My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 36, Kebencian Laura.



Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Gavin membawa Queen pulang. Saat mereka sampai di rumah Queen, dua pasang mata memperhatikan mereka. Mereka berdua adalah King dan Laura yang saat ini berada di dalam mobil, tak jauh dari rumah Queen.


Laura memukul stir mobil, marah melihat kedekatan mereka.


"Dasar ja-lang sialan! Awas saja kau!"


Sedangkan King yang melihat mereka datang langsung bergegas menghampiri, ingin tahu keadaan Queen.


Gavin dan Queen yang tidak mengenal King tentu saja bertanya-tanya tentang pria tua yang saat ini di depannya.


"Siapa anda?" Tanya Gavin waspada, takut pria tua itu tidak memiliki niat baik.


"Aku, tetangga baru nya, nama ku Albern. Rumah ku di sebelah sana," tunjuknya pada rumahnya yang ada di samping Queen.


Queen mengangguk, tahu jika rumah di sampingnya telah berpenghuni. Hanya saja ia memang belum mengetahui siapa pemiliknya. Dan ternyata itu seorang pria tua yang kini ada di hadapannya.


"Oh, jadi anda tetangga baru. Kalau begitu silahkan masuk," ucap Gavin mempersilahkan.


Mereka bertiga pun masuk dan duduk di ruang tamu yang berukuran sedang. Gavin mengambil kan minum untuk King, dan mempersilahkan.


"Maaf, hanya ada air putih saja,"


"Tidak masalah," jawabnya tersenyum. "Oh ya, aku dengar kamu baru pulang dari rumah sakit. Apakah sekarang sudah baikan?" Queen mengangguk, mengatakan bahwa dirinya sudah lebih baik.


Setelah mengobrol cukup lama, king kembali kerumahnya. Ia senang cucunya sudah sehat kembali. Namun ia tetap tidak tenang, Arno dan putrinya pasti akan menyakiti Queen lagi. Tapi untuk saat ini ia akan diam dulu, sampai menunggu mereka bergerak lagi. Jika mereka kembali menyakiti Queen, king siap menghancurkan markas ZAPATA yang ada di negara J.


.


.


Arno kini sedang menghubungi bawahannya, menginformasikan tentang kelompok yang membantu Queen saat itu.


"Tuan, kelompok itu adalah anggota Mafia GEROGRE LORIDZ, mereka di sewa oleh Tuan Gavin untuk membantu wanita itu" jelas bawahan itu telah menyelidiki.


"Mafia GEROGRE LORIDZ?" Gumamnya tidak percaya jika Gavin menyewa kelompok mafia besar itu. "Apa kau yakin?" tanyanya memastikan.


"Yakin Tuan, saya sudah menyelidiki dengan akurat,"


"Baiklah," ucapnya menghela nafas, "Jika wanita itu dilindungi oleh kelompok itu, akan susah untuk kita membunuh nya."


"Benar tuan, dan sepertinya kita harus menunda dan merencanakan rencana yang baik agar berhasil membunuh wanita itu,"


Arno mengangguk, membenarkan ucapan bawahannya. Arno kini meminta anak buahnya itu untuk menyelidiki hal lain, tentang kelompok besar yang menghancurkan markasnya. "Oh ya, jangan lupa cari tahu soal kelompok yang menghancurkan markas ku,"


Arno akan menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan wanita yang di benci putrinya. Tangannya terkepal, marah. "Tunggu saja kau wanita sialan! Akan ku buat kau menderita setelah ini," Gumamnya membayangkan wajah Queen.


Arno saat memikirkan Queen, tiba-tiba teringat dengan Gavin dan keluarga nya yang nampak anteng-anteng saja setelah Gavin menolak Laura mentah-mentah. Tidak mendengar kemarahan Tuan Ryan sama sekali.


"Kenapa Ryan tidak memohon dan meminta maaf pada ku setelah apa yang di lakukan putranya itu? Sebenarnya ada apa?" gumamnya bingung. Jika biasanya Gavin berulah dan mencoba menolak Laura, Tuan Ryan pasti akan berbicara padanya dan meminta maaf tentang perlakuan Gavin, tapi untuk saat ini tidak sama sekali. Arno pun penasaran, ia meminta seorang anak buahnya yang lain untuk mencari tahu apa yang terjadi di kediaman Menzies. Dan bawahan itu pun langsung mencari tahu.


Bawahannya yang ada di Negara J langsung menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di kediaman Menzies. Dan saat dirinya memantau tak jauh dari kediaman tersebut, kebetulan Tuan Ryan dan Nyonya Tania hendak pergi. Dan saat mobil itu melewatinya terlihat dua anak laki-laki bersama mereka. Orang itupun memotret nya dan langsung mengirimkan kepada tuannya.


Arno yang melihat Ryan dan Tania bersama dengan dua bocah laki-laki, mengerutkan kening. Bingung siapa dua anak itu. Laura yang baru pulang dari mengawasi Gavin dan Queen, duduk dengan muka cemberut. Kesal karana Queen tidak mati.


"Pa, kenapa wanita tidak mati? Bukankah papa mengatakan akan membunuhnya?"


Papa sudah melakukannya dan memerintah anak bua papa untuk membunuhnya, tapi sialnya ada yang membantunya. Gavin, dia menyewa sekelompok Mafia untuk melindungi wanita itu dan membunuh anak buah papa. Dan apa kau tahu, malam keesokan harinya markas papa yang ada di negara ini hancur dan semua anak buah papa mati. Papa tidak tahu siapa pelakunya, tapi menurut papa orang yang menyuruhnya adalah orang yang di sewa Gavin," jelas Arno panjang.


Laura yang mendengar terkejut, "Hancur? Bagaimana mana bisa? Kelompok ayahnya adalah mafia yang cukup terlatih, bagaimana bisa dengan mudah di kalahkan oleh kelompok itu? Mungkinkah kelompok itu adalah kelompok yang memiliki kekuatan lebih dari mafia ayahnya?


"Siapa yang berani menghancurkannya?"


"Dari informasi anak buah papa, kelompok yang di sewa itu adalah Mafia GEROGRE LORIDZ,"


"Mafia GEROGRE LORIDZ?"


"Ya, mafia itu di pimpin oleh Chloe Dominic, putri dari Raja Tian Dominic dari Negara N. Dan saat ini di ambil alih oleh Tristan, anak Chloe dan Jaeden dari keluarga Tesla."


"Keluarga Tesla, maksud papa keluarga nomor 1 di Negara J?"


"Ya, dan jika benar yang menghancurkan markas papa adalah mereka, kita tidak bisa berbuat lebih. Dan hanya bisa pasrah mengalami kekalahan."


Mendengar hal itu Laura tidak terima. Apapun yang terjadi ia tidak akan menyerah. Ia tidak ingin Gavin dan wanita itu bahagia. Akan di lakukan apapun itu, termasuk membunuh mereka dengan tangannya sendiri.


"Aku tidak terima pa, aku tidak mau kalah. Apapun yang terjadi mereka tidak boleh bahagia. Dan mereka harus merasakan apa yang kurasakan. Dan ku pastikan mereka akan menderita bahkan mati di tangan ku,"


Arno hanya diam melihat kebencian putrinya terhadap Gavin dan Queen. Ia berharap apa yang akan di lakukan putrinya dan dirinya tidak membawa dampak buruk untuk keluarganya.


.


.


.


Bersambung