ini untuk pertamanya mereka akan masuk sekolah. 


"Hari ini hari pertama kalian masuk sekolah. Mommy harap kalian jangan membuat masalah, terutama kamu Davin," ucapnya memperingati putra pertamanya yang mungkin saja akan membuat ulah di sekolahan karena sikapnya.


"Kenapa hanya aku yang Mommy peringati? Kenapa Devan tidak?" Protesnya tidak terima karena hanya dirinya yang diperingati


Karena Devan lebih penurut. Sedangkan kau sering kali membantah. Dan oh ya, jangan pernah tunjukkan wajah datar dan dingin mu itu. Mommy takut kau tidak akan punya teman disana,"


"Wajah wajah ku, jadi terserah aku," gumamnya dengan suara lirih, tapi masih dapat didengar oleh Queen.


"Apa yang kau katakan?" Tatapnya dengan bersedekap dada menatap permusuhan putranya itu.


"Tidak ada, mommy salah dengar saja," jawabnya dengan santai. "Lebih baik cepat berangkat. Aku tidak ingin jalan kaki," sambungnya meninggalkan adik dan Mommynya yang mendengus kesal.


Devan yang melihat mommy nya kesal terhadap kakaknya menenangkan. "Mom, sudahlah. Kakak memang seperti itu, jadi jangan di pedulikan," 


"Kamu memang yang terbaik," elusnya dengan senyum manis. Dan setelah itu menyusul Davin yang sudah lebih dulu pergi.


.


.


Setelah sampai, Queen tak henti-hentinya menasehati putranya untuk berperilaku baik dan jangan membuat masalah. Dan semua peringatan itu benar-benar membuat telinga Davin dan Devan berdengung, kesal.


"Mom, lebih baik mommy cepat berangkat. Kami akan segera masuk," usir Devan dengan lembut tidak ingin melihat kakaknya kesal dan berakhir cekcok dengan Mommynya. 


"Baiklah, tapi ingat pesan mommy tadi."


Devan mengangguk dan setelah itu Queen pergi meninggalkan mereka. Namun sebelum pergi, Queen memberikan kecupan sayang kepada kedua putranya, dan hilang dari pandangan mereka.


Waktu menunjukkan jam anak sekolah pulang. Queen yang bekerja meminta izin untuk menjemput putranya sebentar karena ini hari pertama mereka sekolah. Dan ia pun mendapatkan izin dari bosnya. Dan setelah menempuh perjalanan yang sedikit jauh, Queen akhirnya sampai. Namun apa yang dilihatnya membuatnya sangat-sangat terkejut. Dua putranya yang berjalan sendiri di tepi jalan, kini mencoba diculik oleh seseorang. 


Queen yang berada sedikit jauh dari mereka berlari dengan kencang dan menendang punggung mereka saat mereka hendak membawa Davin dan Devan.


Bugh….


"Lepaskan putra ku," marahnya saat ada yang ingin menyakiti kedua anaknya.


"Cih, hanya seorang wanita saja sok belagu," usapnya pada punggung yang ditendang Queen.


"Hajar wanita itu dan bawa kedua anak ini. Kita harus secepatnya nya menyelesaikan tugas kita," perintah seorang pada rekannya. 


Beberapa pria pun maju untuk menyerang Queen. Sedangkan Queen yang memang handal dalam bertarung dengan mudah mengatasi mereka yang tidak bersenjata itu. Bermodalkan tenaga ia mampu menjatuhkan beberapa pria yang kini tergeletak tak berdaya. 


Davin dan Devan yang melihat mommy nya berkelahi dengan lihai, terkagum-kagum. Mata mereka seolah bercahaya menyaksikan adegan pertarungan itu. Dan membuat mereka mengatakan sesuatu yang menurutnya sangat keren.


"My Mom Is My Super Hero"


Dan setelah bertarung dengan semuanya cukup lama, akhirnya Queen bisa mengalahkan mereka semua dan menyelamatkan kedua putranya.